Hari Santri Nasional dan Urgensi Resolusi Jihad Kebangsaan

Hari Santri Nasional dan Urgensi Resolusi Jihad Kebangsaan

- in Suara Kita
1435
0
Hari Santri Nasional dan Urgensi Resolusi Jihad Kebangsaan

Tahun ini, tanggal 22 Oktober kita kembali memperingati Hari Santri Nasional. Sebuah momen peringatan untuk merawat memori ihwal perjuangan dan pengorbanan para ulama, kiai, santri dan warga Nahdliyin dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Hari Santri Nasional ialah semacam monumen untuk senantiasa mengenang fatwa Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945. Yang salah satunya menyatakan bahwa berperang melawan musuh (NICA dan Sekutu) ialah fardlu ain bagi umat Islam yang berada di radius 94 kilometer dari musuh dan fardlu ain bagi yang berada di luar radius 4 km.

Jika diibaratkan pasangan suami-istri, NU dan NKRI memang pasangan yang serasi, tidak pernah saling menyelingkuhi, apalagi mengkhianati. NU selalu berada di samping NKRI, menjadi penjaga NKRI dari ancaman musuh, baik yang datang dari sisi kiri maupun kanan. Bagi NU, NKRI ialah harga mati, tidak ada diskon. Pancasila sudah final dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Siapa mau menghancurkan NKRI dan mengganti Pancasila, maka harus berhadapan langsung dengan NU. Semboyan itu bukan lagi slogan, namun sudah menjadi ruh pengabdian NU kepada bangsa dan negara.

Tema Hari Santri Nasional tahun ini ialah “Santri Siap Jiwa Raga”. Dalam laman situsnya, Kementerian Agama menjelaskan bahwa tema tersebut bermakna bahwa santri harus senantiasa memiliki kesiapan jiwa dan raga dalam menjaga Tanah Air, mempertahankan persatuan Indonesia, serta mewujudkan perdamaian dunia. Tema yang kiranya relevan dengan situasi kebangsaan kita hari ini yang dalam banyak hal harus diakui masih menghadapi sejumlah persoalan.

Peristiwa fatwa Resolusi Jihad Nu 22 Oktober 1945 yang melatari Perang Surabaya memang telah berusia lebih dari tujuh dasawarsa. Secara harfiah, isi dari fatwa resolusi itu pun sudah tidak relevan dengan situasi bangsa dan negara. Kini, kita tidak lagi menghadapi musuh dalam artian kolonialisme atau penjajahan secara langsung. Sebaliknya, kini kita tengah menghadapi ancaman kebangsaan yang mewujud pada sejumlah hal antara lain, penyebaran paham radikal-keagamaan transnasional yang anti-NKRI dan anti-Pancasila, naiknya kembali gerakan separatisme, serta munculnya polarisasi dan fragmentasi masyarakat akibat isu politik identitas. Semua itu berakumulasi menciptakan semacam krisis kebangsaan yang tak kunjung usai.

Kontekstualisasi Hari Santri

Oleh karena itu, momentum Hari Santri Nasional ini kiranya mendorong umat Islam, khususnya warga Nahdliyin untuk menerjemahkan ulang sekaligus menkontesktualisasikan spirit Resolusi Jihad dalam konteks kiwari. Salah satunya ialah memaknai ulang kata jihad dalam fatwa tersebut. Di era sekarang, kita barangkali tidak membutuhkan perjuangan (jihad) dengan mengangkat senjata dan bertempur di medan perang. Tersebab, era kolonialisme telah berakhir dan kini kita menjadi negara berdaulat.

Jihad dalam konteks sekarang lebih dipahami sebagai jihad kebangsaan, yakni perjuangan dalam bidang ekonomi, politik, serta sosial-keagamaan. Perjuangan dalam melahirkan pikiran-pikiran yang inovatif dan gerakan-gerakan yang mendorong terciptanya pemberdayaan masyarakat. Di ranah ekonomi, jihad kebangsaan santri dan kalangan Nahdliyin bisa diwujudkan melalui upaya membangun kemandirian dan ketahanan ekonomi masyarakat. Seperti kita tahu, problem utama ekonomi nasional ialah masih besarnya angka kemiskinan dan pengangguran. Di sini patut disadari bahwa agenda pengentasan kemiskinan dan pengangguran bukan semata tugas pemerintah. NU dan komunitas santri-nya sebagai bagian dari civil society harus ikut andil mengatasi problem tersebut.

Di ranah politik, jihad kebangsaan itu dapat dimanifestasikan ke dalam praktik politik tingkat tinggi (high politic). Maknanya, kaum santri dan warga NU pada umumnya tidak boleh apolitis, namun juga jangan terlalu hanyut ke dalam politik praktis. Sebagai lembaga, NU dan para kiai serta ulama di dalamnya idealnya memainkan politik tingkat tinggi yang tidak semata berorientasi pada kekuasaan, namun pada pemberdayaan sosial dan kemanusiaan.

Di ranah sosial-keagamaan, kaum santri dan Nahdliyin bisa mengimplementasika konsep jihad kebangsaan ke dalam upaya membangun paradigma relasi sosial-keagamaan yang inklusif, moderat dan tentunya nasionalis. Santri dan Nahdliyin harus berada di barisan paling depan dalam menjaga NKRI dan Pancasila dari rongrongan kaum radikal berjubah agama. Santri dan Nahdliyin juga harus mampu menjadi lem perekat bangsa. Di saat yang sama, santri dan Nahdliyin juga harus menjadi agen penyebar perdamaian, baik dalam konteks nasional maupun global.

Facebook Comments