Hakikat Kebebasan dan Upaya Bersama Melawan Ujaran Kebencian

Hakikat Kebebasan dan Upaya Bersama Melawan Ujaran Kebencian

- in Suara Kita
100
0
Hakikat Kebebasan dan Upaya Bersama Melawan Ujaran Kebencian

Akhir-akhir ini marak beredar ujaran kebencian di jagad media sosial. Kali ini, viralnya ujaran kebencian dihubungkan dengan Habib Bahar bin Smith yang turut membuat hebih jagat maya beberapa waktu terakhir. Bagaimana pun, ujaran kebencian merupakan bentuk tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Hal ini karena ujaran kebencian dapat memicu perpecahan dan segregasi sosial.

Perlu dipahami, akhir-akhir ini marak sekali orang yang mengumbar ujaran kebencian dengan mengatasnamakan kebebasan berpendapat yang notabene menjadi hak setiap warga negara Indonesia. Padahal, kebebasan dalam menyampaikan pendapat sejatinya tetap harus dilandasi oleh sikap tanggung-jawab diri secara personal. Artinya, setiap pendapat atau kritik yang dilontarkan harus mempertimbangkan aspek kesadaran terhadap nilai etis dan kesadaran objektif dalam berpendapat.

Dalam konteks tersebut, penyampaian pendapat harus didasari oleh nalar dan etika yang sehat. Plato dalam bukunya berjudul ‘Republik’ yang ditulis olehnya sekitar 360 SM menjelaskan, “Freedom is actually the best (virtue)  of democracy. But, democracy will suit a spiritually healthy human being” (Kebebasan sejatinya jalan (kebajikan) demokrasi yang terbaik. Tetapi demokrasi adalah keadaan yang hanya cocok untuk manusia yang sehat ruhaninya).

Sebaliknya, tanpa nalar dan ruhani yang sehat, kebebasan tidak akan menjadi kebajikan. Kebebasan justru menjadi paradoks bagi demokrasi. Chantal Mouffe menyebut “paradox of democracy” sebagai fenomena ketika demokrasi justru melahirkan kebebasan yang mengancam stabilitas sosial dan ketahanan nasional.

Dalam konteks Indonesia, paradoks demokrasi mewujud pada semakin maraknya ujaran kebencian dan kian meruncingnya polarisasi di tengah masyarakat akibat narasi adu domba, politik identitas dan sara. Paradoks demokrasi sungguh menjadi problem serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Fenomena merebaknya pendapat dan kritik yang berisi ujaran kebencian secara langsung telah menghadirkan ancaman serius pada ketahanan nasional karena memicu segregasi sosial dan perpecahan antarsesama warga negara.

Maka itu, dalam berpendapat atau kritik, penting untuk menggunakan kata-kata santun dan tidak berbasis kebencian. Ini karena ucapan yang didasarkan pada kebencian akan mendelegitimasi kebenaran fakta yang berkebalikan dengan narasi kebencian tersebut. Jika itu terjadi, hoaks pun juga turut disebar bebas sehingga mengantarkan pada perpecahan antarsesama warga negara.

Dari sini, jelas bahwa ujaran kebencian bukanlah cermin dari kebebasan berpendapat yang dijamin oleh undang-undang. Hal ini karena ujaran kebencian hanya memicu orang untuk saling berselisih dan tidak bersatu. Yang mana, sikap-sikap tersebut sangat bertentangan dengan perspektif kebajikan dalam kebebasan dan nilai-nilai luhur Pancasila yang kita junjung bersama.

Jadi, kebebasan berpendapat, penting untuk bertumpu pada moralitas bangsa yang didasarkan pada nilai-nilai luhur Pancasila. Dimana, kebebasan selalu menekankan aspek ‘musyawarah mufakat’ dan persatuan. Tanpa itu, kebebasan akan menjadi kebablasan dan mengalami salah kaprah.

Upaya Bersama

Ujaran kebencian mencerminkan arogansi pihak yang membagikan narasi ujaran kebencian. Dari arogansi yang banal itu, sangat mungkin akan muncul segregasi. Sebagai warga negara, wajib bagi kita untuk bersama-sama memerangi ujaran kebencian. Hal ini agar Indonesia tetap harmoni dan tidak terpecah-belah.

Pertama, menyetop ujaran kebencian dari diri sendiri. Dalam konteks ini, kita mulai dari diri sendiri dengan menunjukkan sikap santun dalam sosmed dan kehidupan realita. Di sosmed, kita jangan sampai menyebarkan ujaran kebencian baik melalui unggahan pribadi atau membagikan postingan orang lain. Kedua, hentikan sosmed kita dari mengikuti tokoh-tokoh yang sering menyebar hoaks, fitnah dan ujaran kebencian.

Keempat, mengkampanyekan pentingnya santun dalam sikap dan bermedia sosial. Kelima, melakukan verifikasi informasi jika menemukan hoaks dan ujaran kebencian yang beredar di media sosial. Agar, kita juga tidak terjebak dalam kebencian yang serupa dengan konten-konten yang beredar di timeline media sosial kita.

Keenam, kolaborasi membangun media sosial yang bebas dari ujaran kebencian, hoaks, fitnah dan adu domba. Dengan kolaborasi, memudahkan bagi kita untuk mencapai tujuan bersama membersihkan jagad media sosial dari konten yang berisi ujaran kebencian, hoaks dan adu domba. Terakhir, lakukan internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kita secara menyeluruh. Agar, selain medsos semakin bebas dari narasi-narasi fitnah, ujaran kebencian, dan adu domba, dalam kehidupan sehari-hari, kita juga bisa mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila secara menyeluruh. Agar, kita tetap terus bisa hidup dalam harmoni meskipun hidup di tengah perbedaan. Selalu berpegang teguh prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi tetap satu. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Facebook Comments