Hakikat Ulama Sesungguhnya

Hakikat Ulama Sesungguhnya

- in Suara Kita
1061
0
Hakikat Ulama Sesungguhnya

Tertangkapnya anggota Komisi Fatwa MUI atas dugaan keterlibatannya dengan jaringan radikalisme-terorisme, tentu membuat publik terkejut. Pasalnya, lembaga yang selama ini beranggotakan para tokoh agama dan ulama berhasil disusupi oknum teroris. Meski ini membuat kita miris, namun terungkapnya para oknum terlibat teroris ini sekaligus menegaskan bahwa teroris itu begitu liar, tak pandang bulu, tak ada yang kebal dari virus ini, dan siapapun bisa berpotensi terjangkit.

Perlu dipahami maraknya oknum yang terlibat terorisme itu di antaranya karena pemahaman agama yang keliru. Tokoh agama yang terkena doktrin pemikiran radikal, fundamental, dan takfirisme yang selama ini menjadi akar penyebab seseorang menjadi bertindak terorisme. Tapi, kita harus paham bahwa ulama sesungguhnya pasti tak akan bertindak terorisme. Artinya, mana kala ada seorang ulama terlibat teroris, maka secara langsung orang tersebut bukanlah ulama lagi. Karena ulama sesungguhnya pastinya mempunyai benteng yang kokoh untuk menangkal dari doktrin pemikiran radikal-teroris.

Memang, tidak dapat dipungkiri di negeri bhinneka ini masih ditemukan kelompok-kelompok radikal-fundamentalis Islam. Ini yang seringkali menjadi agen pencetak juru dakwah atau tokoh agama berhaluan teroris. Dan ini juga adalah sebab musabab adanya Islamophobia. Namun, yang jelas kita sebagai umat Islam yang rahmatan lil ‘alamin, secara tegas bahwa kelompok tersebut bukanlah Islam.

Banyak dari kaum radikalisme dan ekstremisme yang menilai terorisme sama dengan jihad. Sebagai agama yang bersifat rahmatan lil-alamin menjadi aneh manakala Islam dituduh mengajarkan dan menganjurkan terorisme. Jihad tidaklah sama dengan terorisme. Jihad dilakukan berdasarkan aturan-aturan syari yang telah ditetapkan, sedangkan terorisme relatif tanpa aturan. Jihad juga mengedepankan hak-hak asasi manusia, sedangkan terorisme menafikan hal itu.

Sebab itu, tidaklah sama antara jihad dan terorisme. Yang terjadi sesungguhnya adalah pemahaman yang sempit atau miskonsepsi terhadap ajaran ideal Islam atau bisa jadi menggunakan kedok Islam sebagai alasan mencapai tujuan yang diinginkan. Penyusup dan pengkhianat agama seperti ini justru sangat berbahaya, ibarat musuh dalam selimut.

Ulama sesungguhnya tak akan berlaku terorisme. Bahkan, ulama sesungguhnya justru akan berperan strategis dalam deradikalisasi dan menentang terorisme. Ulama sebagai sebuah institusi sosial-keagamaan memainkan peran penting terutama dalam masyarakat muslim yang masih menganut budaya paternalistik dan memelihara pola kepemimpinan tradisional patron-client. Ulama adalah orang yang tidak hanya mempunyai pengetahuan tentang ayat-ayat Allah tetapi lebih dari itu juga berpengetahuan luas tentang fenomena alam disebut “ulama” (Shihab, 2007:611). Ini sekali lagi menegaskan teroris itu bukan ulama.

Dalam kaitannya dengan kasus terorisme, ulama sejatinya adalah elit muslim yang selama ini berperan banyak bagi umat, di antaranya bersinergi dengan umara (pemerintah), agar dapat memunculkan solusi sehingga umat Islam terbebas dari bahaya terorisme. Pun demikian ulama sudah mengetahui mengenai seluk beluk bahaya terorisme, sehingga berperan memberi pemahaman kepada umatnya terkait bahaya terorisme. Ulama moderasi seperti ini lah yang seharusnya menjadi rujukan umat, bukan malah oknum radikal atau teroris.

Ulama moderat selama ini berdakwah secara sederhana menyampaikan pesan-pesan Allah SWT kepada umat Islam mengenai bahaya paham radikal dan terorisme. Yang penting dipahami saat ini adalah menangkal terorisme tentu diperlukan peran serta tokoh agama dan masyarakat. Kontribusi ulama, mubaligh, ustadz, dan da’i dalam memberikan pengajaran, pemahaman ajaran Islam yang damai, beragama yang moderat, dan Islam rahmatan lil alamin sangat diperlukan dalam menangkal terorisme. Harapannya dengan sinergi antara ulama, umara (pemerintah), dan segenap masyarakat terorisme akan mudah ditumpas.

Facebook Comments