Halal Bihalal dan Deradikalisasi Dunia Maya

Halal Bihalal dan Deradikalisasi Dunia Maya

- in Suara Kita
313
2

Halal bihalal merupakan tradisi khas Indonesia. Ia dicipta sebagai wadah perjumpaan lintas batas. Sekalipun secara historis, maksud awalnya adalah perjumpaan politik, akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya ia berkembang sebagai wadah silaturrahmi, maaf-maafan, bahkan dalam beberapa hal sebagai tempat konsolidasi. Halal bihalal sudah menjadi tradisi yang menjamur dan mendarah daging dalam setiap profesi, intansi, dan intitusi mana pun di negeri ini. Hampir bisa dipastikan, tidak ada lembaga –baik negeri atau swasta –yang absen dalam melaksanakan acara sacral ini.

Letak strategis halal bihalal ini perlu dimaksimalakan, bukan hanya sekadar tradisi syawalan, salam-salaman, atau rutinitas tahunan belaka, tetapi harus dijadikan sebagai pintu masuk untuk membangun persatuan dan kesatuan. Dengan demikian, halal bilal menjadi persekutuan sempurna dalam lapisan masyarakat. Aku, kamu, dia, mereka melebur dan menyatu dalam satau kata: kita. Kita adalah kata yang menggambarkan bahwa, sekat-sekat identitas, preferensi politik, ekonomi, bahkan agama, hancur. Semuanya tertuju pada rasa kekitaan.

Baca juga : Cerdas Ber-Medsos, Cegah Pesan Radikal

Peleburan identitas dalam bahasa  kanjeng Nabi ibarat sebuah tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain juga ikut merasakan sakit. Ini adalah wujud persekutuan sempurna dan autentik. Meminjam bahasa Gabriel Marcel, halal bihalal bisa dijadikan sebagai persekutuan sempurna, tempat bertemunya aku dengan engkau secara pribadi, sehingga aku-engkau menjadi kita.

Semangat halal bihalal ini seharusnya bukan hanya berhenti di dunia nyata, melainkan juga harus mewujud dalam dunia maya. Media sosial yang rentan terhadap paham-paham radikalisme, intoleransi, ujaran kebencian, serta fenomena hoax yang menjamur bisa diminimalisir –atau dalam level tertentu –bisa dihilangkan, jika semangat persekutuan dan rasa kekitaan itu ditransfer ke dalam media sosial. Selama ini, banyak terjadi keterbelahan individu (split personality) di antara anak bangsa. Ada yang baik di dunia nyata, tetapi galak, suka fitnah dan hoax di dunia maya; ada yang saleh secara individu, tetapi secara sosial di media sosial akhlaknya bobrok, suka memprovokasi, bahkan ikut-ikutan hoax dan ujaran kebencian.

Deradikalisasi dunia maya hanya bisa dijalankan ketika setiap pengguna media sosial mempunyai satu rasa, yaitu rasa kita. Bahwa individu di luar dirinya, juga bagian dari dirinya. Akun yang dia like, share, komentari adalah organ tubuhnya yang lain. Jika dia menyakitinya, menyebar hoax itu sama saja dengan menyakiti dirinya sendiri. Prinsip utamanya adalah jika kamu senang orang lain berbuat baik kepadamu, maka hal yang sama, orang lain juga senang jika dirimu berbuat baik kepada mereka. Begitu juga sebaliknya, jika kamu benci orang lain berbuat jahat kepada dirimu, saat yang sama, orang lain juga benci jika kamu berbut jahat pada diri mereka.

Media sosial pada dasarnya adalah media netral. Ia berfungsi sesuai si pengguna. Maka dalam rangka deradikalisasi hal yang utama dilakukan –menurut penulis –bukanlah memblokir media sosial atau filterisasi konten, melainkan menanamkan kesadaran dan semangat kekitaan di setiap hati anak bangsa. Tanpa rasa kekitaan dan persaudaraan serta persekutuan yang sempurna sebagaimana digambarkan di atas, maka rasanya sangat sulit menjalankan program radikalisasi.

Halal bihalal sekali lagi adalah memon dan tempat yang sangat tepat untuk memmupuk kembali rasa persuadaraan, kekitaan, dan persekutuan anak bangsa. Usaha-usaha untuk meneransfer semangat halal bihalal ke dunia maya perlu dilaksnakan sedini mungkin. Kerja-kerja kreatif harus digalakkan, agar halal bihalal tidak kehilangan ruh semangat dan momentumnya.

 

Facebook Comments