Hari Pahlawan dan Hari Santri; Dua Entitas yang Tak Dapat Dipisahkan

Hari Pahlawan dan Hari Santri; Dua Entitas yang Tak Dapat Dipisahkan

- in Suara Kita
699
0
Hari Pahlawan dan Hari Santri; Dua Entitas yang Tak Dapat Dipisahkan

Hari Pahlawan tidak hanya identik dengan patriotisme dan nasionalisme. Sebagaimana fakta sejarahnya, kobaran api semangat heroisme pada 10 November 76 tahun yang silam, titik berangkatnya berawal dari fatwa Kiai Hasyim Asy’ari yang populer dengan “Resolusi Jihad”. Satu hal lagi, bahwa yang membunuh Jenderal Mallaby adalah seorang santri bernama Harun.

Pesantren tradisional yang mulanya dipinggirkan dari pentas sejarah perjuangan kemerdekaan RI dari kolonialisme, ternyata memiliki peran signifikan dalam mengusir penjajah dari tanah air. Fakta-fakta keterlibatan kaum sarungan tak bisa dibantah.  Narasi kepahlawanan Islami yang membentuk sikap patriotisme dan nasionalisme berujung kobaran jihad pengusiran penjajah pada 10 November 1945 adalah berangkat dari doktrin jihad ulama-ulama pesantren yang dimotori Kiai Hasyim. Semangat jihad dan komitmen “Isy Kariman aw Mut Syahidan“, hidup mulia atau mati syahid, menjadi petaka bagi penjajah dan harus menelan pil pahit meninggalkan Indonesia dengan banyak korban diantara mereka.

Semangat patriotisme dan nasionalisme ini terbangun dari sebuah kesadaran beragama yang meniscayakan muslim wajib mencintai tanah kelahirannya. Setiap jengkal-jengkal tanahnya harus dijaga dari usaha perampasan oleh pihak manapun, meskipun nyawa harus dikorbankan. Karenanya, setelah kewajiban jihad difatwakan oleh Kiai Hasyim Asy’ari, semangat kaum santri menggelagak dan mendidih. Pertempuran 10 November 1945 berkobar dan Indonesi berhasil mempertahankan kemerdekaan yang dikumandangkan pada 18 Agustus 1945.

Resolusi Jihad dan Semangat Kepahlawanan Islami

Kiai Hasyim Asy’ari bersama ulama-ulama dan santri telah membuktikan kebulatan tekadnya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan RI. Fatwa jihad telah menyelamatkan Indonesia dari ancaman pendudukan kembali tentara sekutu Belanda dan Inggris (NICA). Fatwa jihad itulah yang mendongkrak semangat patriotisme dan nasionalisme para Kiai untuk mengeluarkan Resolusi Jihad di Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama Surabaya pada tanggal 22 Oktober 1945. Momen ini kemudian diabadikan sebagai Hari Santri Nasional dan pertempuran 10 November 1945 yang disemangati oleh Resolusi Jihad ditasbihkan sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Dengan demikian, Resolusi Jihad merupakan sebuah episode yang mencerminkan spirit kebangsaan umat Islam untuk mempertahankan NKRI dengan Pancasila sebagai ideologinya. Ulama-ulama, santri dan umat Islam secara umum tidak mendasarkan semangat patriotisme dan nasionalisme dengan pertanyaan; apakah Indonesia merupakan negara yang undang-undangnya memakai hukum Islam secara formal?

Namun, bagi mereka yang penting adalah bagaimana nilai-nilai Islam membumi di Indonesia tanpa harus legal formalitas. Dan, semua itu telah terjewantah dalam Pancasila dan UUD 1945. Karenanya, para ulama, santri dan umat Islam pada umumnya, bersama-sama dengan anak-anak bangsa yang lain memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan pengorbanan nyawa dan harta.

Maka, kalau ada klaim atas nama umat Islam untuk menggantikan ideologi Pancasila, merubah Undang-undang Dasar 1945 dengan hukum Islam, sejatinya merupakan suatu kemunduran cara berpikir. Tokoh sekelas Kiai Hasyim Asy’ari dan ulama pada saat itu, bukan tokoh-tokoh Islam sembarangan. Mereka mumpuni dan sangat menguasai dengan dalam hukum Islam.

Kalau kemudian, semisal ideologi transnasional, menggelitik untuk memformalkan ajaran dan hukum Islam dalam negara Indonesia yang dihuni oleh ragam suku dan etnis, itu merupakan upaya untuk mengulangi penjajahan. Sebab, kalau itu dipaksakan akan banyak anak-anak negara ini yang akan tersinggung dan pasti memunculkan keretakan besar pada tubuh NKRI. Karena itu, kita semua harus belajar dari semangat Resolusi Jihad tentang konsep kebangsaan. Bahwa cinta tanah air adalah kewajiban, menghormati perbedaan juga keharusan, dan keragaman menjadi sesuatu yang niscaya yang harus diimani. Maka siapapun yang mendiami Indonesia wajib bersama-sama untuk mempertahankan kedaulatan RI.

Teladan Kebangsaan dalam Narasi Islami Resolusi Jihad

Bangsa Indonesia saat ini diliputi akutnya ancaman perpecahan. Gerakan ideologi transnasional beserta variannya berupaya merongrong kewibawaan NKRI. Klaim kebenaran tunggal, dengan ideal pemurnian tauhid dengan paradigma berpikir yang cendung sempit dan parsial menjadi bahaya serius. Mereka berusaha dengan cara apapun untuk merubah ideologi Pancasila harus diganti dengan aturan-aturan al Qur’an dan hadis dengan pengertiannya yang tekstual. Maka, kampanye yang selalu disuarakan nyaring oleh mereka adalah pemerintah Indonesia anti hukum Islam, thagut dan tuduhan sejenis.

Ideologi berbahaya ini mulai merasuki sebagian muslim Indonesia. Ideologi radikal yang berotak keharusan penyamaan dalam segala hal; cara beriman, bentuk madhab, dan amliah ritual keagamaan harus berbanding lurus semuanya dengan versi mereka. Tentu, yang terjadi adalah fanatisme, intoleransi dan ghuluw (cara beragama yang berlebihan). Tak heran kalau ideologi radikal tersebut melahirkan tindakan-tindakan terorisme dan ekstremisme.

Kaum muda banyak yang terjebak pada narasi-narasi heroik dan perjuangan penegakan hukum-hukum agama yang dikampanyekan secara massif oleh kaum radikal tersebut. Seolah-olah merupakan jihad masa kini dan dengan idealismenya yang tinggi menyuarakan bahwa hal itu merupakan jihad. Sungguh, kebodohan dan kebutaan terhadap sejarah telah menyesatkan banyak umat Islam di Indonesia.

Karena itu, Hari Pahlawan Nasional hendaknya menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran transendental untuk dan atas nama Tuhan dan kemanusiaan mempertahankan kemerdekaan, persatuan, keadilan dan kedamaian. Memperluas interpretasi kepahlawanan yang dibingkai oleh agama Islam.

Kiai Hasyim Asy’ari, para ulama dan kaum santri, merupakan role model umat Islam yang memiliki pemahaman dan penalaran yang baik tentang patriotisme dan nasionalisme. Konsep kebangsaan yang diterjemahkan dari teks wahyu dan sabda Nabi berhasil diaktualisasikan dalam memupuk kecintaan terhadap tanah air.  Mereka yang harus kita contoh. Bukan dalang-dalang yang menunggangi agama untuk meraih tujuan politis yang harus kita tiru dan kita ikuti. Karena mereka yang selalu menumpang agama itu tak ubahnya kolonialisme yang berusaha menghancurkan bangsa ini.

Facebook Comments