Gotong-Royong Viralkan Perdamaian di Medsos

Gotong-Royong Viralkan Perdamaian di Medsos

- in Suara Kita
223
3
Gotong-Royong Viralkan Perdamaian di Medsos

Sekira 3 miliar manusia atau 40% populasi di dunia merupakan pengguna media sosial. Dan, rata-rata menghabiskan dua jam dalam sehari untuk berinteraksi di media sosial, baik itu mengunggah status, menyukai, berkomentar, dan sebagainya. Artinya, betapa banyak dan besar pengguna dan waktu yang digunakan untuk berselancar di media sosial. Sehingga, tidak berlebihan jika manusia hari ini dikatakan  tidak bisa hidup tanpa internet.

Karena itu, apapun yang ada di media sosial tentu amat berpengaruh pada pembentukan pola pikir dan mental pengguna. Karena, secara psikologis, informasi yang terkonsumsi dan dikonsumsi secara berulang-ulang, akan membentuk pola pikir seseorang dan bahkan bisa menjadi laten, sesuatu yang sulit untuk dideteksi, tapi berpotensi muncul.

Kalau pola pikir sudah dibentuk sejak dalam media sosial, begitu juga dengan sikap dan perilaku pengguna di media sosial. Misal saja, media sosial, sebutlah facebook, selalu mengarahkan penggunanya untuk mengonsumsi konten-konten seragam sesuai dengan intensitas pengguna mengakses konten tertentu. Kalau biasa akses konten-konten emosional nan dogmatis, tentu sistem yang ada di facebook akan mengarahkan penggunanya untuk lebih banyak lagi mengonsumsi konten serupa. Pada akhirnya, pengguna memiliki pandangan sempit bak mata kuda, yang hanya bisa melihat searah -ke depan- tanpa tahu samping kanan-kiri dan belakang ternyata ada realitas lainnya.

Cukup menarik penelitian dari Universitas California yang menilai konten emosional dari lebih 1 miliar unggahan status dari lebih 100 juta pengguna Facebook antara 2009 dan 2012. Dalam penelitian tersebut, peneliti menemukan bahwa suasana hati yang baik atau buruk menyebar antar orang di media sosial. Satu unggahan negatif seseorang di kota yang sering diguyur hujan memengaruhi 1,3 postingan negatif lainnya dari handai taulan yang tinggal di kota panas. Tapi unggahan yang menyenangkan memiliki pengaruh yang lebih kuat, yakni masing-masing menginspirasi lebih dari 1,75 unggahan ceria (bbc.com).

Baca juga : Smart Netizen: Merajut Jejaring Perdamaian di Dunia Maya

Cukup bernas dalam penelitian tersebut, bahwa unggahan baik-buruk ternyata sangat berpengaruh terhadap unggahan lainnya di ‘belahan’ medsos lainnya. Kabar baiknya, dibanding unggahan negatif, unggahan positif ternyata responsnya jauh lebih besar 0,45. Artinya, sekalipun medsos kerap menjadi biang keladi disintegrasi, provokasi, dan hoaks, ternyata masih ada sepotong harapan yang bisa mengimbangi konten-konten negatif yang merusak. Di sisi inilah peran kita, jika mau menjadi warga negara-bangsa yang peduli dengan kebutuhan masyarakat akan kehidupan yang damai-sejahtera -atau minimal berbagi konten positif dalam rangka mewujudkan visi diri yang ingin bermanfaat bagi orang lain.

Gotong-royong

Dalam khazanah bangsa Indonesia, term gotong-royong bukanlah hal asing. Justru, hal inilah yang menjadi ciri khas kebudayaan kita. Kalau Cak Nun pernah bilang, bangsa Indonesia adalah bangsa semut, yang hanya akan kuat jika bergotong-royong. Pun dalam upaya mengampanyekan perdamaian di media sosial; tentu kita perlu satu frame bahwa perdamaian itu harus ditularkan tidak hanya melalui seminar-seminar dan sosialisasi di ruang kuliah, melainkan juga media sosial yang merupakan laga pertarungan narasi yang bisa diakses oleh siapapun.

Selain berdasar pada penelitian Universitas California, agaknya kita juga perlu mempelajari perilaku warganet. Jika diperhatikan, warganet sangat gemar kepada hal-hal yang menyentuh sisi emosional mereka. Mereka dengan mudah menaruh simpati atas suatu kejadian di media sosial, tapi pada saat yang sama, juga mudah sekali menghujat jika menurut mereka perlu. Artinya, mereka memiliki standar penilaian terhadap suatu konten dan konteks kejadian. Sehingga, tugas kita adalah gotong-royong menampilkan konten-konten positif soal persatuan dan kesatuan. Bukan dalam perspektif dogmatis, melainkan konten disampaikan dengan narasi cerita nan reflektif. Sehingga, warganet tidak merasa digurui dan ‘disuruh’ untuk mempercayai suatu konten, melainkan diajak merenung dan berpikir. Ingat, bahwa masyarakat kita dulu kala amat gemar menyampaikan nilai moral melalui dongeng dan cerita. Barangkali, hari ini juga masih berlaku.

Facebook Comments