Hari Aksara dan Momen Melek Dialog Pemahaman

Hari Aksara dan Momen Melek Dialog Pemahaman

- in Suara Kita
499
0
Hari Aksara dan Momen Melek Dialog Pemahaman

Bagaimana cara memperingati hari aksara saat kita sendiri sudah melek baca puluhan tahun lalu? Jawabannya, bila menimbang bagaimana pengetahuan umur masyarakat meningkat, namun tidak disertai sikap toleransi secara merata, adalah dengan melek dialog pemahaman. Yaitu dengan memperluas fungsi aksara sebagai sarana komunikasi, dari yang awalnya komunikasi satu arah menuju ke banyak arah. Hal ini dapat diterapkan dengan membaca buku di luar yang berhubungan dengan pembaca secara khusus. Di sinilah letak dialog pemahaman. Langkah yang dianggap aneh bagi sebagian kalangan.

Makna dasar hari aksara yang berupa menekan angka buta huruf bisa jadi berlahan telah sirna. Terutama di Indonesia yang menjadi percontohan negara dengan angka buta aksara yang terus menurun. Oleh itu, hari aksara perlu diperingati dengan cara lain. Utamanya terkait literasi yang berkelitan dengan aksara. Melihat angka baca yang cukup menyedihkan. Serta bagaimana banyak individu yang terkungkung pemahaman satu arah. Maka mendorong minat baca terutama pada buku-buku di luar yang berhubungan dengan si pembaca secara khusus, akan menjadi tantangan tersendiri dalam memperingati hari aksara.

Tumbuhnya gerakan radikalisme adalah salah satu akibat dari pemahaman satu arah tersebut. Hal itu yang mendorong si pelaku meyakini bahwa keyakinannya sudah benar dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Sehingga saat mereka mengejawantahkan ide-idenya, hal itu pun menjadi gejolak di masyarakat. Dengan mendorong minat baca, terutama pada buku-buku di luar yang berhubungan dengan si pembaca secara khusus akan secara otomatis menciptakan ruang dialog yang lebih beragam dalam alam pikir pembaca. Dialog dapat menjadi jalan keluar untuk mengatasi keadaan bermusuhan dan menciptakan situasi yang damai dan kondusif (Pomalingo, 2016: 11).

Samsi Pomalingo mengutip Paul F. Knitter menyatakan bahwa dialog pada dasarnya adalah pergerakan kompleks baik berbicara maupun mendengar, mengajar maupun belajar, penjelasan maupun pertanyaan, maupun lebih dari sekedar bertukar informsi. (Pomalingo, 2016: 3). Tentu saja dialog ini tak akan tercipta bila hanya terdiri dari satu orang. Juga dapat berakibat buruk bila dialog ini terus menerus dilakukan pada hal-hal yang berkaitan dengan kita. Sehingga hal ini mendangkalkan sikap toleransi. Dimana sikap ini meniscayakan kesamaan berbagai hal dalam beberapa nilai tertentu yang wajib dijaga keseimbangannya. Dialog merupakan cara yang paling efektif dimana seseorang dapat belajar dari pengalaman orang lain dan memahami tentang keberadaan mereka (Pomalingo, 2016: 3).

Baca Juga : Perkuat Literasi Media, Bersihkan Isu Sara dari Dunia Maya

Hari aksara sebagai momen melek dialog pemahaman bisa kita praktekkan dengan digalakkannya membaca buku di luar yang berhubungan dengan si pembaca secara khusus. Baik dalam segi pendidikan, kebudayaan, maupun agama dan selainnya. Seorang petani semisal, dapat membaca buku mengenai kelautan sehingga mengenal siklus panen nelayan. Seorang sarjana agama, dapat membaca buku tentang kedokteran. Sehingga tahu proses kelahiran anak dan dapat dipadukan dengan teks keagamaan yang berbicara tentang proses pemberian ruh pada janin. Seorang muslim pun dapat mempelajari injil. Sehingga tahu bahwa Kristen tidak hanya memiliki Yesus sebagai tuhannya, tapi juga memiliki konsep tentang keadilan serta menjaga hak antar makhluk hidup.

Tak ada salahnya membaca buku pemikiran seorang teroris semisal. Sebab hal itu bisa berguna untuk mengenal maupun mengenali pemahaman mereka saat mempelajari berbagai pemikiran. Sehingga dapat digali nilai-nilai negatifnya untuk dikenali dan kemudian dijauhi. Serta nilai positif seperti semangat dalam melaksakan suatu hal yang dianggap ibadah, sehingga bisa diterapkan dengan cara lebih baik.

Memang benar, kadang berdialog dengan pemahaman lain dapat berakibat kebingungan tersendiri atau bahkan keinginan untuk beralih pemahaman. Utamanya dalam permasalahan idiologi keagamaan. Namun hal itu masih dapat kita tanggulangi dengan memperkuat pemahaman kita sendiri. Minimal dengan mempertegas dan memperluas argumen-argumen yang kita punyai dalam mendukung pemahaman kita. Tapi perlu diketahui, tidak berdialog dapat lebih berbahaya dari khawatir beralih pemahaman. Ketiadaan dialog dapat menyebabkan tindakan saling menghancurkan sehingga pemahaman yang ada dengan sendiri hancur bersama pemiliknya.

Membaca pemahaman orang lain tak kalah pentingnya untuk mengenali celah-celah kekosongan pengetahuan yang kadang ada pada pemkiran kita sendiri. Sebagai contoh, kita memiliki agama yang harus dihormati. Maka tatkala kita merasa agama kita dihina, kita berhak menegur penghinanya. Kesimpulan itu bisa saja langsung mendorong kita untuk melakukan tindakan represif guna membela agama yang kita yakini. Kita tak sadar memiliki celah kekosongan pengetahuan, berupa bagaimana membela agama pun diatur tersendiri dalam agama. Diantaranya, harus dilakukan dengan tulus. Dan bebas dari kekerasan.

Facebook Comments