Fikih dan Kearifan Lokal; Pijakan Dakwah yang Ramah Kebudayaan

Fikih dan Kearifan Lokal; Pijakan Dakwah yang Ramah Kebudayaan

- in Suara Kita
198
0

Memandang kearifan lokal bukan sesuatu yang baru dalam agama Islam. Ajaran Islam yang dituangkan dalam ushul fikih banyak membicarakan penerapan syariat yang mengakomodasi budaya. Melanjutkan tradisi yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal ajaran agama Islam.

Dalam ushul fikih dikenal istilah ‘urf, yakni istiadat yang telah dikenal dan berlaku di suatu komunitas masyarakat, yang khas dan berkaitan dengan kemaslahatan lokal. Istiadat seperti itu, selama kemaslahatannya tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam diakomodir dan diadopsi menjadi bagian dari fikih. Banyak sekali contohnya.

Sebagai respon terhadap kearifan lokal ada juga kaidah al ma’ruf ‘urfan ka al masyrut syartan, hal baik yang telah dikenal dan telah mentradisi diterima seperti halnya syarat. Ada juga kaidah al tsabit bi al dalalati al ‘urfi ka al tsabit bi al dalalati al nash, yang ditetapkan berdasarkan indikasi ‘urf statusnya sama dengan yang ditetapkan berdasarkan petunjuk nash.

Kaidah-kaidah tersebut kemudian dijadikan pijakan nalar fikih atau hukum Islam. Sesuatu yang telah dikenal dan telah mentradisi atau kearifan lokal suatu masyarakat tidak perlu dihilangkan, cukup melanjutkannya bahkan melanggengkannya karena memang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Pada ranah dakwah hal demikian terbukti menjadi sangat efektif menarik simpati orang untuk masuk memeluk agama Islam. Seperti dakwah wali songo yang mampu menarik simpati sehingga berduyun-duyun masyarakat waktu itu untuk memeluk agama Islam. Hal ini karena para wali songo menguasai ilmu agama secara sempurna. Sebab dakwah “bil hikmah” hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki pengetahuan agama yang luas. Termasuk bagaimana cara memandang dan memperlakukan kearifan lokal.

Dakwah yang Ramah Kearifan Lokal

Satu hal yang harus diperhatikan serius, dakwah adalah mengajak bukan menginjak, merangkul bukan memukul, menarik simpati dan bukan caci maki. Ini model dakwah Rasulullah. Untuk mencapai tingkat mubaligh dengan kapasitas seperti ini tidak ada cara lain kecuali memiliki pengetahuan agama yang sempurna. Kalau tidak, yang terjadi akan sebaliknya. Berdakwah dengan caci maki, menginjak dan memukul. Dan, seperti ini sangat dilarang.

Pada setiap jiwa umat Islam semestinya tertanam kesadaran: apa yang dilarang oleh agama yang dipraktekkan penganut agama lain bukan berarti harus dimusuhi. Tapi diarahkan dan dirubah secara perlahan. Karena itu, menendang sesajen bukan akhlak yang baik karena agama Islam sendiri tidak memerintahkan untuk memaksa orang lain menganut agama Islam.

Kita, umat Islam, harus belajar menghormati perbedaan. Yang perlu ditampilkan bukan keengganan untuk menerima perbedaan, apalagi dengan mencaci dan mengkafirkan, tetapi akhlak; keluhuran budi dan kesantunan. Hal ini yang bisa menarik simpati. Orang-orang akan menyadari keluhuran agama Islam dan dengan sendirinya akan tertarik untuk menjadi penganut agama Islam.

Kembali pada kearifan lokal, ia bukan sesuatu yang harus ditumpas, melainkan untuk dipahami kekuatan strategisnya, diberdayakan dan dicari kamaslahatannya. Kalau kemaslahatan tersebut sejalan dengan ajaran Islam cukup dilanjut saja. Strategi semacam ini yang dilakukan oleh pendakwah di Nusantara era wali songo. Memanfaatkan kearifan lokal sebagai media dakwah.

Memang demikian semestinya, seorang pendakwah tidak boleh “kekeringan intelektualisme dan spiritualisme”. Seirama antara perkataan dan perbuatan, akhlaknya bagus, ibadahnya mantap, dan pengetahuan agamanya top. Ini syarat mutlak menuju dakwah “bil hikmah”. Dakwah yang santun dan menuntun.

Kearifan lokal merupakan penjelmaan dari identitas suatu masyarakat. Dan, perlu diingat, keberadaannya sangat dihargai oleh agama Islam dengan pernyataannya “Seandainya semua manusia dikehendaki untuk muslim seluruhnya sangat mudah”. Karena itu, Islam tidak pernah mempersoalkan soal pakaian, ia hanya berbicara aurat yang harus ditutupi. Tidak pula terlalu serius berbicara tentang model bangunan masjid atau mushalla. Bercorak Arab atau tidak bukan persoalan.

Islam adalah agama rahmatan lil’alamin. Hadir untuk menyelamatkan, menentramkan, mengayomi dan mengasihi. Kalau seseorang belum memeluk agama Islam dan melakukan praktik keagamaan yang bertentangan dengan ajaran Islam, bukan berarti harus dimusuhi apalagi membasmi secara kasar. Dicari celah kemaslahatannya, disitu secara perlahan ajaran Islam dimasukkan. Mereka akan merasa sangat dihargai dan dihormati. Selanjutnya, tinggal menunggu hidayah Tuhan sebagai penentu.

Dakwah dengan metode ini bukan hanya dianjurkan dan diajarkan Nabi, tapi dalam konteks suatu bangsa yang penduduknya multi; agama, etnis, suku dan seterusnya, akan mempererat persaudaraan kebangsaan, kuatnya persatuan, dan secara otomatis negara aman dan damai.

Dalam konteks bernegara, Islam sangat mengutamakan perdamaian, persaudaraan, saling menghormati, saling mengasihi, dan membenci permusuhan. Tuangan Piagam Madinah yang diinisiasi oleh Rasulullah sebagai payung hukum negara Madinah adalah keniscayaan yang tidak bisa dibantah. Semua masyarakat dari latar agama dan suku apapun memiliki hak yang sama sebagai warga negara.

Beginilah Islam memandang kearifan lokal. Dengan prinsip “yang tidak bertentangan dengan agama Islam dilanjutkan dan yang berbeda tidak harus dibenci”.

Facebook Comments