Hari Santri Nasional : Menyegarkan Semangat Islam dan Kemerdekaan

Hari Santri Nasional : Menyegarkan Semangat Islam dan Kemerdekaan

- in Suara Kita
1146
0
Hari Santri Nasional : Menyegarkan Semangat Islam dan Kemerdekaan

Tidak salah jika bangsa ini merayakan sebuah perjuangan yang hampir sejak kemerdekaan ini digemakan, kisah perjuangannya kerap dilupakan.  Memang beberapa tokoh pesantren dan santri telah diangkat dan digelari Pahlawan. Namun, rasanya momentum peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober adalah sebuah rekognisi besar bangsa terhadap perjuangan kalangan santri.

Kenapa hari ini begitu penting selalu dirayakan? Catatan sejarah tentang bangsa ini harus jujur dan tidak boleh ditutupi apalagi menyangkut sejarah penting kemerdekaan. Dari uraian sejarah ini akan lahir semangat dan warisan tanggungjawab yang harus dipikul oleh generasi kekinian. HSN tidak hanya mengenang perjuangan para santri, tetapi secara simbolik memiliki arti bahwa Islam adalah kekuatan pembentuk bukan perusak kemerdekaan.

Kalangan santri memainkan peran penting dalam sejarah kemerdekaan republik ini. Setidaknya ada tiga strategi yang dimainkan oleh kalangan santri pada masa lalu :

3 Strategi Pesantren

Sejarah perjuangan kemerdekaan juga berarti sejarah perjuangan santri. Pesantren memainkan peran penting dalam perjuangan bangsa ini. Dalam memotret sejarah perjuangan pesantren dalam menentang kolonialisme ada tiga pola gerakan pesantren yang diskemakan oleh Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan (1997).

Pertama, disebut dengan uzlah (strategi isolatif). Srategi ini dilakukan masyarakat pesantren dengan cara menyingkirkan diri ke pelosok-pelosok desa untuk membangun suatu komunitas yang jauh dari jangkauan kolonial. Dari pola ini nampak jelas mengapa pesantren selalu berada di pedesaan yang tak mudah terjangkau. Tentu saja tidak semuanya pilihan membangun pesantren di pelosok-pelosok sebagai faktor untuk menjauh dari kolonialisasi. Faktor lain yang kadang cukup dominan adalah menjauh dari keramaian. Namun, banyak alasan penting dari berdirinya pesantren di pelosok untuk menjauh dari jangkauan kolonialisme.

Kedua, strategi non kooperatif dengan cara melakukan perlawanan secara diam-diam. Pesantren selain sebagai pusat pendidikan dan pengajaran keagamaan, tak ayal juga dijadikan suatu gerakan perlawanan bahkan basis penguatan pasukan dalam penentangan penjajahan. Bahkan perjuangan nonkooperatif yang paling terkenal misalnya melarang komunitas pesantren untuk meniru cara pakaian berbau penjajah seperti celana panjang, dasi sepatu. Dalam perspektif inilah sarung, yang kemudian santri yang menjadi lumrah disebut kaum sarungan, pada masanya mengandung makna simbolik sebagai simbol perlawanan.

Ketiga, strategi perlawanan fisik. Tidak hanya menjadi pusat perlawanan, masyarakat pesantren juga ambil bagian dalam perlawanan fisik menentang penjajahan. Beberapa perlawanan Pangeran Antasari, Sultan Hasanudin, Sultan Agung, Pattimura, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro hingga KH. Hasyim Asy’ari adalah perlawanan kelompok santri dan masyarakat pesantren dalam melawang secara fisik terhadap penjajahan di nusantara.

Salah satu perjuangan fisik yang monumental yang juga menjadi napak tilas perayaan hari santri adalah ketika Belanda terus melancarkan serangannya di Surabaya. Berpetapatan dengan tanggal 22 Oktober 1945 KH Hasyim Asy’ari selaku pengasuh pondok pesantren Tebuireng mengeluarkan suatu pernyataan yang sangat bersejarah yang dikenal dengan “resolusi jihad”.

Perjuangan Santri Kekinian

Dalam konteks kekinian, HSN harus mampu diterjemahkan oleh kalangan santri sebagai semangat perjuangan tanpa henti. Santri mempunyai warisan besar dalam semangat perjuangan bangsa ini. Bukan kaum pinggiran, santri adalah bagian penting dalam membawa bangsa ini ke arah kemerdekaan. Santri harus terus berinovasi dengan menginterpretasikan perjuangan dalam konteks kekinian.

Tentu banyak hal perjuangan yang harus terus ditegakkan. Dewasa ini terkadang perjuangan dengan semangat Islam ditafsirkan secara salah justru sebagai kekuatan yang mengarah pada kerusakan bukan kemajuan. Islam selalu dibenturkan dengan semangat nasionalisme. Dengan ragam doktrinnya bahkan mencintai negara dalam bentuk ekspresinya dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Santri memang bukan sebatas persoalan keagamaan semata. Namun, santri mempunyai tanggungjawab untuk meluruskan doktrin dan dalil keagamaan yang seringkali dibuat secara serampangan yang mendikotomikan Islam dan negara. Santri harus menjadi representasi yang memberikan contoh sesungguhnya tidak ada pertentangan antara Islam dan semangat kemerdekaan dan mencintai negara.

Menyegarkan kembali semangat santri dalam perjuangan menjadi pelajaran untuk muslim milenial saat ini agar tidak mudah terhasut propaganda murahan tentang Islam dan negara. Dalam konteks kebangsaan ini, santri telah memberikan pelajaran penting tentang semangat Islam dalam membangun bangsa.

Facebook Comments