Gus Dur dan Semangat Menjadi Bangsa yang Berakhlak

Gus Dur dan Semangat Menjadi Bangsa yang Berakhlak

- in Suara Kita
789
0
Gus Dur dan Semangat Menjadi Bangsa yang Berakhlak

Berbuat baiklah kepada siapapun, niscaya orang tidak akan bertanya apa agamamu. Begitulah pesan Gus Dur dalam meneguhkan akhlak dan moralitas bangsa dalam negeri yang beragam.

Pernyataan itu menyadarkan kita semua, dalam urusan berbuat baik itu tidak perlu melihat agamanya. Semua orang berhak dan bahkan berkewajiban berbuat baik kepada semua orang. Sebagaimana pesan dari agama-agama, baik agama langit atau agama bumi.

Berbuat baik yang dalam bahasa arabnya adalah akhlak mahmudah, akhlak yang baik, perilaku yang baik. Apa hanya laku yang baik? Tidak. Tapi, ucapan yang baik, perbuatan yang baik, dan bahkan pemikiran dan hati yang baik.

Hidup berbangsa memerlukan sebuah harmoni dan kedamaian satu sama lain. Dalam mewujudkan itu semua, semua masyarakat perlu mengedepankan sikap yang baik kepada semua orang, tanpa terkecuali.

Ibaratnya, jikalau ada rintangan menghadang terhadap seseorang, atau seorang dalam bahaya. Misal saja, ada warga yang terdampak erupsi gunung Semeru yang masih saja menyelimuti duka bangsa Indonesia, maka naluri kemanusiaan kita, naluri kebangsaan kita akan terdorong untuk menolong siapapun, tanpa perlu tahu agamanya apa.

Manusia yang masih memiliki kepedulian seperti itu ialah manusia-manusia yang waras, yang masih memiliki hati nurani, dan pikiran jernih. Dalam duka ataupun suka, berbuat baik kepada siapapun adalah kewajiban bangsa ini. Bangsa yang baik adalah bangsa yang senantiasa berbuat baik.

Dalam kasus lain, penulis juga pernah melakukan wawancara dan kunjungan langsung kepada kepala desa dan warga desa Wirotaman, kecamatan Ampelgading, kabupaten Malang. Desa Wirotaman adalah desa yang pernah didaulat sebagai desa keberagaman di sana. Di desa itu terdapat empat pemeluk agama yang berbeda, di antaranya adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Kepercayaan.

Pada tahun 2021, terjadi gempa tektonik yang melanda pesisir laut selatan. Hal itu mengakibatkan beberapa desa di Malang Selatan mengalami kerusakan. Rumah-rumah roboh dan tempat ibadah pun hancur. Dan, desa Wirotaman saat itu adalah desa yang mengalami kerusakan terparah menurut BPBD setempat.

Semua warga desa Wirotaman pun bergotong royong membenahi kerusakan-kerusakan yang ada di sana. Bahkan sudah menjadi hal biasa umat islam ikut membangun Pura, tempat ibadah umat Hindu, atau Gereja, tempat ibadah umat Kristen – atau sebaliknya.

Aktivitas sosial dalam mebangun kehidupan keberagamaan yang baik dan sehat menjadi hal biasa dalam masyarakat Wirotaman. Hal itu sebagaimana juga diungkapkan oleh Kepala Desanya, Pak Sholeh. Meskipun tidak ada bencana alam sekalipun, gotong royong lintas agama menjadi kegiatan yang biasa di desa Wirotaman.

Mereka saling menjaga tempat ibadah umat lain dalam perayaan hari raya, atau dalam ritual tradisi setempatnya. Orang Hindu atau Kristen sudah biasa membantu masak-masak atau menjaga parkir ketika umat islam menyelenggarakan tahlilan atau sholawatan. Begitu sebaliknya, saling membantu enyukseskan acara keagamaan dan menjaga keamanan menjadi aktivitas utama desa Wirotaman.

Kejadian-kejadian seperti itu sangat relevan dengan apa yang disampaikan Gus Dur di awal. Serta juga relevan dengan pandangannya, bahwa, “Guru spiritualitas saya adalah realitas, dan guru realitas saya adalah spiritualitas.” Sungguh gagasan yang indah dari KH. Abdurrahman Wahid.

Bagi Gus Dur, agama tidak boleh jauh dari masyarakat, tidak boleh jauh dari hiruk pikuk kemasyarakatan, dan tidak boleh jauh dari kenyataan-kenyataan yang ada di muka bumi. Meskipun, di sisi lain ketekunan dalam menjalankan perintah Tuhan yang vertikal juga tetap dijalankan. Bagaimana bisa, kita beragama atau beribadah dengan kondisi yang tidak aman?

Ibadah kita akan terasa aman dan nyaan jikalau kondisi sosial, kemasyarakatan, serta ekonomi warganya berjalan dengan baik. Tidak ada ketimpangan dan penindasan yang dilakukan satu sama lain. Maka, sebagai umat beragama, dalam pandangan Gus Dur, harus belajar dari yang namanya realitas, bagaimana kenyataan yang ada di masyarakat, dan dari realitas yang diperjuangkan untuk memenuhi keadilan dan kesejahteraan, maka di situlah spirit-spirit ketuhanan memancar.

Dari Gus Dur kita belajar banyak tentang berakhlak yang tidak egois. Berakhlak rame-rame. Berakhlak rame-rame itu ya berbuat baik yang dilakukan secara kolektif tanpa memandang agama, ras, dan sukunya. Perbuatan baik tidak mengenal label agama, yang ada pun hanya satu kepentingan yakni kemanusiaan.

Facebook Comments