Filisofi Kurban

Filisofi Kurban

- in Suara Kita
317
1

Tanggal 11 Agustus 2019, Umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha 1440 H. Karena itu, sudah seharusnya umat Islam mampu merefleksikan secara kritis-filosofis dan komprehensif tentang makna kurban sehingga ibadah kurban yang dilakukan umat Islam mempunyai nilai yang berarti (meaningful) dalam dirinya.

Dalam bahasa Arab, kurban berasal dari kata qarraba yang berarti ‘mendekatkan diri’. Secara khusus, ibadah qurban berarti penyembelihan hewan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam konteks ini, ibadah kurban bukan hanya sebatas ritual penyembelihan qurban yang dimulai sejak 10 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah, tetapi juga penuh dengan pesan sosial.

Dr. Ahmad Zaki Yamani dalam Al-Asysyari’ah al-Khali­dah wa Musykilah al-‘As­hr menjelaskan bahwa nyaris semua ibadah dalam Islam tidak dapat dilepaskan dari efek sosialnya. Karena itu, Hari Raya Kurban seyogyanya menjadi momen yang tepat bagi segenap anak bangsa untuk melakukan refleksi diri (muhasabah bi nafsihi) guna melakukan langkah-langkah konstruktif dalam rehabilitasi aspek batin dan aspek sosial.

Menurut penelitian antropolog, tradisi berkurban atau menyembelih hewan juga berkembang dalam masyarakat selain islam, meskipun dengan tujuan beragam. Ada yang meyakininya sebagai bentuk suguhan (bribe) atau persembahan (offerings) kepada Tuhan agar Tuhan tidak marah dan murka. Ada juga yang meyakini sebagai tambahan kekuatan yang diperuntukkan bagi dewa dan dirinya.

Pada zaman paleolithic, dalam masyarakat primitif di Asia dan Afrika, dan masyarakat maju Jepang telah dijumpai praktik berqurban hewan. Dalam masyarakat Yunani Kuno juga dikenal istilah Hierieia (ouranic god) dan Shagia (othonic god) yang merupakan persembahan hewan qurban. Di kalangan umat Hindu dikenal juga qurban hewan yang pelaksanaannya diawasi kaum Brahmana. Akan tetapi, pada dasarnya ibadah kurban adalah bentuk ibadah yang tidak dapat disamakan dengan ritual persembahan pada agama lain, karena memiliki makna legitimasi spiritual yang amat mendalam.

Baca Juga : Idul Kurban: Mengorbankan Naluri Kekerasan dan Mengobarkan Kasih Sayang

Pertama, sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT. Kewajiban pelaksanaan ibadah kurban tidak lain dimaksudkan sebagai ungkapan syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan Allah kepada hamba-Nya yang beriman dan berislam (QS. Al Kautsar: 1-3).

Kedua, sebagai suguhan simpati dan cinta kepada kaum lemah (fakir miskin). Dalam penyembelihan qurban, daging hewan qurban tersebut merupakan hak pelaku kurban itu sendiri dan orang-orang miskin di sekitarnya (QS al-Hajj: 28).

Hanya saja, kebutuhan fakir miskin tidak hanya sekarat daging kurban santunan (karitatif). Karena itu, komitmen sosial kepada kaum fakir miskin ini seyogyanya tidak hanya berlangsung di hari Idul Qurban, tetapi dimanifestasikan dalam wujud kepedulian, motivasi, dan pemberian terhadap kaum lemah secara tulus dalam kehidupan sehari-hari guna membangun masa depan berarti. Sikap simpati terhadap kaum lemah ini akan berperan dalam meneguhkan wujud kesalehan sosial. Sehingga internalisasi teologi transformatif, dimana kebenaran agama terletak pada komitmen solidaritas kemanusiaan dan emansipasi sosial yang dianut oleh pemeluknya, akan tercipta.

Dalam konteks tersebut, sejatinya bukan hanya perbedaan kasta sosial yang harus dipinggirkan dengan saling tolong-menolong, tetapi perilaku bengis yang tidak mencerminkan solidaritas sosial sesama manusia. Maka itu, sejatinya hari raya kurban mengajarkan kita untuk menghindari segala bentuk perilaku yang mencerminkan kebencian seperti saling mencaci, menyalahkan orang yang berbeda keyakinan, berkelahi, dan menyebarkan hoaks di media sosial. Kita harus menjadi pribadi yang mengedepankan persatuan dan kesatuan, serta perdamaian dan kedamaian, daripada tindakan intoleran yang mencerminkan sikap radikal.

Ketiga, sebagai simbol ketersediaan kita melawan dan mengenyahkan segala sesuatu yang akan menjauhkan diri kita dari Allah SWT. Kurban merefleksikan kemerdekaan kita melawan nafsu kita sendiri. Kurban menjadi representasi pembebasan diri dari segala bentuk egoisme diri yang seringkali disalahgunakan. Keteladanan Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya Nabi Ismail mengajar­kan bahwa keberhasilan untuk mencapai puncak keinsafan tauhid berkorelasi linear dengan kesanggupan seseorang dalam menundukkan kekuatan rasio­nal dan membebaskan diri dari tipuan pengalaman-pengalaman indrawi.

Inilah makna yang dapat dipahami dari perayaan ibadah kurban. Ritual setahun sekali ini bukan hanya mengajarkan manusia mendekatkan diri kepada Tuhan tanpa peduli sesama. Justru ritual ini mengajarkan bahwa manusia tidak akan dekat kepada Tuhan, apabila ia tidak peduli terhadap sesama. Oleh sebab itu, makna dan hikmah yang diambil dari perayaan ibadah kurban seyogyanya juga dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan senantiasa bersyukur, berbuat baik kepada siapapun, serta tidak melanggar segala perintah-perintah Allah Swt. Tanpa itu, ritual kurban hanya akan menjadi sia-sia belaka. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Facebook Comments