Haji: Dari Ritual Menuju Aksi Jihad

Haji: Dari Ritual Menuju Aksi Jihad

- in Suara Kita
186
0
Haji: Dari Ritual Menuju Aksi Jihad

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS Ali Imroh ayat 97)

Dalam QS Ali Imron ayat 97 di atas, jelas sekali Allah mewajibkan kepada umat Islam untuk menjalankan ibadah haji. Dalam penjelasan Imam Ibnu Kastir, ayat di atas itulah yang menjadi  dalil atas dasar kewajiban haji oleh mayoritas ulama. Ada sebagian ulama lain menjadikan surah Al-Baqarah ayat 196 sebagai dasar kewajiban haji, “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah kalian karena Allah.”

Karena dasar inilah, haji merupakan ibadah ritual yang contohnya langsung dipraktekkan Nabi Muhammad. Teknis ritualnya sangat gamblang ditegaskan dalam berbagai literatur kitab fiqh. Karena basisnya adalah ritual, maka sangat wajar kalau umat Islam sangat berhati-hati dalam melaksanakan semua hal ritual terkait haji. Semua tak ada yang ingin melewatkan sedikitpun, bahkan yang sunnah sekalipun. Ini tak lain karena untuk berangkat haji membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.

Akan tetapi, terjebak hanya dalam ritual saja sangatlah berbahaya. Karena ritual dalam haji menyimpan jutaan makna yang kontekstual dan transformatif. Umat Islam mesti menggali makna tersebut untuk melakukan aksi kemaslahatan dalam kehidupan sehari-hari.

Haji adalah ritualitas penuh makna. Haji menyimpan misteri makna universal yang telah ditancapkan oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad. Di tengah bangsa yang masih dililit krisis berkepanjangan ini, perlu kiranya kita merefleksikan kembali pengorbanan Ismail dan makna ajaran Ibrahim dalam ibadah haji untuk melakukan langkah-langkah konstruktif dan jitu guna mengentaskan meneguhkan aksi jihad untuk perdamaian dan kemanusiaan.

Baca Juga : Haji Sebagai Sekolah Toleransi

Dalam memaknai haji secara kontekstual, perlu kiranya kita merenungkan mengapa masyarakat Indonesia sangat membanggakan gelar haji? Pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang krusial sekali mengingat keberadaan haji hanya sebatas ritual yang seringkali tidak ditransformasikan dalam kehidupan masyarakat. Bahkan sampai detik ini, bertambahnya gelar Pak Haji atau Bu Hajjah tidak menjadi refleksi seriu dalam menuntaskan berbagai problem kemanusiaan kontemporer.

Aktualisasi Jihad Perdamaian

Kemudian, bagaimanakah membangkitkan spiritual haji menjadi aksi jihad perdamaian dan kemanusiaan?

Haji memang merupakan ajaran dan ritual keagamaan untuk menapaktilasi bapak monoteisme, Ibrahim. Haji adalah sebuah simbol keagamaan yang tidak terlalu berguna bila kita tidak mampu menangkap makna terdalam [welt] dari ritual itu sendiri. Kemampuan menangkap pesan-pesan inilah yang akan menjadikan spirit perjuangan untuk menjadi Ibrahim-ibrahim baru yang nantinya kalau kembali ke tanah air dapat melakukan reformasi lebih lanjut seperti halnya Nabi Ibrahim mereformasi kaumnya ketika itu.

Dalam menguak dibalik ritus-ritus selama perjalanan haji, M Qurais Shihab (1992) dengan apik menjelaskan berbagai pokok makna kontekstual-filosofis yang terkandung dalam haji. Pertama, ibadah haji dimulai dengan niat sambil meninggalkan pakaian sehari-hari dan mengenakan pakaian ihram [putih]. Pakaian yang sama dalam melakukan haji mengindikasikan bahwa semua orang tidak ada diskriminasi dan semua adalah sama. Yang membedakan manusia adalah ketaqwaan disisi-Nya [inna akromakum indaallahi atqokum].

Kedua, dengan memakai pakaian ihram, semua larangan harus diindahkan oleh para pelaku haji. Janganlah menyakiti binatang, janganlah membunuh, dan janganlah mencabut pepohonan. Hal ini mengisyarakatkan bahwa manusia berfungsi memelihara makhluk tuhan. Peran manusia sebagai khalifah dibumi haruslah mampu menjadikan kehidupan dibumi ini penuh dengan ketentraman, kedamaian, saling mengasihi, toleran, dan meniadakan bentuk-bentuk terorisme.

Ketiga, ka’bah yang selalu dikelilingi dalam thawaf merupakan simbol atas nilai-nilai kemanusiaan. Disana misalnya ada hijr Ismail. Sebuah tempat, dimana Ismail dipangku oleh Hajar. Seorang wanita hitam, miskin bahkan budak, yang status sosialnya sangat rendah. Namun demikian, peninggalan wanita itu diabadikan tuhan untuk memberi pelajaran bahwa Allah memberikan status seseorang bukanlah karena keturunan, status sosial, pangkat, jabatan, tetapi karena kedekatannya kepada Allah dan usahanya untuk hijr [hijrah] dari kejahatan menuju kebaikan, dari keterbelakangan menuju peradaban.

Keempat, ibadah thawaf dan sai. Thawaf menggambarkan larut dan meleburnya dalam hadirat ilahi sehingga manusia betul-betul mampu menjadi hatinya khusuk untuk mencintai kepada Allah. Dalam arti, terbentuklah pribadi yang saling mencintai sesama, mengasihi, menolong sesama bukanlah yang menteror sesama. Jika ia seoarang pemimpin maka ia akan mencintai rakyatnya layaknyamencintai keluarganya. Dia akan mementingkan kepentingan rakyat bukan keluarga, dia akan menjadi orang yang pertama lapar bila rakyatnya lapar dan akan menjadi orang yang terakhir kenyang bila rakyatnya kenyang. Sedangkan sai menggambarkan bahwa kehidupan yang kita jalani haruslah dimulai dari kesucian dan ketegaran [shofa] dan diakhiri dengan marwa [sebuah kondisi manusia yang ideal, bermurah hati, memafkan orang lain sehingga kehidupan penuh dengan kedamaian dan ketentraman].

Kelima, wukuf di Arafah dalam keadaan panas sampai terbenamnya matahari. Dengan Arafah [kearifan, kebijaksanaan] manusia diharapkan mampu mencari makna terdalam dalam kehidupan ini yakni makrifat kepada Allah. Disini kita juga bisa menarik benang merah, bahwa suatu bangsa haruslah berpengetahuan luas, bijaksana, dan dapat merasakan pedihnya pedihnya penderitaan rakyat miskin [seperti ketika mereka merasakan panasnya wukuf] tidak malah menekan rakyat dan mengorbankannya untuk kepentingan pribadinya. Untuk itu, setelah kepulangannya nanti, mereka harus mampu memberikan yang terbaik bagi rakyat yang sekarang sadang dilanda duka.

Simbol rutualisme haji ini bila diimplementasikan dalam aksi perdamaian dan kemanusiaan sehari-hari. Semua umat Islam mesti bisa menghayatinya, sehingga akan lahir aksi-aksi perdamaian dan kemanusiaan. Langkah strategis saat ini tentu saja mengkampanyekan makna kontekstual tersebut dalam belantara dunia digital yang penuh tantangan, sehingga makna haji menjadi relevan dengan aksi-aksi kekinian.

Spirit perjuangan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail akan melahirkan aksi perdamaian dan kemanusiaan dalam berbagai bidang kehidupan. Semua tetap bermuara untuk meneguhkan basis ketauhidan dalam diri setiap manusia. Tauhid yang selalu teguh menjaga keyakinan sekaligus selalu peka dalam memecahkan problem kemanusiaan.

Facebook Comments