Harkitnas dan Empat Langkah Membasmi Ideologi Ekstremisme

Harkitnas dan Empat Langkah Membasmi Ideologi Ekstremisme

- in Suara Kita
202
0
Harkitnas dan Empat Langkah Membasmi Ideologi Ekstremisme

Perjalanan bangsa Indonesia menjadi negara berdaulat dan merdeka tentu tidak mudah. Perjuangan fisik dan diplomasi tidak akan pernah muncul tanpa dilandasi spirit nasionalisme lebih dulu. Di titik ini, kita berhutang banyak pada munculnya organisasi kaum intelektual di era 1908 yang terhimpun dalam Boedi Oetomo. Embrio nasionalisme lewat kemunculan BO itulah yang menjadi cikal-bakal perjuangan kemerdekaan hingga mencapai klimaksnya pada 17 Agustus 1945.

Namun demikian, deklarasi kemerdekaan nyatanya bukan akhir dari perjuangan. Pasca kemerdekaan, bangsa ini berkali-kali diuji ketahanannya oleh beragam hal. Di dekade 1960an misalnya, bangsa dihadapkan pada gerakan ekstrem kiri yang lantas melahirkan tragedi kemanusiaan luar biasa. Manuver kelompok ekstrem kiri yang berupaya menggoyang ideologi Pancasila menghadirkan ancaman serius bagi bangsa dan negara. Beruntung, bangsa ini punya ketahanan luar biasa untuk membela NKRI dan Pancasila.

Kini, memasuki dekade ketiga era Reformasi, boleh dibilang ancaman ekstrem kiri nisbi sirna. Namun, ironisnya ancaman lain justru datang dari kelompok ekstrem kanan yang menjadikan agama sebagai alat pemecah belah dan senjata untuk mendistorsi NKRI dan Pancasila. Iklim demokrasi dan kebebasan ruang publik yang menjadi hadiah gerakan Reformasi tampaknya dimanfaatkan oleh kaum ekstrem kanan untuk menyebarkan paham anti-kebangsaan yang berwatak intoleran dan radikal.

Menguatnya kelompok ekstrem kanan harus diakui telah melatari terjadinya pergeseran corak keberagamaan di Indonesia. Di masa lalu, Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia yang berhasil memadukan antara Islam dan paradigma modernitas. Perlahan, citra itu memudar seiring kian maraknya praktik Intoleransi, radikalisme dan kekerasan atas nama agama. Kondisi ini tentu tidak boleh kita biarkan berlarut. Propaganda ekstremisme berkedok agama ialah musuh bersama yang harus kita basmi.

Empat Langkah Menangkal Ekstremisme, Apa Saja?

Langkah pertama yang wajib kita lakukan ialah membumikan paradigma moderasi beragama. Bagaimana pun juga harus kita akui bahwa ekstremisme agama lahir dari kesalahan cara pandang dan praktik keberagamaan kita selama ini. Pemahaman dan praktik keagamaan yang berlebihan, kaku, dan eksklusif telah mendorong umat bertindak intoleran dan radikal.

Agenda moderasi beragama yang mengajak umat menjalankan laku keberagamaannya secara inklusif, toleran, dan pluralis harus didukung oleh seluruh elemen bangsa. Mulai dari pemerintah, lembaga keagamaan, hingga jaringan masyarakat sipil. Dengan moderasi beragama, diharapkan ruang publik kita akan steril dari narasi kebencian dan kekerasan yang menjadi pilar ideologi ekstremisme.

Langkah kedua ialah merevitalisasi nilai-nilai Pancasila. Sebagai ideologi bangsa, Pancasila harus terejawantahkan dalam kehidupan nyata. Pancasila tidak boleh berakhir menjadi imajinasi utopis, alih-alih menjadi solusi bagi problem kebangsaan kita. Maka dari itu, prinsip Pancasila mulai dari ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, pernusyawaratan, dan keadilan harus benar-benar hadir dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama.

Kita patut khawatir manakala belakangan ini Pancasila mulai kehilangan wibawanya terutama di kalangan milenial. Berbagai survei menyebutkan bahwa kaum milenial cenderung tidak lagi menganggap Pancasila sebagai satu-satunya ideologi yang cocok bagi Indonesia. Mengembalikan supremasi dan wibawa Pancasila menjadi hal mutlak agar kaum milenial tidak mudah terpesona oleh ideologi asing-transnasional.

Langkah ketiga ialah menutup ruang gerak kaum ekstrem-radikal, baik di dunia nyata maupun maya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa masifnya intoleransi dan kekerasan atas nama agama juga dilatari oleh sikap kita yang cenderung permisif pada manuver kaum ekstremis. Hal ini bisa kita lihat dari berapa bebasnya kaum ekstremis mempropagandakan ideologinya di ruang publik. Kaum ekstremis kanan kerap memakai dalih demokrasi dan kebebasan berpendapat untuk menyebarkan ideologi dan gerakan mereka.

Di titik inilah pentingnya kita merevitalisasi prinsip demokrasi Pancasila. Artinya, kebebasan tidak diartikan sebagai kondisi boleh melakukan apa saja tanpa batasan. Dalam paradigma demokrasi Pancasila, kebebasan dibatasi oleh kepentingan untuk menjaga keutuhan dan keamanan bangsa serta negara.

Langkah terakhir ialah memperteguh nasionalisme utamanya di kalangan generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa. Nasionalisme di era digital yang tanpa batas (boarderless) ini sangat dibutuhkan. Di era digital seperti saat ini, setiap individu yang berbeda latar belakang identitas kebangsaan dan keagamaan bisa saling terkoneksi di dunia maya. Transmisi pengetahuan dan ideologi pun terjadi dengan sangat mudah. Namun, justru disinilah letak bahayanya. Banyak anak muda kehilangan rasa cinta tanah air akibat propaganda anti-nasionalisme yang disebar kelompok tertentu.

Meneguhkan kembali jatidiri bangsa dan komitmen nasionalisme ialah semacam jangkar agar kita tidak terombang-ambing di tengah derasnya kontestasi idoelogi global-transnasional. Sebagai negara yang memiliki latar sejarah panjang terkiat kolonialisme, kita seharusnya paham bahwa nasionalisme dan patriotisme ialah modal utama mempertahankan kedaulatan bangsa dari infiltrasi ideologi asing.

Facebook Comments