Haji sebagai Jihad yang Paling Afdol

Haji sebagai Jihad yang Paling Afdol

- in Suara Kita
172
3
Haji sebagai Jihad yang Paling Afdol

Haji merupakan rukun Islam kelima setelah syahadat, shalat, zakat dan puasa. Haji menjadi ibadah tahunan yang diidam-idamkan hampir semua umat muslim di dunia. Tidak seperti rukun Islam yang lainnya, Allah hanya mewajibkan ibadah haji bagi umat Islam yang mampu. Baik kemampuan fisik, mental maupun material. Kewajiban menunaikan ibadah haji bagi yang mampu tertuang dalam surat Ali Imran ayat 97

…وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”

Selain itu juga ada hadits Bukhari dan Muslim yang dijadikan dasar atas kewajiban berhaji bagi orang-orang yang mampu :

بُنِىَ الاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اﷲُ٬ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اﷲِ٬ وَاِقَامِ الصَّلاَةِ وَاِيْتَاءِ الزَّكاَةِ ٬ وصَوْمِ رَمَضَانَ ٬ وَحِجِّ الْبَيْتِ لِمَنْ اِسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً

“Islam dibangun atas lima perkara; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadan dan melakukan haji ke Baitullah bagi orang yang mampu melakukan perjalanan ke sana (Muttafaqun ‘Alaih).”

Semangat berhaji umat muslim dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Bahkan jika saat ini kita hendak mendaftarkan haji kita harus menunggu paling tidak sekitar 20 tahun untuk diberangkatkan ke tanah suci. Selain itu melaksanakan ibadah haji juga membutuhkan uang yang tidak sedikit, bukan hanya untuk ongkos berangkat dan hidup selama di tanah juga namun juga untuk meninggalkan keluarga khususnya anak-anak yang ditinggal beribadah ke tanah suci.

Baca Juga : Haji : Silaturahmi Global Dan Refleksi Deradikalisasi

Ini menunjukkan bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang penuh dengan perjuangan baik secara materi, fisik, mental hingga waktu. Namun hal ini tidak pernah menyurutkan semangat umat muslim untuk menunaikan ibadah dan mencapai ridho Allah SWT.

Dalam pelaksanaannya pun menjalankan ibadah haji tidak semudah menjalankan rukun Islam yang lainnya. Banyak rukun dan kewajiban yang harus dipenuhi. Diantara rukun-rukunnya adalah Ihram, Wukuf di Arafah, Thawaf, Sai diantara Shafa dan Marwah, Tahallul atau mencukur rambut di kepala dan tertib. Kewajiban yang harus ditunaikan diantaranya adalah melakukan ihram dari Miqat, berdiam di padang Arafah hingga terbenam matahari, bermalam di Mudzdalifah, melempar jumroh, bermalam di Mina dan thawaf wada.

Banyaknya perjuangan untuk menunaikan ibadah haji sejak niat hingga pelaksanaannya menjadikan ibadah haji menjadi ibadah yang paling afhal. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dijelaskan bahwa amalan yang paling afdhol, haji adalah sebaik-baiknya jihad yang dilakukan umat muslim.

Dari ‘Aisyah RadhiaAllahu ‘anha, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »

Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama (afdhol) adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520)

Haji Pertama dan Terakhir Rasulullah SAW

Ibadah haji wajib dilakukan oleh yang mampu setidaknya sekali seumur hidup. Hal ini dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dimana semasa hidupnya beliau hanya melakukan ibadah haji sebanyak satu kali.

Tidak hanya kita sebagai manusia biasa, bahkan Rasulullah SAW pun membutuhkan perjuangan yang luar biasa untuk dapat melaksanakan ibadah Haji. Rasulullah bersama umat muslim baru bisa menaklukkan kembali kota Makkah pada tahun ke 8 Hijriyyah, penaklukkan ini disebut sebagai Fathul Makkah.

Di tahun ke 9 Rasulullah mengirim Abu Bakar untuk memimpin pelaksanaan ibadah haji bersama kaum muslimin. Rasulullah tidak bisa ikut serta sebab masih terikat dengan perjanjian Hudaibiyyah yang melarang Rasulullah SAW memasuki Kota Makkah. Barulah pada tahun 10 Hijriah Rasulullah dapat menjalankan ibadah haji, kurang lebih tiga bulan sebelum beliau meninggal dunia. Haji pertama dan terakhir yang dilakukan Rasulullah dalam hidupnya ini kemudian disebut sebagai Haji Wada yang artinya haji perpisahan.

Pada pelaksanaan Haji Wada inilah Rasulullah SAW menerima wahyu terakhir yakni Surat Al-Maidah ayat 3

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (3)

Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku cukupkan kepada kalian Nikmat-Ku. dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian. Maka  barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa. sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al-Maidah 3).

Facebook Comments