Haji, Jihad, dan Perdamaian

Haji, Jihad, dan Perdamaian

- in Suara Kita
138
1
Haji, Jihad, dan Perdamaian

Haji secara bahasa mempunyai arti menyengaja atau menuju atau mengunjungi. Sedangkan secara istilah bermakna mengunjungi Baitullah untuk mengerjakan Thawaf, Sa’i, Wuquf di Arafah dan ibadah-ibadah lainnya untuk melaksanakan perintah Allah swt dan mengharapkan ridha-Nya.

Menurut sebagian ulama, ibadaha haji mulai diwajibkan pada tahun 6 hijriyyah. Sedangkan menurut sebagian lainnya, haji mulai diwajibkan kepada umat Islam pada tahun ke-9 hijriyyah. Namun, Nabi saw baru melakukannya pada tahun 10 hijriyyah. Haji diwajibkan oleh Allah swt kepada seorang muslim yang telah baligh, berakal, bukan budak dan mampu.

Aspek terpenting dalam haji adalah mampu, yaitu mampu secara lahiriyah maupun bathiniyah. Dalam hal ini, mampu meliputi beberapa hal diantaranya adalah sebagai berikut; Muslim yang sehat jasmani dan rohani yang sudah mukallaf. Memeliki bekal yang cukup untuk pergi ke Mekkah dan kembali ke tempat asalnya, tanpa mengesampingkan kebutuhan keluarga yang ditinggalkan.  Ada kendaraan yang dapat mengantarkannya  saat pergi ke Baitullah dan kembali ke tanah air. Aman dalam perjalanan yang akan dilaluinya. Didampingi oleh mahramnya bagi  wanita.

Haji adalah salah satu ibadah yang termasuk Jihad fi Sabilillah, dengan alasan seseorang saat berhaji adalah berjihad dengan hartanya, jiwanya, dan badannya. Biaya yang dikeluarkan untuk membiayai haji dianggap sama dengan biaya yang digunakan untuk jihad di jalan Allah swt. Hal ini sebagaimana hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya; “Mengeluarkan biaya untuk keperluan haji sama dengan mengeluarkannya untuk jihad di jalan allah swt, satu dirham menjadi tujuh kali lipat”.

Baca Juga : Haji: Medan Jihad Menuju Perdamaian Sejagad

Dan dari segala keutamaan haji, tentu saja yang paling utama adalah haji yang mabrur yang pahalanya sama dengan jihad di jalan Allah swt. Sebagaimana hadis Rasulullah saw dalam kitab Shahih Bukhori yang diriwayatkan dari Siti Aisyah ra;

يا رسول الله، نرى الجهاد أفضل العمل، أفلا نجاهد؟. قال: لا، لكن أفضل الجهاد حج مبرور.

Artinya; Wahai Rasulullah saw, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah kami berarti harus berjihad? “Tidak, Jihad yang utama adalah haji mabrur”. Jawab Rasulullah saw.

Saat ini sering kita mendengar seruan untuk melakuka jihad membela Islam, yang maknanya serampangan dipahami dengan maksud berjuang dan berjuang. Akan tetapi, sedikit  dari mereka yang mengetahui arti jihad yang sebenarnya, tata caranya dan tujuan sebenarnya. Jihad sendiri memiliki arti berusaha bersungguh-sungguh dengan mengerahkan segala kemampuan. Sedangkan dalam arti yang luas, jihad mempunyai makna menanggulangi musuh yang tampak, setan dan hawa nafsu.

Jihad adalah bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam melakukan kebaikan. Yang dapat dimanifestasikan melalui hati, menyebarkan syariat Islam, dialog dalam mencari kebenaran dan mempersembahkan sebuah karya yang bermanfaat. Salah satu cara untuk melakukan kebaikan dan mempersembahkan sebuah karya yang bermanfaat adalah dengan menjadi haji mabrur, yang kemudian dimanifestasikan dalam membangun masyarakat yang humanis.

Haji adalah momen untuk berjihad menebarkan perdamaian selain momen untuk bertoleransi, karena ketika berhaji kita dikumpulkan dengan berbagai muslim dari penjuru dunia yang sangat plural dalam praktek keagamaan. Namun, kita tetap menjunjung tinggi toleransi diantara perbedaan dan saling menjaga perdamaian satu sama lainnya, tidak menghujat praktek keagamaan muslim lain yang dilakukannya ketika sedang melaksanakan ibadah haji.

Momen ibadah haji juga salah satu bukti bahwa dalam Islam tidak ada pemaksaan dalam hal praktek keagamaan, misalnya mayoritas muslim Indonesia yang bermadzhab Syafi’i yang salah satu pendapatnya bahwa sentuhan lawan jenis membatalkan wudhu. Namun, dalam ibadah haji, justru Islam memberikan kelonggaran untuk memberi kemaslahatan kepada umatnya bahwa tidak selamanya harus selalu mengamalkan satu madzhab saja, apalagi ketika melaksanakan ibadah haji. Karena jika masih menggunakan satu madzhab saja, justru akan memberi kesulitan. Tentu saja, hal tersebut juga harus sesuai dengan aturan-aturan yang ada dalam fikih dan ushul fikih.

Haji adalah momentum menebarkan pesan perdamaian, sebagaimana khutbah terakhir Rasulullah saw ketika Haji Wada’ yang mengajak umatnya untuk menjaga perdamaian. Rasulullah saw mengingatkan kepada umatnya agar selalu menjaga persaudaraan sesama umatnya, karena persaudaraan adalah kunci perdamaian. Di momen haji inilah momen tersebut harus diperjuangkan, agar tidak hanya menjadi sholih secara ritual tetapi juga menjadi sholih secara sosial.

Melihat fenomena di negara-negara Islam, yang sering terjadi konflik antar sesama muslim dengan mengatasnamakan jihad. Tetapi, justru yang ada malah menghalalkan darah sesama saudaranya sendiri, yang sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam yang mengajarkan untuk selalu menjaga persaudaraan sesama umat Islam.

Oleh karena itulah, ibadah haji adalah momentum untuk merajut kembali persatuan, persaudaraan antara sesama umat Nabi saw yang berasal dari seluruh penjuru dunia dengan latar belakang social budaya yang berbeda-beda. Bahwasanya jihad bukanlah menghalalkan darah sesama muslim yang berbeda pandangan, tetapi jihad yang sebenarnya adalah melawan hawa nafsu dan setan dengan menebarkan nilai-nilai perdamaian yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Facebook Comments