Haji: Medan Jihad Menuju Perdamaian Sejagad

Haji: Medan Jihad Menuju Perdamaian Sejagad

- in Suara Kita
143
1
Haji: Medan Jihad Menuju Perdamaian Sejagad

Jutaan muslim sedunia mulai berdatangan di Tanah Suci guna menjalankan ibadah haji. Indonesia masih menyumbang jumlah terbesar. Tahun ini, kuota haji Indonesia mencapai 231.000 jemaah. Terdiri dari 214.000 jemaah haji reguler dan 17.000 jemaah haji khusus. Dengan demikian total jumlah jamaah haji Indonesia mencapai 4,34 juta jiwa pada 2019 dan diperkirakan mencapai 5,24 juta jiwa pada Tahun 2022.

Ibadah Haji menjadi ajang silatu­rahmi global terbesar setiap tahunnya. Hal ini dapat menjadi sarana jihad fii sabilillah bagi jamaah dalam memberikan keteladanan dan internalisasi terkait spirit perdamaian global. Harapannya dapat menularkan virus persaudaraan pascahaji.

Silaturahmi juga terjadi dari antar jamaah haji asal Indonesia. Momentum ini penting direfleksikan dan diaktualisasikan dalam kehidupan so­sial dan kenegaraan. Diantaranya me­refleksikan spirit dan nilai haji guna merevitalisasi silaturahmi kebangsaan melalui spirit nasionalis­me. ­Selain itu juga merevitalisasi silatu­rahmi global guna mewujudkan per­damaian antar manusia sejagad.

Ajaran Perdamaian Global

Ajaran Islam bersifat universal dan dakwahnya menganut globalisme. Tetapi Islam juga tidak menafikkan dan bahkan mendorong terbangunnya nasionalisme. Tentu nasionalisme yang tidak bertentangan dengan globalisme Islam. Keduanya mesti seiring sejalan. Kearifan Islam ini mesti dipahamkan dan ditanamkan kepada kaum muslim agar dapat meng­aktualisasikan ajaran secara seimbang.

Baca Juga : Haji sebagai Jihad yang Paling Afdol

Islam adalah agama rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil álamin). Ia mengayomi seluruh penjuru bumi tanpa membedakan sekat SARA maupun negara. Universalitas atau globalitas islam menyerukan kepada semua manusia, tanpa memandang bangsa, suku bangsa, warna kulit dan deferensiasi lainnya. Hal ini dijelaskan Allah SWT. dalam al-Qur’an, ”Al -Qur’an itu hanyalah peringatan bagi seluruh alam” (Qs. at Takwir:27).

Di sisi lain Islam juga mengakui eksistensi entitas atau komunitas di setiap levelnya, seperti negara. Pada zaman Nabi SAW dan sebelumnya telah eksis adanya suku atau kabilah-kabilah di Arab. Kedatangan Islam adalah mendamaikan dan mempersaudarakannya. Islam sama sekali tidak menghapusnya. Sikap cinta dan bangga terhadap sukunya tidak dilarang, namun tetap dalam koridor ajaran Islam.

Aktualisasi nasionalisme dalam konteks ke-Indonesiaan telah memiliki bukti kuat yaitu kesuksesan mengusir penjajah di era prakemerdekaan. Spirit nasionalisme berbalut jihad telah menggelorakan rakyat dalam perjuangan tersebut. Jihad yang dilakukan adalah memerangi penjajah yang selaras dengan ajaran Islam.

Ironisnya, dalam konteks keki­nian kelompok penganut radikalisme justru menolak nasionalisme. Padahal jihad menjadi salah satu puncak pembuktian pahamnya. Pandangan sempit seperti ini perlu dipatahkan dan dipahamkan kepada kaum muslim agar tidak mudah terpengaruh nanti­nya.

Islam dan nasionalisme bahkan bagai dua sisi mata uang. Al-Bana dalam risalah al-mu’tamar al-khamisnya, misalnya mengatakan, “Relasi antara Islam dan Nasionalisme tidak selalu bersifat tadhadhud atau kontradiktif. Menjadi muslim yang baik tidak selalu berarti antinasionalisme.”

Sedangkan Dr. Zaid Abdul Karim dalam bukunya Hubbul Wathan, menyatakan bahwa nasionalisme ada­lah tanggung jawab individu terhadap negaranya yang bersesuaian dengan ajaran Islam. Nasionalisme harus dalam koridor dan bingkai agama . Sebagaimana difirmankan Allah SWT, “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan;…” (QS. al Baqarah: 84-85).

Sesuai juga dengan sabda Nabi SAW, “Sungguh engkau, Makkah, adalah negeri paling indah dan pa­ling aku cintai. Kalau bukan karena kaumku mengusirku darimu niscaya aku tidak akan tinggal di tempat lain selainmu” (HR. Tirmidzi dan al-Hakim).

Aktualisasi Nilai Haji

Kearifan ajaran dan nilai Islam di atas membutuhkan aktualisasi yang tepat, yaitu kemampuan menyelaraskan globalisme dan nasionalisme. Globalisasi telah menjadi keniscayaan di era sekarang ini. Faktanya globalisasi seakan hanya menjadi tameng negara besar melakukan invasi budaya dan ekonomi ke negara berkembang dan miskin. Hal ini jelas tidak sesuai dengan prinsip globalisme Islam.

Islam mesti hadir memberi solusi menghadapi dilema globalisasi. Tentu solusi yang berkedamaian. Seja­tinya penguatan nasionalisme dapat menjadi benteng atas gelombang globalisasi. Meskipun hal ini minimalis karena bersifat defensif.

Nasionalisme kontemporer pen­ting dikuatkan, misalnya memba­ngun kedaulatan ekonomi, politik, pa­ngan, dan lainnya. Namun tetap me­nerapkan prinsip globalisme dengan menjalin kerjasama internasional. Catatannya adalah terbangun kerja­sama saling menguntungkan dan tidak ada motif invasi di balik layar.

Tantangan aktualisasi globalisme kekinian salah satunya adalah dalam upaya menciptakan perdamaian du­nia. Faktanya, masih terdapat banyak konflik di beberapa negara. Awalnya konflik internal, tetapi berikutnya masuk campurtangan negara lain dan menjadi semakin kompleks. Negara Islam atau berpenduduk mayoritas Islam seperti Indonesia mesti hadir menjadi bagian solusi. Prinsip Islam dapat diterapkan dalam hal perdamaian

Menjalankan globalisme dan me­nguatkan nasionalisme secara seimbang dan selaras memang bukan perkara mudah. Disinilah justru menjadi tantangan dan dalam Islam nilai ibadahnya semakin tinggi. Globalisme dan nasionalisme mesti dijalankan dalam satu koridor yaitu membangun kedamaian dan berorientasi kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat.

Facebook Comments