Fitrah di Media Sosial: Kemenangan Melawan Hoax

Fitrah di Media Sosial: Kemenangan Melawan Hoax

- in Suara Kita
150
1
Fitrah di Media Sosial: Kemenangan Melawan Hoax

Akses terhadap layanan jejaring sosial sempat ditutup (baca:dibatasi) selama beberapa hari kemarin sempat membuat banyak orang khawatir, karena kebijakan Pemerintah kemarin jelas memiliki dampak yang cukup besar. Beberapa kritik bahwa kebijakan tersebut tanda otoritarianisme pemerintahan Jokowi sekarang. Terlepas dari persoalan politik sensor kemarin, ada yang bisa kita tarik sebagai perbincangan di hari-hari terakhir bulan Ramadan ini. Bisakah hoax atau berita bohong bisa dilawan dengan kelindan tiga hal penting, yaitu fitrah, filter dan media sosial.

Di sepuluh hari terakhir di bulan suci ini, tiga hal di atas cukup ramai diperbincangkan sejak kejadian yang memilukan di 21-22 Mei kemarin. Fitrah memang ramai diperbincangkan di bulan Ramadan ini, terutama di hari-hari terakhir puasa, karena lema tersebut merujuk salah satu kewajiban pada setiap muslim yang harus ditunaikan sebelum Salat Idul Fitri dilaksanakan. Namun, lema tersebut juga merujuk pada cita dari seluruh muslim yang melaksanakan ibadah di bulan Ramadan yaitu SUCI.

Dalam agama Islam, suci bukan saja dimaknai sebagai bagian dari kebersihan sisi luar dari seorang muslim tapi juga dimaknai sebagai kondisi kesempurnaan sisi paling dalam pribadi. Fitrah sering diterjemahkan dalam bingkai Idul Fitri dengan makna suci. Penjelasan Murtadha Muthahhari dalam memandang fitrah sebagai arti “keawalmulaan sesuatu dan tidak adanya sesuatu sejenis itu mendahuluinya”. Penjelasan ini sejalan dengan Ibn Abbas menggunakan lema tersebut sebagai awal mula penciptaan manusia. Sebab, lafal fitrah tidak pernah digunakan oleh Alquran selain dalam konteks manusia.

Muthahhari kemudian mengutip Q.S ar-Rum: 30 yang menjabarkan bahwa penciptaan manusia dalam fitrah Allah yakni agama yang lurus. Di titik ini penjelas Muthahhari dalam memaparkan di mana Alquran hanya mengakui satu agama yaitu agama yang lurus. Karena, tidak akan ada kita temukan lafal ad-din dalam bentuk jamak. Sebab, agama adalah fitrah. Agama adalah jalan. Agama adalah hakikat (kebenaran) yang ada dalam watak manusia. Oleh sebab itu, seluruh ajaran agama dibangun di atas landasan menghidupkan dan memupuk kesadaran fitrah, dan apa yang disodorkan semua agama jelas fitrah kemanusiaan. Jadi jika ada agama yang melanggar nilai kemanusiaan, maka ada yang salah dalam pengamalan agama tersebut.

Baca juga : Mengobati Candu Teknologi

Dua lema yang tersisa menjadi menarik dikuak di hari akhir bulan Ramadan ini. Sebab, di pertengahan kedua bulan suci lema tersebut ramai diperbincangkan karena kasus kericuhan aksi 22 Mei kemarin. Sebagaimana dijelaskan di atas, filter dalam bingkai pembatasan akses media sosial selama beberapa hari cukup mendapatkan perhatian hingga ada pihak yang pro dan kontra. Saya tidak akan masuk ke persoalan segregasi sikap terhadap pembatasan akses tersebut, namun justru mencoba melihat persoalan ini dari sisi pembatasan persebaran berita bohong.

Ulah pemerintah membatasi akses media sosial memang bisa dilihat sebagai sikap otoriter dari sebuah rezim. Tapi, jika kita menelisik lebih dalam kebijakan pembatasan sementara yang dibuat oleh Pemerintah adalah langkah yang cukup adil. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari saja kabar bohong yang provokatif sangat mudah dikonsumsi dan disebarkan kembali. Kondisi ini akibat dari filter masyarakat kita terhadap sebuah kabar atau informasi yang diterima tidak lagi sempat ditelaah dengan baik, sehingga yang terjadi adalah kabar dan informasi yang memainkan emosi dan keimanan lebih sering langsung diterima.

Kebangkitan media sosial menjadi lahan subur bagi berita buram mengaburkan batas antara informasi dan opini. Cerita pribadi dari sebuah blog, situs berita alternatif, dan komentar di aplikasi media sosial dianggap sebagai sebuah informasi yang mengandung kebenaran. Padahal kebenaran tersebut bisa berasal dari apa yang disebut dengan “Bias Konfirmasi”, yakni pola konsumsi informasi yang didasarkan pada apa yang mereka “inginkan”. Jadi, kala masyarakat yang sangat haus informasi saat terjadinya aksi 22 Mei kemarin bisa saja terhasut dengan status, video, meme yang diedarkan melalui media sosial, jika tanpa dibekali dengan filter yang baik dari masyarakat.

Benarkah masyarakat kita memiliki filter yang kurang bagus dalam menghadapi banjir informasi sekarang ini? Ini mungkin bisa menjadi perdebatan panjang, tapi antisipasi pemerintah terhadap persebaran informasi saat terjadi aksi besar yang masih belum bisa dikonfirmasi kebenaran dengan cepat juga harus dihargai. Sebab, jika dilihat dari persebaran massif berbagai isu yang beredar di hari pertama aksi tersebut dari polisi cina hingga penyerangan masjid, yang kemudian baru diketahui hal tersebut adalah kabar bohong. Maka, pemerintah telah melakukan hal yang cukup tepat.

Dampak kerugian yang dirasakan masyarakat dari sisi ekonomi hingga moril, memang tidak bisa dihindari. Oleh sebab itu, mari kita di ujung bulan nan suci ini menyudahi memproduksi, mengkonsumsi, hingga menyebarkan hoaks. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa setiap agama memiliki sisi fitrah kemanusiaan di dalamnya. Jadi, fitrah itu ada dalam ajaran yang selama ini kita peluk. Kita bisa menjadikan fitrah kemanusiaan tersebut menjadi perisai dan di saat yang sama menjadi senjata memerangi dampak negatif dari media sosial, seperti kabar bohong hingga ujaran kebencian.

Facebook Comments