Haji dan Jihad Menegakkan Spirit Kebangsaan

Haji dan Jihad Menegakkan Spirit Kebangsaan

- in Suara Kita
167
1
Haji dan Jihad Menegakkan Spirit Kebangsaan

Menjelajah latar kesejarahan haji di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari latar kesejarahan haji di Arab sendiri. Haji telah dijalankan oleh Nabi Adam. Beliau membangun sendiri Ka’bah: rumah ibadah pertama di dunia.

Nabi Ibrahim melanjutkan ajaran tersebut setelah membangun kembali Ka’bah bersama putranya, Ismail. Sedangkan Nabi Muhammad, sebelum menjadi rasul, juga berperan dalam restorasi rumah Tuhan, sehingga disebut al-Amin (yang terpercaya), juga diperintahkan haji di Ka’bah. Jejak-jejak haji Nabi Muhammad merupakan warisan dari Nabi Ibrahim: dimana ada tawaf, sa’i, wukuf, melontar jumrah. Nabi Muhammad pernah beberapa tahun tidak mengunjungi Ka’bah, karena diusir kaum pagan Makkah. Ka’bah sendiri oleh kaum pagan dijadikan tempat suci untuk mempersembahkan hajat dan doa kepada Tuhan mereka. Baru setelah fathu Makkah (Makkah terbuka), Nabi bersama sahabatnya berkunjung di Ka’bah.

Melongok historiografi haji masa Nabi tersebut, terlihat sekali bahwa Ka’bah merupakan menjadi tempat suci yang jejak-jejaknya telah terpampang sejak Nabi Adam. Karena tempatya yang suci, tak salah kalau kaum pagan menjadikan Ka’bah sebagai tempat persembahan mendekat Sang Pencipta. Ka’bah menjadi simbol bersatunya kaum pagan dalam menggugat monoteisme Ketuhanan yang dibawa Muhammad. Disinilah mulai terjadi kontestasi politik ditengah ritus keagamaan.

Menurut Putuhea (2006: 34) kontestasi politik dalam haji yang telah terjadi sejak zaman Nabi telah melahirkan ragam gerakan politik keagamaan di Indonesia, khususnya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Lahirnya para intelegensia Muslim yang bergelar “haji” pada awal abad ke-20 telah membuktikan lahirnya gerakan politik yang bergerak untuk menggugat kolonialisme dan imprealisme Belanda. Lahirlah Muhammadiyah tahun 1912, Persatuan Islam (Persis) tahun 1923, dan Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1926.

Lebih lanjut, Putuhe menjelaskan bahwa dalam sejarah haji Indonesia, ada dua factor utama yang mendahului perjalanan dan pelaksanaan haji masyarakat Muslim Nusantara. Kedua factor itu adalah hubungan Nusantara dengan Hijaz dan adanya komunitas Muslim di Nusantara. Pembentukan komunitas Muslim di Nusantara berkaitan erat dengan hubungan perdagangan antara Hijaz, India Selatan, Asia Tenggara, dan China.

Baca Juga : Jadilah Haji Mabrur, Bukan Haji Mabur

Pada abad ke-16, ketika telah terdapat komunitas muslim di Nusantara dan hubungan pelayaran dan perdagangan langsung antara Nusantara dan Hijaz, telah ditemukan pedagang Nusantara di Makkah sebagai perintis perjalanan haji. Abad ke-16 dan ke-17, haji Indonesia belum bersifat jamaah (belum diorganisir), hanya pribadi atau utusan sultan. Baru pada abad ke-18, haji sudah di organisir dan kebanyakaan jamaah haji menetap (mukim) di Makkah untuk mencari ilmu (tholab al-ilm). Abad ke-19 dan ke-20, jamaah haji Indonesia telah membentuk komunitas muslim Nusantara secara solid, sehingga tercipta sebuah spirit nasionalisme kebangsaan. Komunitas ini ada di Makkah, Madinah, Jeddah, Hijaz, bahkan juga di Hadramaut Yaman.

Spirit nasionalisme itulah yang kemudian gerakan-gerakan politis para haji. Karena sepulang dari haji, mereka mampu mengorganisir masyarakat dalam sebuah kesatuan kebangsaan, khususnya dalam melawan kolonialisme Belanda. Spirit melawan impralisme juga mendapatkan suntikan lewat puritanisme Islam yang digelorakan Muhammad bin Abdul Wahab, gagasan Pan-Islamisme yang dibawa oleh Jamaluddin al-Afghani Pakistan, dan spirit pemikiran Ijtihad Muhammad Abduh Mesir, yang kesemuanya telah mengilhami bangkitnya pemikiran kritis Islam pasca runtuhnya Khalifah Turki Utsmani tahun 1924. Dalam pengamatan Yudi Latif (2006), para haji Nusantara mampu membentuk koloni-koloni politik yang dikomandoni oleh Syekh Khotib Minangkabau. Syekh Khotib inilah yang mengilhami gerakan Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, Agus Salim (keponakannya sendiri), Haji Djambek, dan para agamawan di Padang.

Melihat gelanggang politik umat Islam ini, Hindia Belanda akhirnya khawatir, karena para haji itu bisa meruntuhkan imprealisme di Indonesia. Atas saran Snouck Horgronje, pemerintah Hindia Belanda akhirnya mengawasi para haji Indonesia yang bermain politik di Makkah. Dibentuklah konsul Hindia Belanda di Jeddah yang bertugas mengawasi gerak-gerik politik yang dijalankan para haji. Dan terbukti, konsul ini mampu meredam spirit nasionalisme jamaah haji, sehingga tidak sedikit jamaah haji Indonesia, yang karena keasyikan belajar di Makkah, kemudian memutuskan untuk menetap di Makkah, bahkan sampai wafatnya. Bukan berarti mereka tidak mau berjuang di Tanah Air, tetapi kondisi social politik yang mengekang mereka membuat mereka tersekat, dan akhirnya mengabdikan dirinya sebagai pemikir agama di Makkah.

Tetapi, ada  juga yang tetap nekad pulang kampung untuk terus berjuang mengentaskan Nusantara dari belenggu penjajah. Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, A Hasan, H. Agus Salim, A Wahab Hasbullah, adalah contoh nyatanya.

Walaupun kontestasi politik begitu mengemuka dalam historiografi haji Nusantara, haji juga telah membuka jalan terbukanya perkembangan pemikiran keagamaan di Indonesia yang terus meningkat di berbagai daerah. Lahirlah pesantren, surau, dan majlis keagamaan yang terus tersebar luas diberbagai pelosok Nusantara. Pendidikan keagamaan di pesantren bahkan menjadi referensi utama warga Nusantara untuk mendapatkan ilmu. Disamping itu juga tercipta sistem perdagangan yang terus meningkat antara Nusantara dan Hijaz. Dampak dari hubungan perdagangan ini membuat Indonesia mempunyai pengalaman jalinan ekonomi dengan Negara Timur Tengah secara umum, sehingga pada akhirnya banyaka warga Indonesia yang kemudian menjalin perdagangan di Mesir, Yaman, dan Iran. Disamping itu jga terjalin hubungan pendidikan, dan yang paling terasa sampai sekarang ada dengan Universitas al-Azhar Mesir.

Jejak-jejak latar kesejarahan haji Indonesia sangat penting menjadi kajian dan refleksi bagi bangsa Indonesia, khususnya mereka yang sedang menjalankan ibadah haji. Dengan membaca historiografi ini, jamaah haji akan mempunyai kesadaran tentang tanggungjawabnya sepulang dari Makkah. Ada tanggungjawab sejarah yang harus dilanjutkan: yakni menentang ketidakadilan sosial di tengah kontestasi politik global dewasa ini.

Facebook Comments