Generasi Milenial dan Ancaman Radikalisme di Media Sosial

Generasi Milenial dan Ancaman Radikalisme di Media Sosial

- in Suara Kita
252
2
Generasi Milenial dan Ancaman Radikalisme di Media Sosial

Senin (03/06/19) lalu, bom bunuh diri kembali terjadi. Kali ini di dekat Pos Polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Dari keterangan Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian, pelaku belajar merakit bom secara otodidak Melalui Internet. Menurutnya, tersangka aktif menggunakan internet serta media sosial dan terpapar radikalisme, sehingga pelaku termotivasi untuk melakukan teror dengan bom (kompas.com, 05/06/19).

Menurut Kapolda Jawa Tengah Irjen Rycko Amelza Dahniel, tersangka bom bunuh diri tersebut pernah berbaiat kepada pimpinan ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi melalui media sosial. Dengan media tersebut, pelaku didoktrin untuk melakukan kegiatan radikal dan diajarkan untuk merakit petasan (peledak). Rycko bahkan menegaskan, bom bunuh diri di Pos Polisi Kartasura tersebut adalah arahan dari Abu Bakar al Baghdadi (kompas.com, 05/06/19).

Dari keterangan di atas, kita melihat betapa media sosial dapat mengubah pandangan seseorang terhadap kehidupan. Orang yang tadinya pendiam, bisa menjadi radikal hanya dengan doktrin media tersebut. Generasi milenial yang sangat akrab dengan hal itu, patut dikhawatirkan. Karena radikalisme bisa mencemgkram mereka kapan saja melalui gadgetnya.

Generasi Milenial dan Radikalisme

Dari data Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun 2018 lalu, sebanyak 4.078 akun media sosial dengan konten radikal sudah ditutup. Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara memyatakan mereka sudah menyisir sebanyak 4.078 akun dengan konten radikal. Rudiantara menambahkan, setengah dari jumlah tersebut adalah akun Facebook dan Instagram.

Baca juga : Momen Idul Fitri: Menjadi Religius Secara Interreligius

Hal tersebut menandakan bahwa media sosial masyarakat Indonesia telah terinfeksi dengan radikalisme. Mereka yang sering menggunakannya tentu sangat berpotensi untuk menjadi radikal. Bahkan, dari kejadian di atas tersangka bom bunuh diri di Kartasura berawal dari doktrin melalui media sosial.

Riset Wearesosial Hootsuite Januari 2019 lalu, menyebutkan ada peningkatan signifikan masyarakat Indonesia terhadap media sosial. Pada tahun 2018 hanya sebanyak 130 juta atau sekitar 48% dari populasi, kini menjadi sebanyak 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei tahun sebelumnya.

Peningkatan jumlah tersebut seakan menjadi bom waktu bagi masyarakat Indonesia, karena tidak dibarengi dengan meningkatnya literasi media. Masalah radikalisme yang terjadi karena media sosial menjadi hal biasa. Peningkatan literasi media menjadi hal penting sebagai dasar  ber-media sosial masyarakat Indonesia.

Semangat Pancasila di Media

Selain literasi media, Membumikan semangat Pancasila dalam ber-media juga perlu dilakukan. Pancasila sebagai dasar negara harus diterapkan dalam segala hal di Indonesia, termasuk dalam ber-media.

Sila ke-tiga dalam Pancasila yakni persatuan Indonesia merupakan kunci dalam ber-media. Banjirnya konten provokasi serta radikalisme yang mengancam integrasi masyarakat harus dilawan.

Perawan itu adalah dengan menulis serta membuat konten positif. Terutama konten tentang keindonesiaan dan nasionalisme.

Soekrano dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi” mengatakan, “nasionalisme itu jalah suatu itikad; suatu keinsyafan rakjat bahwa rakjat itu ada satu golongan, satu “bangsa”!”

Semangat nasionalisme yang digambarkan Soekarno bisa diimplemetasikan dalam kegiatan ber-media. Karena dalam membaca atau membagikan konten perlu meninjau apakah hal tersebut bisa mengancam persatuan bangsa atau tidak.

Disadari atau tidak, paham radikalisme telah menggerogoti raga bangsa. Apa yang terjadi bila nasionalisme hanya tinggal nama? Relakah kita melihat perpecahan di Indonesia?

Facebook Comments