Genealogi Kaum Abritan

Genealogi Kaum Abritan

- in Suara Kita
160
3
Genealogi Kaum Abritan

Manusia ternyata tak hanya sesosok jiwa yang berbungkus daging, darah, dan berhias urat syaraf. Tapi, ia juga sebuah persoalan. Terlebih ketika filsafat datang menghampirinya. Apa dan siapakah sesungguhnya ia, pada hakikatnya? Apakah benar ia seonggok makhluk yang dibentuk dari segumpal lempung dan hembusan ruh dari sisi-Nya, sebagaimana yang diwartakan buku-buku suci? Ataukah ia sebatas entitas material yang hidup dan bergerak secara mekanistik, seperti langgam uraian-uraian kering kaum penganut positivisme? Tentu, tak ada jawaban yang sempurna. Manusia selamanya memang sebuah persoalan, unggunan misteri yang tak kunjung tersambut jawaban yang lengkap, pasti, dan final.

Namun demikian, dengan fakta di atas, tak lantas orang bersimpuh tabik dan menderaskan kata entah. Meski jawaban final tak ubahnya cakrawala di ujung sana, toh upaya itu bukanlah sebuah kesia-siaan. Sebab dengan upaya-upaya penyingkapan misteri, yang sekilas tampak absurd, secara historis peradaban manusia justru semakin berkembang. Sebongkah konsep ataupun teori yang gagal berbinar tak berarti tak mendatangkan manfaat apa-apa. Sebab dengan kegagalannya menjadi dimungkinkannya lahirnya teori baru yang kian hari kian canggih.

Mengenai hakikat manusia, berabad-abad lampau Sokrates pernah mendendangkan sebuah kata bijak yang sampai saat ini masih bergaung: “Gnoti seauton.” Tentu, orang tak lupa, kata bijak itu adalah tonggak di mana filsafat menjadi jemu melayang-layang di awan-gemawan. Dengan filosof yang mengklaim dirinya sendiri sebagai lalat pengganggu itu filsafat menjadi lebih hidup menghunjam ke Bumi. Dari kajian yang bersifat kosmosentris menjadi kajian yang bersifat antroposentris.

Oleh karenanya, secara implisit, kata-kata Sokrates mengisyaratkan harus jelasnya terlebih dahulu persoalan mengenai apa dan siapa manusia. Sebab mengkaji manusia berarti pula mendedah segala sesuatu secara tak langsung—terlebih ketika ia didudukkan sebagai titik sentral dalam proses epistemologis, ketika ia ditahbiskan sebagai subjek pengetahuan. Dengan hal itu, manusia pada dasarnya memang segurat titik kepastian kejelasan mengenai segala sesuatu. Andaikata manusia sebagai subjek pengetahuan itu sendiri buram, tentu pula segala sesuatu yang melingkupinya—yang menjadi objek pengetahuannya—menjadi gelap. Ibarat sebuah rumah, apabila fondasi di mana rumah itu berpijak rapuh, maka tak dapat dipungkiri lagi, kerobohan akan semakin merangsek dekat.

Manusia memang pokok kajian yang tak habisnya diungkai. Jauh hari sesudah zaman para filosof kelana meraja, Sokrates ataupun kaum Sofis, pada abad ke-19, tumbuhlah sebuah gerakan kefilsafatan yang bergaung dengan nama eksistensialisme. Secara umum, eksistensialisme merupakan orientasi filsafat yang memandang segala fenomena dengan bertitik-tolak pada eksistensi manusia. Eksistensi sendiri berarti cara berada manusia di dunia yang secara mendasar berbeda dengan cara berada benda-benda.

Baca juga : Belajar dari “Desa Damai”: Membangun Ketahanan Sosial dari Kearifan Lokal

Manusia dapat sadar akan eksistensinya sedangkan benda-benda tidak. Oleh karena itu, hanya manusia jua yang bereksistensi. Pada ujungnya eksistensialisme memerikan kesadaran manusia akan dunia dan eksistensinya sendiri yang tak lengkap, tak mantap, penuh ketakpastian, ketaksempurnaan, dan ketakselesaian. Artinya, manusia selalu akan menjumpai problem-problem eksistensial: kecemasan, kemuakan, kebebasan, kematian, dan sebagainya.

Akan tetapi, eksistensialisme sendiri bukanlah monopoli kebudayaan Barat. Di Timur, jauh sebelum para eksistensialis Barat menggemakan tema tentang eksistensi manusia, telah ada tendensi pemikiran yang dapat dikategorikan sebagai eksistensialisme. Di Jawa hal itu dapat dijumpai pada pandangan-pandangan Pangeran Lemah Abang: seorang wali pembangkang yang dianggap menyimpang, sesat, dan “anarkis.” Meskipun secara historis keberadaan sosok ini masih gelap, bukan berarti ajaran yang dibawanya itu sekedar mitos yang duduk terpacak anggun di dunia imajinasi belaka. Ajaran-ajaran Pangeran Lemah Abang sampai saat ini masih ada dan tumbuh mengakar dalam relung kesadaran khalayak Jawa.

Bagi sebagian khalayak Jawa, Pangeran Lemah Abang adalah sosok yang dikenal dengan beberapa label khusus. Pertama, ia identik dengan paham manunggaling kawula-Gusti. Kedua, sikap anti-sentrum dan anti-otoritarian. Ketiga, akhir hidup yang tragis. Keempat, sosok wali misterius yang sarat kejanggalan di seputar kehidupannya. Secara historis sebenarnya sosok sufi syahid ini masih diperdebatkan keberadaannya. Sebab sebagai salah satu wali yang diakui pernah hidup di tanah Jawa, Pangeran Lemah Abang tak memiliki kejelasan empiris seputar keberadaannya dalam sejarah sebagaimana tokoh-tokoh lainnya.

Berbeda dengan tokoh lain semisal Kalijaga, Pangeran Lemah Abang tak memiliki nasab yang terang, tahun kelahiran dan kematian yang pasti, dan makam yang jelas. Pun, dalam teks-teks yang mempresentasikan dirinya tak ada kesamaan mengenai asal-usul, nasab, tempat bermukim, asal-usul dogma, dan seterusnya. Teks-teks tersebut hanya memiliki kesamaan mengenai narasi tentang sikap membangkangnya pada dewan Walisanga dan kasultanan Demak, doktrin kontroversial, dan pengadilan para wali yang mengakibatkannya dikenai sanksi mati. Namun mengenai cara kematian itu pun teks-teks tersebut tak menarasikannya secara sama.

Ketegangan antara Pangeran Lemah Abang di satu sisi dan dewan Walisanga beserta kasultanan Demak di sisi lainnya sebenarnya merupakan konflik klasik yang pernah menghiasi sejarah peradaban Islam sendiri. Karena dalam alir sejarah sufisme atau tasawuf memang pernah terdapat dua aliran besar yang tak jarang saling bersitegang: aliran mainstream, sufisme yang merujuk pada paham ahlussunah waljama’ah, dan sufisme filsafati yang bersifat terbuka.

Saya katakan terbuka sebab sufisme jenis ini tak hanya menggunakan tradisi atau cara-cara islami dalam melampiaskan kerinduan transendentalnya. Bagi aliran ini, selama cara-cara di luar tradisi Islam—sebagaimana yang dituduhkan para penganut sufisme ortodoks—dapat mengintensifkan laku ibadah dalam berkomunikasi dengan sang Khalik, maka hal itu sah-sah saja, bahkan dianggap perlu. Oleh karena itu, tak mengherankan apabila dalam sufisme atau tasawuf filsafati ini banyak kita jumpai teori-teori teosofi ataupun metode-metode manembah yang mirip dengan aliran Yoga dalam Hinduisme, penafian-diri dalam Buddhisme, mistisisme Kristen, filsafat emanasionisme dalam neo-platonisme, dan sebagainya. Pluralisme metodik seperti ini menunjukkan bahwa ada satu titik-singgung di antara berbagai sistem spiritualitas yang berbeda. Seumpama kali, telaga, dan lautan, adalah tersatukan dalam airnya.

Celakanya, pemikiran puritan cenderung mengklaim bahwa hanya lautanlah yang merepresentasikan air. Pangeran Lemah Abang berangkat dari airnya, bukan dari kali, telaga, ataupun lautannya. Konsekuensi dari cara pandang ini, maka ia dapat bersikap toleran terhadap perbedaan bentuk—atau justru terkekeh ketika orang meributkannya. Ketika berangkat dari bentuk—kali, telaga, lautan—orang dengan mudah dapat terjebak di dalamnya sampai lupa bahwa yang terpenting, ketika dahaga, adalah menyesapnya. Demikianlah cara pandang puritan atas religiositas maupun spiritualitas: mabuk bentuk.

Puncak konfrontasi antara kedua aliran besar sufisme di atas adalah pada divonisnya mati Husain Ibn Mansur al-Hallaj pada tanggal 23 Zulqa’dah 309 H atau 25 Maret 922 M. Sebab, bagi ulama penguasa negara dan para fuqaha’ serta para sufi ahlussunah, Hallaj dianggap sebagai dedengkot paham hulul, yang dapat membahayakan tata agama Islam, mengotori akidah, dan mengancam kemapanan dinasti Abbasiyah—di mana paham mereka dijadikan ideologi resmi negara. Dalam sejarah kekuasaan Islam tampaknya kematian Hallaj merupakan peristiwa terkeji sesudah kematian Husein anak Ali bin Abu Thalib, sebagaimana yang diungkapkan oleh Louis Masignon dalam Diwan Al-Hallaj (2008).

Pangeran Lemah Abang, sebagai seorang sufi pemberontak, merupakan representasi kaum marjinal, representasi sikap independensi dalam berhubungan dengan Tuhan, sosok yang mengedepankan kebebasan memilih dan tanggung-jawab personal, tokoh keagamaan yang menolak tafsir tunggal atas Tuhan (bahkan atas apapun), anti-sentrum, dan anti-otoritarian.

Pendek kata, sebuah suara sumbang dari kawasan yang terpinggirkan. Maka dari itu, pandangan-pandangannya tentang manusia sungguh menarik untuk dikaji terlebih ketika kini radikalisme keagamaan dan terorisme cukup kental mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara orang Indonesia. Ketika Tuhan kerap dicitrakan sebagai sosok yang keras dan berparas angker bagaikan sipir penjara, dan manusia tak ubahnya seorang narapidana, maka sangat relevan eksistensialisme Pangeran Lemah Abang digemakan kembali. Karena itulah seorang sejarawan, M.C. Ricklefs, pernah mencatat bahwa istilah abangan atau abritan yang selama ini banyak mewarnai diskursus politik dan kebudayaan di Indonesia merupakan istilah yang dahulu untuk menyebut para pengikut Pangeran Lemah Abang, atau yang kelak lebih tenar dengan sesebutan Syaikh Siti Jenar (Polarising Javanese Society: Islamic and Other Visions c. 1830-1930, 2007).

Facebook Comments