Hari Pahlawan; Momentum Merawat Semangat Kepahlawanan

Hari Pahlawan; Momentum Merawat Semangat Kepahlawanan

- in Suara Kita
1054
0
Hari Pahlawan; Momentum Merawat Semangat Kepahlawanan

Kepahlawanan dalam konteks bernegara tumbuh dari semangat patriotisme dan nasionalisme. Kepahlawanan adalah perjuangan jiwa raga dengan semangat dan sungguh-sungguh dalam merintis, memerdekakan, mempertahankan kemerdekaan, mengisi kemerdekaan dan menjaga keutuhan Indonesia.

Merintis dan memerdekakan bangsa ini dari kolonialisme telah dilakukan oleh para pendiri bangsa. Mereka mewariskan tanah air Indonesia kepada kita saat ini dalam keadaan telah terbebas dari belenggu penjajahan. Tugas kita sekarang mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Untuk merealisasikan tugas ini pertama yang harus diupayakan tidak lain menjaga keutuhan dan persatuan. Keutuhan dan persatuan tidak akan terwujud kalau nilai-nilai toleransi dihilangkan. Toleransi menjadi kata kunci untuk menciptakan persatuan dalam negara Indonesia yang multikultural.

Semangat kepahlawanan seperti ini yang mutlak harus kita jaga. Terutama bagi umat Islam sebagai penduduk mayoritas di Indonesia. Harus paham bahwa semangat menjaga ideologi agama Islam yang tertanam kuat dalam jiwa muslim tidak bisa dijadikan alat untuk merontokkan keindonesiaan. Sebab, bangsa ini berdiri kokoh dengan pilar-pilar universal ajaran agama Islam yang menopangnya. Demikian juga, dalam agama Islam keragaman merupakan keniscayaan yang tidak bisa diingkari karena memang kehendak Tuhan. Karena itu, harus kita akui dan pengingkaran terhadapnya merupakan pengingkaran kepada kodrat Tuhan.

Apalagi, fakta sejarah menyatakan bangsa ini berhasil mempertahankan kemerdekaan pada 10 November 1945 dari ancaman pendudukan kembali tentara sekutu Belanda dan Inggris (NICA) karena patriotisme ulama-ulama melalui Resolusi Jihad. Tak mungkin para ulama saat itu melakukan jihad fi sabilillah kalau apa yang mereka lakukan mengingkari teks-teks keagamaan. Dan, tak mungkin pula mereka bahu-membahu dengan seluruh rakyat Indonesia dengan beragam background agama jikalau mereka menilai negara Indonesia adalah thagut. Inilah keluasan pemahaman keagamaan para ulama yang mesti diteladani. Mereka meyakini bahwa persatuan adalah keharusan, keragaman sebuah keniscayaan, cinta tanah air adalah kewajiban, dan tidak menghargai keragaman adalah kutukan.

Oleh karena itu, intoleransi, memaksakan suatu kebenaran, apalagi menunggangi agama untuk tujuan politis tertentu menihilkan keindonesiaan, bertentangan dengan semangat kepahlawanan. Seperti dicontohkan oleh figur-figur muslim terdahulu, semangat keagamaan dan semangat kepahlawanan mempertahankan bangsa berada dalam satu tarikan nafas yang sama dan bis dipisahkan.

Maka, politisasi agama sejatinya adalah musuh bersama. Eksploitasi agama menjadi wadah penyemaian benih-benih diskriminasi, intoleransi, radikalisme dan terorisme. Kalau sudah begitu, ketidakadilan dan penegasian terhadap kelompok tertentu pasti akan terjadi. Kelanjutannya bisa ditebak dengan sangat mudah, pasti kehancuran dan malapetaka.

Bukan tujuan menegakkan ‘izzah dan marwah agama Islam yang hendak kita lawan, tapi politisasi agama untuk tujuan di luar agama. Yang sedang kita perjuangankan justru kehormatan dan keagungan agama Islam dari para penunggang agama. Yaitu, mereka yang suka memonopoli tafsir-tafsir keagamaan sebagai legalitas aktivitas keduniawian, doktrin membunuh penganut agama lain, memurtadkan dan mengkafirkan segama yang tak sepaham dan seterusnya. Semangat Islam adalah semangat untuk menjaga kemanusiaan, toleransi, kebersamaan, saling menghormati dan persaudaraan.

Semangat Hari Pahlawan adalah semangat untuk mempertahankan, mengisi, menjaga persatuan dan perdamaian. Semangat untuk sadar bahwa dalam konteks keindonesiaan yang multikultural, tidak boleh ada pengabaian terhadap hak-hak suatu kelompok sebagai warga negara,  sekecil apapun kelompok itu. Terutama kebebasan memeluk agama dan menjalankan apa yang diyakininya.

Generasi Muda dan Nilai-nilai Kepahlawanan

Kalangan muda saat ini banyak yang salah memilih panutan. Antusiasme besar dari semangat mudanya banyak dihempaskan pada usaha mengingkari semangat kepahlawanan leluhurnya. Kaum muda yang seharusnya membangun semangat kebangsaan, kebersamaan dan keindonesiaan malah hadir dalam wadah yang berusaha meniadakan nilai-nilai kebangsaan dan keindonesiaan. Merek terjebak pada gagasan-gagasan seperti ideologi transnasional yang berupaya mencabik keutuhan bangsa dengan sikapnya yang radikal, intoleran dan tidak berkeadaban.

Mestinya mereka mengambil semangat kepahlawanan para pemuka-pemuka agama Islam yang dengan gigih berjuang untuk kemerdekaan, persatuan dan keutuhan NKRI, merawat gagasan keindonesiaan, kebhinekaan dan kedaulatan bangsa. Kaum muda seyogianya memiliki idealisme tinggi, kreatif, semangat bekerja yang kuat, untuk melanjutkan cita-cita pendahulu bangsa, para ulama dan pahlawan-pahlawan yang telah berkorban nyawa untuk kemerdekaan dan terwujudnya Indonesia yang maju, harmonis dan merawat kesatuan.

Ingatlah! Negara ini berdiri di atas perbedaan-perbedaan, satu sama lain harus saling memahami dan saling mengerti. Seluruh rakyat Indonesia adalah satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Persatuan yang telah dirajut oleh para pendahulu bangsa dengan begitu indah, mesti kita rawat dan jaga dengan segenap jiwa raga.

Sadarlah! Upaya merusak bangsa ini dengan kedok agama bukan saja mengingkari semangat kepahlawanan dan para cita-cita pendahulu bangsa, melainkan, juga pengingkaran terhadap nilai-nilai universal agama Islam. Untuk itu, Hari Pahlawan semestinya menjadi spirit energi kita semua untuk merawat Indonesia. Mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, serta merawat persatuan untuk terciptanya Indonesia yang maju, aman dan adil.

Facebook Comments