Haji: Dari Rukun Islam Menuju Rukun Salam

Haji: Dari Rukun Islam Menuju Rukun Salam

- in Suara Kita
177
0
https://jalandamai.org/?p=11294&preview=true

Islam merupakan proses menuju keselamatan (salamah) yang muaranya adalah kedamaian (salam). Secara etimologi, islam  terambil dari kata sallama, yusallimu, islaman, maknanya: menyelamatkan, mendamaikan, berserah diri. Islam sebagai institusi agama adalah sarana (wasilah), bukan tujuan (gayah). Sebab, tujuan utamanya adalah kedamaian (salam) dan keselamatan (salamah).

Sebagai proses, haji adalah salah satu sarana yang wajib ditempuh untuk mewujudkan salam (kedamaian), yang dalam bahasa agama disebut dengan rukun. Haji adalah puncuk dari sarana menuju kedamaian, sebab sebelum melaksanakan rukun yang kelima ini, seseorang harus terlebih dahulu melakukan rukun lainnya, yakni syahadat, salat, puasa, dan zakat.

Hanya orang yang sudah melaksanakan rukun-rukun ini yang bisa dengan hati syahdu menjalani proses haji. Sekalipun haji adalah puncuk rukun Islam, pada hakikatnya jemaah haji tidak boleh berhenti di sini, melainkan harus melampai dan masuk ke dalam salam (kedamaian) dan salamah (keselamatan) –sebagai tujuan puncuk dari rukun Islam itu.

Artinya kita harus membedakan dua hal penting antara sarana di satu sisi dan tujuan di sisi yang lain. Sebab di masyarakat tidak jarang sarana dijadikan tujuan, akibatnya haji hanya sekadar rutinitas tahunan belaka, tidak bisa menciptakan kesalehan sosial. Dalam hal ini, bagaimana agar haji (sarana) bisa sampai kepada  kedamaian (tujuan)?

Refleksi

Para ulama sufi mengatakan agar kita bisa menangkap pesan-pesan yang sangat luar biasa dalam ibadah haji, kita harus menjadikan haji itu sebagai perjalan spiritual. Perjalanan ini dimulai dengan membersihkan hati terlebih dahulu, menjalankan semua syarat, rukun dan sunnah haji, diakhiri dengan refleksi terhadap  diri kita masing-masing. Dengan cara ini, maka haji tidak lagi berhenti hanya sebagai rukun islam.

Baca Juga : Haji Mabrur Sebagai Duta Damai

Refleksi ini bisa diawali dari niat. Setelah berniat  di miqat diiringi dengan memakai kain ihram, maka semua manusia apapun bentuk, statatus, dan jabatanya harus memakai kain putih. Kain putih adalah simbol egalitarianisme, tidak membeda-bedakan manusia. Kaya-miskin, tua-muda, laki-perempuan, arab-non-arab, semuanya sama.

Setelah itu dilanjut dengan tawaf. Tawaf adalah simbol persatuan. Siapun dia, wajib mengelilingi Ka’bah. Di sini ada pelajaran berharga, bahwa tidak mungkin ada persatuan jika tidak didahuluai persamaan dan kesetaraan. Kain ihram sebagai simbol kesetaraan, maka tawaf adalah simbol persatuan.

Habis tawaf lanjut sa’i antara Safa dan Marwa. Gerakan sa’i dengan berlari-lari kecil adalah simbol perjuangan. Perjungan untuk meraih kebahagian. Setelah persamaan, kemudian ada persatuan, baru ada perjungan. Perjuangan tanpa persatuan adalah mustahil terjadi, sebaliknya persatuan tak mungkin terwujud kalau tidak didahului rasa kesamaan. Lagi-lagi, sa’i mengajarkan itu.

Perjalanan pun dilanjut, sekarang wukuf adalah gilirannya. Wukuf dengan berkumpul di Arafah harus direfleksikan sebagai ajaran untuk berhenti dari gemerlap duniawi. Artinya wukuf adalah simbol keikhlasan. Wukuf mengajarkan perjuangan itu harus didasari dengan keikhlasan.

Setelah wukuf, lanjut melempar Jumrah. Jumrah adalah simbol konsistensi dan keberanian. Peristiwa ini adalah napak tilas ketika Hajar, Ismail, dan Ibrahim dalam melawan setan yang menggoda mereka. Jumrah mengajarkan, berjuang ikhlas saja tidak cukup, tetapi harus ada konsistensi dan keberanian.

Proses selanjutnya adalah tahallu. Sebelum tahallu banyak hal yang dilarang, bersetubuh, memakai wangi-wangian, dan sebagainya, maka setelah tahallu itu diperbolehkan. Di sini tahallu adalah simbol keberhasilan. Dengan kata lain, hanya perjuangan yang dilandasi niat ikhlas dengan modal keberanian yang bisa membuahkan hasil.

Persamaan dan kesetaraan (niat-kain ihram), persatuan (tawaf), perjungan (sa’i), keikhlasan (wukuf), keberhasilan (tahallul), jika rentetan proses haji ini direflekaiskan, maka haji bisa membawa pelajaran besar kepada ummat manusia. Maka dalam konteks inilah, kita harus berani menggeser, haji dari sekadar rukun Islam menjadi rukun salam. Dari sarana menuju tujuan. Dengan mendapatkan tujuan ini, maka orang-orang ini disebut dengan haji mabrur. Haji yang bisa merefleksikan proses perjalanan spiritual haji.

Facebook Comments