Haji, Jihad Keberagaman dan Kesalehan Sosial

Haji, Jihad Keberagaman dan Kesalehan Sosial

- in Suara Kita
186
1
Haji, Jihad Keberagaman dan Kesalehan Sosial

Indonesia melalui Kementerian Agama sudah memberangkatkan 231.000 orang jamaah haji Indonesia. Dengan penambahan kuota 10 ribu dari tahun sebelumnya, maka kuota Indonesia adalah terbanyak, jika dibandingkan dengan negara lain. Ratusan ribu orang ini akan bertemu dengan jutaan manusia lainnya. Salat, berzikir, tawaf, sa’i, wukuf dan sederet ritual ibadah lainnya dilakukan secara bersama-sama.

Haji adalah ibarat konferensi internasional. Jika salat Jumat disebut konferensi mingguan, maka ibadah haji dinamakan konferensi tahunan. Laiknya konferensi, para peserta datang dari berbagai penjuru dengan latarbelakang yang berbeda, baik itu bahasa, ras, budaya, warna kulit, dan kelas sosial. Sekalipun berbeda, semuanya membaur. Setiap orang dengan khusuk beribadah sesuai dengan pemahamannya. Ia tidak menyalahkan apalagi menghakimi cara beribadah orang lain yang berbeda dengannya.

Dari Keberagaman Menuju Toleransi

Keberagaman dalam proses pelaksanaan ibadah haji ini merupakan pelajaran terbesar bagi jamaah, sebab ia bisa belajar bahwa  keber-agama-an ternyata meniscayakan kebe-ragam-an. Keduanya ibarat dua sisi koin mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Orang yang beragama, tetapi tidak bisa memahami keberagaman, maka ia telah gagal memahami agama.

Baca Juga : Air Mata Pendosa

Keanekaragaman latar-belakang dan pehamanan agama yang terdapat dalam proses ibadah haji bisa dijadikan sebagai pelajaran hidup. Beragam model orang salat; banyak variasi orang tawaf; beranekaragam bentuk orang wukuf;  bermacam-macam mazhab cara orang sa’i, jika dihayati, itu merupakan pendidikan toleransi yang sangat luar biasa.

Rasa saling memahami, menghormati, dan menyayangi antar sesama jamaah haji akan menumbuhkan tolerasi yang kuat. Efek positif dari keberagaman ini jangan hanya berhenti di tanah haram saja, tetapi harus dibawa pulang ke tanah air. Sebab, seperti sabda Nabi di atas, ibadah haji yang mabrur itu adalah ketika seseorang bisa menebarkan kedamaian (ifsya al-salam) kepada orang lain. Toleransi adalah kunci kedamaian.

Setelah pulang ke kampung halaman, para jamaah harus tampil beda. Jika sebelumnya tutur katanya masih menyakiti tetangga, harus lebih santu; jika sebelumnya kurang menghargai perbedaan, harus lebih arif menyikapi perbedaan; jika sebelumnya belum bisa membaur dengan masyarakat, harus lebih dekat dan intents dengan masyarakat. Rasa cinta-kasih dan lapang dada harus ditampilkan setelah pulang ke kampung halaman masing-masing.

Dari Toleransi Menuju Kesalehan Sosial

Rasa toleransi sebagai simpul dari proses haji tidak berhenti pada sikap, tetapi harus teraplikasikan ke dalam praktek. Kesalehan sosial adalah praktek langsung dari ibadah haji. Kesalehan sosial merupakan bentuk pembumian ajaran-ajaran agama dalam praksis kemasyarakatan. Kesalehan sosial tidak berhenti dalam ibadah ritual-vertikal kepada Allah, melainkan harus bergerak mempraktekkan nilai-nilai ideal agama itu dalam ibadah sosial-hoarizantal sesama manusia.

Memberikan makan (it’am al-ta’am) adalah kuncinya. Ibadah haji adalah sarana untuk memupuk kepekaan sosial. Semakin peka seseorang terhadap lingkungan sekitarnya pasca pelaksanaan ibadah haji, maka semakin mabrur hajinya. Dengan demikian, ibadah haji sejatinya adalah proses terus-menerus yang tidak pernah berhenti, ia belum selesai walaupun pelaksanaanya di Mekkah-Madinah sudah usai.

Ibadah haji selain mengajarkan toleransi, kedamaian dan rasa persaudaraan dalam tetaran sikap, ia juga mengajarkan kepekaan sosial dan tanggung jawab sosial dalam tataran tindakan. Membantu kaum lemah, memberdayakan orang miskin, dan menolong mereka yang membutuhkan adalah jihad yang sebenarnya yang harus dilakukan. Dengan demikan, haji merupakan proses membebaskan manusia dari belanggu kehinaan, baik itu kemiskinan, kebodohan, pengangguran dan keterbelakangan sosial lainnya.

Mamaknai haji sebagai jihad fi sabillah artinya melaksanakan toleransi dan memupuk kesalehan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga jamaah haji Indonesia mendapatkan haji mabrur. Amin.

Facebook Comments