‘Hantu’ NII Rasuki Perguruan Tinggi?

‘Hantu’ NII Rasuki Perguruan Tinggi?

- in Suara Kita
724
0
‘Hantu’ NII Rasuki Perguruan Tinggi?

Berita puluhan remaja di Garut yang dibaiat oleh NII (Negara Islam Indonesia) sejatinya bukan persoalan baru. Artinya, jauh sebelum berita itu mencuat, sejatinya NII sudah melakukan gerakan sejak dahulu kala, namun mereka cenderung ‘senyap’.

Dengan demikian, yang perlu mendapat persoalan lebih serius dari fenomena di atas adalah, bagaimana pemerintah, ormas Islam dan seluruh warga Indonesia bersatu padu membendung gerakan bawah tanah yang dilakukan oleh NII.

Lebih-lebih penyebaran NII di dunia kampus atau perguruan tinggi. Dunia kampus memiliki banyak perbedaan dengan pendidikan dibangku sekolah (SMA sederajat). Tidak hanya pada aspek waktu dan metode belajarnya saja yang berbeda. Namun, lingkungan dan budaya juga berbeda. Kondisi inilah yang menjadi salah satu sebab mahasiswa gampang terpapar paham radikal seperi NII.

Seperti yang diketahui, bahwa sejak reformasi digulirkan pada tahun 1998 silam oleh mahasiswa dan masyarakat, membawa bangsa ini dalam euforia ‘kebebasan’ sehingga memunculkan banyak gerakan baru, termasuk gerakan keagamaan. Proses remormasi itu juga menjadi tanda menggeliatnya gerakan keagamaan di perguruan tinggi. Fenomena ini sangat menggembirakan terlebih pada sebelum reformasi, berbagai gerakan diberangus oleh rezim kala itu.

Namun, reformasi, sekali lagi, membawa angin segar dalam perikehidupan sosial masyarakat. Dalam iklim demokrasi yang sangat masif ini, organisasi yang berlandaskan keagamaan tumbuh subur, termasuk di perguruan tinggi (Herman Beni dan Arief Rachman, 2019: 192). Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam, dan yang saat ini gencar, yakni NII mulai mendeklarasikan diri dan menancapkan kakinya di berbagai tempat, termasuk kampus-kampus.

Kampus yang dihuni oleh beragam mahasiswa yang berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang, menjadi modal besar tersendiri untuk menciptakan suatu perubahan besar. Dan inilah diantara tujuan utama sebuah kampus didirikan. Namun, pada hal lain, justru banyak mahasiswa yang menjadi lahan empuk bagi gerakan-gerakan yang dampaknya membawa keresahan bagi masyarakat dan menjadi ‘batu sandungan’ bagi kedamaian dan ketentraman negara.

Memang benar. Penetrasi kelompok radikal dalam melakukan indoktrinasi ideologi mereka sudah menyasar banyak mahasiswa. Sangat banyak kajian dan survei mengenai radikalisme di kampus. Hasilnya mengatakan bahwa arus radikalisme di kampus sudah masuk tingkat mengkhawatirkan. Survei SETARA Institute pada 2019 silam misalnya, menyebutkan bahwa setidaknya ada 9 PTN yang terpapar virus radikalisme dengan tingkat berat.

Menetralisir Melalui Para Dosen

Mengingat arus radikalisme di kampus semakin meningkat, tentu musim penerimaan mahasiswa baru dan proses belajar bagi mahasiswa baru telah berjalan, maka kampus seyogyanya menaruh perhatian lebih dan serius akan potensi intoleransi dan radikalisme yang mudah menyusup dan menginfiltrasi mahasiswa.

Artinya, selain kampus idealnya mempunyai ‘master plan’ yang menunjang kepada peningkatan intelektual, wawasan kebangsaan dan keagamaan sebagai benteng terhadap serangan bertubi-tubi ideologi radikalisme, para dosen juga dituntut mengambil peran dalam konteks ini.

Merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 tahun 2009 dan Perpres Nomor 10 tahun 2016 terdapat penjelasan bahwa: “Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.”

Dengan demikian, unsur pendidik sangat melekat pada diri dosen. Hal ini menjadikan dosen memiliki peran penting dalam hal pengembangan dan pengetahuan mahasiswa. Dan posisi ini sesungguhnya sangat efektif dalam menetralisir radikalisme yang menyusup ke kampus.

Langkah Strategis

Oleh karena itu, ada beberapa langkah strategis yang harus diperankan oleh dosen dalam rangka menetralisir radikalisme NII dan lainnya di kampus. Pertama, harus lebih meningkatkan kepedulian terhadap para mahasiswa.

Jujur diakui bahwa mahasiswa bisa sampai terpapar radikalisme, salah satu penyebab utamanya, adalah kurangnya perhatian dosen terhadap mahasiwa. Memang, mahasiswa bukanlah murid SMP atau SMA yang harus ‘tunduk’ dan patuh pada guru. Mahasiswa memiliki kebebasan. Namun demikian, bukan berarti seorang dosen lepas tangan begitu saja.

Nuriyah (2014) menegaskan bahwa adanya penelaahan pencapaian tujuan pembelajaran yang dilakukan oleh pengajar dapat menjadi indikator; apakah proses belajar mengajar yang dilakukan oleh pengajar sudah efektif atau justru sebaliknya.

Dengan demikian, tugas seorang dosen sebenarnya bukan hanya ketika di ruang kelas saja, melainkan juga memperhatikan hal-hal di luar kelas. Bagaimana pun juga, dosen juga harus memperhatikan ‘pergaulan’ mahasiswanya sehingga apabila terindikasi kuat tergabung dalam gerakan radikalisme misalnya, dosen tersebut bisa segera menyadarkannya.

Kedua, harus secara berkesinambungan dan aktif mengingatkan para mahasiswanya untuk dapat menghindari kegiatan-kegiatan yang mendorong pada radikalisme dan terorisme. Mahasiswa baru dan fakultas-fakultas umum harus mendapatkan perhatian yang lebih dari para dosen. Hal ini dikarenakan kelompok radikal selalu mengintai mereka untuk dimasukkan dalam perangkap mereka karena mahasiswa tersebut yang paling mudah diindoktrinasi.

Mendidik, mengajar, melatih, membimbing dan mengevaluasi adalah peran dosen. Oleh sebab itu, dosen juga turut betanggung jawab memastikan mahasiswanya tidak terjerumus pada ‘jurang’ radikalisme. Untuk itu, dosen juga harus terlibat aktif aktivitas di luar kelas, seperti mengadakan diskusi, dan lain sebagainya. Selain itu, dalam setiap kesempatan, dosen harus terus memberikan penegasan kepada para mahasiswa tentang bahaya radikalisme.

Terakhir, dosen harus lebih aktif berinteraksi dan komunikasi serta diskusi dengan seluruh mahasiswa. Kelompok radikalis selalu menerapkan langkah indoktrinasi atau infiltrasi kepada mahasiswa supaya mahasiswa menaruh simpati yang puncaknya akan menjadi bagian dalam kelompok mereka. Infiltrasi dan indoktrinasi harus dilawan dengan cara melakukan counter seperti kontra narasi dan kontra ideologi. Di sinilah pentingnya para dosen untuk selalu melakukan interaksi, komunikasi dan diskusi dengan para mahasiswanya supaya mahasiswa yang ‘setengah terpapar’ bisa siuman, bahkan yang terpapar pun bisa menjadi sadar.

Jangan Kalah Strart!

Para kelompok radikalis seperti NII selalu bergerak cepat dan melakukan semua itu dengan penuh keseriusan dan totalitas. Mereka menggunakan beberapa cara untuk menyebarkan radikalisme, seperti menyusup melalui organisasi kader, ceramah di masjid yang dikelola mereka, penerbitan majalah, buku, UKM dan lainnya. Akibatnya, radikalisme sangat mengakar kuat di kampus-kampus karena sudah menguasai hampir seluruh aspek dan lingkungan strategis kampus.

Oleh sebab itu, dalam rangka menetralisir radikalisme di kalangan mahasiswa, maka keseriusan dari para dosen adalah sebuah keniscayaan. Keseriusan saja sebenarnya tidak akan berdampak besar mana kala tidak dilakukan dengan prinsip kesinambungan. Pada akhirnya, para dosen harus dapat dan siap meluangkan waktunya untuk memperhatikan mahasiswanya dan terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan para mahasiswanya.

Kita paham betul bahwa diantara ciri mahasiswa adalah haus ilmu pengetahuan sehingga mereka gemar menghelat kegiatan-kegiatan. Nah agar celah ini tidak disusupi kelompok radikal, maka dosen moderat harus bersedia meluangkan waktu untuk para mahasiswanya—terutama mahasiswa baru—agar diarahkan dan dikuatkan pemahaman keagamaannya sehingga para mahasiswa bisa membentengi diri dari indoktrinasi kelompok radikal seperti NII dan lain sebagainya.

Facebook Comments