Filosofi Lebaran dan Momentum Kembali Fitri

Filosofi Lebaran dan Momentum Kembali Fitri

- in Suara Kita
259
2
Filosofi Lebaran dan Momentum Kembali Fitri

Ramadan sebagai bulan penuh berkah, dengan segalakeistimewaannya telah memasuki sepuluh hari yang terakhir. Segala macam bentuk tradisi yang hanya muncul saat bulan Ramadan pun tinggal beberapa hari lagi saja untuk kita jumpai. Oleh karenanya tiada pilihan lain untuk benar-benar memanfaatkan momentum sepuluh hari terakhir bulan Ramadan ini semaksimal mungkin. Sebab kita semua pasca Ramadan ini akan memasuki sebuah hari kemenangan yaitu hari raya Idul fitri. Tentunya bekal-bekal kebaikan yang telah kita lakukan dibulan Ramadanmenjadi sebuah hal yang tak terpisahkan untuk menjadi fitri di hari kemenangan nanti.

Mampu menjadi pribadi yang fitri adalah dambaan bagi setiap individu setelah satu bulan penuh melaksanakan puasa Ramadan. Tak hanya puasa Ramadan saja, segala bentuk ibadah yang lain pun turut dilakukan untuk mencapai diri yang fitri. Tak kalah penting bahwa fitri yang dimaksud bukan hanya sebatas persoalan pribadi atau individu saja, melainkan juga secara sosial. Ini menjadi sangat penting diingat bahwa kualitas secara individu tidak akan ada artinya sama sekali jika tidak diimbangi dengan kebaikan secara sosial. Bahkan sudah semestinya kualitas individu akan menjadikan seseorang semakin memanusiakan manusia dan tentunya semakin dekat dengan yang maha kuasa. Bukan malah saling maki dengan hujatan atau perbuatan yang tak manusiawi sama sekali.

Idul fitri yang terdiri dari dua kata ini pun mempunyai makna yang besar, id berasal dari akar kata aada-yauudu yang artinya kembali. Sedangkan fitri yang berarti suci berasal dari kata fathoro-yafthiru. Dengan demikian momentum hari kemenangan ini adalah momentum untuk kembali suci. Baik kembali suci secara individu, (sosial) kemanusiaan, bahkan kebangsaan. Kenapa tak cukup hanya suci secara individu, sebab sebagai makhluk sosial tentunya sisi kemanusiaan menjadi penting, agar seseorang tidak lupa diri bahwa ia masih manusia, yang pasti membutuhkan orang lain. Pun demikian dengan suci secara kebangsaan, sebagai makhluk yang hidup di sebuahbangsa yang bernama Indonesia sudah selayaknya hidup bersanding dan sesuai dengan apa yang ada di Indonesia. Bukan malah mengadopsi kultur asing yang kemungkinan tak sesuai bahkan merusak identitas diri sebagai bangsa Indonesia.

Baca juga : Mengobati Candu Teknologi

Selain kualitas diri yang sudah seharusnya semakin baik pasca pembersihan di bulan Ramadan ini, sisi kemanusiaan juga kebangsaan tidak boleh diabaikan. Sebab selain pribadi yang harus selalu dibersihkan, selama sebelas bulan lalu sebelum Ramadan tentunya kita semua tak lepas dari kesalahan dalam bersosial. Interaksi dengan sesama yang tak jarang berbuah saling sakit hati inilah yang perlu dibersihkan pula lewat kegiatan saling memaafkan. Dalam konteks kebangsaan kenapa juga harus dikuatkan, sebab tantangan bangsa ini sangat besar, terlebih menghadapi gelombang globalisasi ini. Karena globalisasi terkadang justru sedikit banyak mengelabuhi kita untuk lupa akan identitas diri sebagai bangsa. Oleh karenanya di momenyang fitri sudah sepatutnya kita ikut kembali dan lebih memahami jati diri sebagai bangsa lewat tradisi-tradisi yang ada. Sebab tradisi-tradisi yang ada di bangsa ini kaya akan filosofi kehidupan yang menjadi ciri khas kita sebagai bangsa Indonesia.

Perayaan Idul fitri di Indonesia dikenal dengan sebutan lebaran. Tak beda jauh dengan ungkapan-ungkapan penting tentang penamaan sebuah perayaan lainnya, lebaran pun memiliki nilai filosofi yang tinggi, dan tentunya menjadi ciri khas bangsa ini. Lebaran memiliki empat makna atau maksud di dalamnya yaitu lebar, lebur, luber dan labur. Lebar (usai) mempunyai maksud untuk kita ketahui bahwa waktu puasa telah usai dan harapan ampunan yang maha kuasa terbuka lebar kemudian. Luber (melimpah) mempunyai maksud untuk kita ketahui bahwa kita semua sudah selayaknya untuk tolong menolong atas kelimpahan yang telah kita peroleh, semisal melalui cara bersedekah. Lebur (habis) mempunyai maksud bahwa usai pembersihan diri di bulan Ramadan dan harapannya kesalahan yang pernah dilakukan telah habis terampuni dan ini yang harus dijaga sebelas bulan berikutnya. Sedangkan labur (suci) mempunyai maksud bahwa kita semua berharap benar-benar mampu kembali suci.

Tradisi lainnya yang identik dengan perayaan Idul fitri di Indonesia adalah adanya ketupat (kupat). Ketupat adalah jenis makanan yang berbahan dasar beras yang dibungkus dengan daun kelapa yang masih muda atau dikenal dengan janur. Anyaman janur ini dibentuk sedemikian rupa hingga berbentuk ketupat kemudian diisi beras dan dimasak. Dari kerumitan anyaman janur ini pun terdapat nilai filosofisnya bahwa kerumitan bentuk anyaman ini melambangkan bahwa kehidupan ini penuh lika-liku dan tak jarang kita melakukan kesalahan. Begitu juga ketika ketupat sudah masak, ketika dibelah akan terlihat putih isinya, inilah yang kita harapkan semua di momen Idul fitri, yaitu kembali suci. Kembali suci dengan saling bermaafan atas kerumitan juga kesalahan dengan sesama.

Nilai filosofi dari ketupat yang lain adalah pesan untuk mengakui kesalahan ketupat (kupat) merupakan kependekan kata dari ngaku lepat(mengakui kesalahan). Juga merupakan kependekan kata dari laku papat (empat perilaku) di hari fitri, dan empat perilaku inilah yang juga sama dengan empat filosofi dari kata lebaran yaitu lebar, luber, lebur dan labur.Lewat tradisi budaya yang luhur ini kita semua berharap mampu benar-benar kembali fitri dari segala sisi, sisi pribadi, kemanusiaan juga kebangsaan. Semoga perayaan Idul fitri tahun 1440 H. ini mampu kita rayakan dengan pendalaman makna dari filosofi-filosofinya. Aamiin.

Facebook Comments