Haji Sebagai Sekolah Toleransi

Haji Sebagai Sekolah Toleransi

- in Suara Kita
169
1
Haji Sebagai Sekolah Toleransi

Kemajemukan merupakan suatu keniscayaan dalam proses ibadah haji. Manusia dari berbagai penjuru negeri datang memenuhi panggilan ilahi. Beragam bahasa, warna kulit, budaya, latar belakang politik, dan pemahaman keagamaan, itu sudah pasti. Kaya-muda, laki-perempuan, pejabat-rakyat semuanya bervariasi. Semua primordialisme dan identitas sosial melebur, khusuk dalam dekapan Kota Suci.

Ya. Itulah haji, sekolah toleransi. Selalu mengajarkan kasih dan saling menyayangi. Kesetaraa dan persamaan selalu dijunjung tinggi. Sekalipun beda kelas sosial, tetapi pada waktu ihram, semua memakai kain putih. Sekalipun beda postur tubuh, semuanya mengelilingi Ka’bah yang harus ditunai. Sekalipun beda partai dan ideologi, tetapi ketika sa’i semuanya harus berlari.

Haji selalu mengajarkan, bahwa keragaman dan perbedaan –dalam apapun itu –adalah suatu kenikmatan bila disakapi dengan ketenangan hati. Pelajaran berharga ini, bukan hanya sekadar di tanah suci, tetapi harus dibawa pulang ke tanah air yang kita cintai. Tanah air yang bila direnungkan sama heterogennya dengan Kota Suci.

Pelajaran toleransi yang didapat di tanah suci itu adalah modal untuk ikut mengampanyekan kedamaian. Seperti sabda Nabi, salah satu ciri haji mabrur itu adalah ifsya al-salam, menebar kedamaian. Tak mungki ada kedamaian di muka bumi ini, jika tidak ada jiwa toleransi; dan tidak mungkin ada jiwa toleransi, jika tidak mau belajar dari keberagaman. Belajar keberagaman, salah satu tempat terbaiknya adalah haji.

Jihad menyebarkan kedamaian merupakan tugas yang harus diemban oleh para jemaah. Sebab, menilai seseorang berhasil atau tidak dalam proses haji, dilihat setelah pulang ke kampung halaman. Haji pada hakikatnya hanyalah sekolah, tempat berperoses dan menimba ilmu. Dalam konteks haji, tidak ada pelajaran yang paling berharga melebihi belajar tentang kemajemukan, yang bisa membuat orang yang menghayatinya menjadi damai dan toleran.

Baca Juga : Haji dan Jihad Menegakkan Spirit Kebangsaan

Apa makna damai dalam konteks Haji? Kita bisa merujuk pada surah at-Tin, ayat 3. Surah itu berbunyi:

وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ

Dan demi kota (Mekah) ini yang aman,

 Ayat menyatakan bahwa Mekkah –tempat menunaikan haji –adalah kota aman. Aman dari peperangan, perampokan, dan pertumbahan darah. Inilah sebabnya ia disebut dengan kota harm, kota mulia penuh kenyamanan dan kedamaian. Setiap orang yang pernah berkunjung ke kota ini, akan memendam rasa rindu untuk kedua, ketiga kalinya.

Maka dalam konteks haji mabrur, orang-orang alumni kota suci ini harus bisa memberikan rasa aman kepada lingkungannya, laiknya kota Mekah. Orang yang sudah berhaji harus aktif menjaga persatuan dan kesatuan; rasa persaudaraa; rasa saling membantu; ketika sampai di tanah air.

Virus radikalisme yang mau mengoyak-oyak rasa keharmonisan dan hubungan masyarakat dan komunikasi antar agama harus dilawan. Dan para haji ini, harus menjadi bagian aktif  dari gerakan perlwanan ini.

Haji sebagai identitas yang dihormati dan sakral, bisa memberikan sumbangsih nyata dalam menyebarkan nilai-nilai perdamaian. Jika para haji dulu aktif berjuang melawan penjajah demi mewujudkan rasa keamanan dan kedamaian di dalam masyarakat, maka haji sekarang juga harus aktif melawan setiap gerakan yang merusak keamanan negara.

Pengalaman berharga yang didapat di Mekkah-Madinah harus dibawa ke rumah dan kampung halaman masing-masing. Dalam konteks ini, bisa dikatakan sejatinya oleh-oleh haji itu bukanlah sajadah tebal, karpet bagus, air zamzam, dan seterusnya, melainkan pelajaran toleransi yang didapat di sana, kemudian berjihad menerapkannya di lingkungan masing-masing. Semoga jamaah haji kita membawa oleh-oleh berharga itu. Amin.

Facebook Comments