Gerakan Anti Islamofobia : Gerakan Politisasi Agama dan Angin Segar Kelompok Radikal Mengatasnamakan Agama

Gerakan Anti Islamofobia : Gerakan Politisasi Agama dan Angin Segar Kelompok Radikal Mengatasnamakan Agama

- in Suara Kita
233
0
Gerakan Anti Islamofobia : Gerakan Politisasi Agama dan Angin Segar Kelompok Radikal Mengatasnamakan Agama

Memang benar bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan tanggal 15 Maret sebagai hari melawan Islamofobia  karena melihat meningkatnya kebencian terhadap Islam dan pemeluknya di berbagai negara khususnya di negara minoritas muslim. Banyak masyarakat muslim seperti di Amerika dan Eropa menjadi penduduk minoritas yang sering mendapatkan perlakuan diskriminatif, pelecehan hingga kekerasan.

Tentu penetapan hari melawan Islamofobia oleh PBB bermaksud untuk menjaga hak-hak minoritas etnis dan agama yang merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM). Setiap individu berhak menentukan agama yang akan dianutnya dan setiap negara harus menjamin kesetaraan semua warga negara dengan nyaman dan aman.

Kaum muslim minoritas di Eropa  dan Amerika selalu menghadapi ancaman, pembatasan, dan larangan. Terlebih lagi media-media Barat seringkali tidak memberikan proporsi yang seimbang dan pencerahan tentang ajaran Islam. Islam dilekatkan dengan tindakan oknum umat Islam yang selalu membawa nama Islam atas tindakan  yang bertentangan dengan Islam. Tercipta kesalahan persepsi dan pra sangka serta cara pandang warga Eropa dan Amerika terhadap Islam yang mendukung kekerasan.

Di Indonesia sendiri Isu Islamophobia kembali mencuat setelah Gerakan Nasional Anti Islamofobia (GNAI) dideklarasikan sejumlah tokoh, dan aktivis lintas ormas Islam, di Aula Buya Hamka Masjid Al Azhar, Jakarta Selatan, pada 15 Juli 2022. Gerakan ini ingin melawan isu Islamofobia di dunia yang digambarkan media Barat sebagai kaum teroris dan radikalis.

Anehnya, mereka menyebutkan bahwa gerakan anti Islamofobia ini merupakan wujud respon atas Resolusi PBB sebagaui pijakan untuk melawan Islamofobia yang semakin hari semakin memecah  kesatuan bangsa. Padahal Indonesia merupakan Negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim yang tidak mungkin seorang muslin di Indonesia diperlakukan secara diskriminatif.

Agaknya alasan mereka tidaklah masuk akal karena di Indonesia sendiri, umat muslim bebas untuk melakukan ibadah di manapun, membangun masjid kapanpun bahkan beberapa waktu kemarin sempat melakukan ibadah shalat di jalan umun ketika menggelar aksi demo dan juga pengajian di trotoar yang sebetulnya mengganggu pengguna jalan lainnya. Umat Islam sepertinya justru mendapatkan keistimewaan tersendiri sebagai konsekuensi mayoritas. Lalu, islamofobianya di mana?

Jika isu Islamophobia dimaksudkan dengan kebijakan negara yang banyak membubarkan organisasi-organisasi radikal yang mengatasnamakan agama seperti HTI dan juga FPI atau menangkap oknum umat Islam yang melakukan Tindakan terorisme  tentu itu bukan Islamofobia, justru menyelematkan Islam dari gerakan yang mempolisasi agama. Atau kasus terakhir misalnya pembekuan dana Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang ditenggarai menyimpangkan dana umat dengan menyalurkan kepada organisasi teror terlarang, justru ingin menyelematkan umat Islam dari kelompok yang gemar melakukan komodifikasi dan kapitalisasi Islam. 

Nampaknya gerakan anti Islamofobia ini sedang mencari kerangka untuk menggiring opini seolah-seolah terjadi darurat Islamofobia di Indonesia. Padahal sejatinya isu islamofobia justru menjadi alat politik baru bagi kelompok untuk melakukan penggiringan opini yang akan membenarkan Tindakan mengatasnamakan Islam demi kepentingan kelompok.

Sesungguhnya jika mau dilacak akar islamophobia lahir dari banyaknya aksi radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan Islam yang dilakukan oleh oknum umat yang mengatasnamakan Islam. Tindakan mereka sejatinya yang harus dikecam sebagai penyebab akar islamofobia. Namun, justru gerakan anti Islamofobia justru memberikan angin segar bagi kelompok yang mempolitisasi agama.

Jadi bisa ditegaskan pernyataan yang menyebutkan adanya tindakan Islamofobia di Indonesia yang terjadi secara meluas sejatinya wujud fitnah dan tidak mendasar. Isu islamofobia yang banyak dibicarakan oleh banyak kalangan ini justru lebih terlihat tengah memainkan politik identitas. Kelompok petualang politik yang getol melawan aspirasi yang mereka labeli sebagai populisme Islam.

Apabila ini memang dirujuk untuk sebuah kampanye dengan menunggangi isu Islamophobia dengan narasi terorisme, radikalisme, dan fundamentalisme tentu menjadi angin segar bagi kelompok teroris itu sendiri. Indonesia yang heterogen telah lama hidup rukun, tiba-tiba dibuat tegang seolah terjadi islamofobia. Isu ini hanya ketakutan kelompok intoleran dalam menghadapi keragaman. Isu islamofobia adalah metafora politik yang jahat yang diciptakan melalui propaganda dan opini-opini menyesatkan tentang kondisi keragaman di Indonesia.

Dan jika gerakan ini terus berlanjut, bisa saja GNAI justru yang nantinya akan menumbuhkan benih-benih Islamophobia itu sendiri. Bisa saja ruang-ruang publik disesaki ujaran kebencian atas nama islamofobia dan anti islamofobia. Siapa yang diuntungkan tentu elite politik yang kerap menjual agama untuk kepentingan politik dan ekonomi.

Islamofobia dan penyebabnya yakni kelompok radikal terorisme yang kerap mengatasnamakan agama diharapkan tidak diberikan panggung di Indonesia. Mayoritas umat Islam Indonesia sudah merasa nyaman hidup berdampingan dengan keragaman. Namun, jika Islamofobia terus digaungkan seolah negeri ini sedang mengalami Islamofobia tentu akan membuka angin segar bagi kelompok pro kekerasan atas nama agama. Mereka seolah dibela karena sesungguhnya mereka yang merasa pembela dan pejuang agama yang didzalimi pemerintah.

Facebook Comments