Harmoni Islam dan Kearifan Lokal: Role Model Dakwah Nusantara

Harmoni Islam dan Kearifan Lokal: Role Model Dakwah Nusantara

- in Suara Kita
218
0

Viral seseorang pria menendang sesajen membuka kembali ruang diskusi lebih serius soal kaitan antar Islam dan kearifan lokal. Fenomena ini oleh sebagian kalangan dianggap penegasan bahwa antara Islam dan kearifan lokal merupakan dua entitas yang bertolak belakang. Tegas kata, apapun bentuk kearifan lokal yang ada semuanya bertentangan dengan ajaran Islam. Pada sisi yang lain ada kesimpulan bahwa dialektika Islam dan budaya lokal belum selesai.

Sejak pertama kedatangannya, Islam disebarkan di Nusantara dengan cara yang evolusioner, berlangsung dalam proses yang damai. Penduduk Nusantara yang saat itu telah memeluk agama Budha dan Hindu tidak merasa terancam laku tradisinya dengan kehadiran para pendakwah Islam. Para mubaligh atau da’i memasukkan nilai-nilai ajaran Islam secara perlahan dan halus. Praktik keagamaan penduduk lokal dirubah setahap demi setahap. Tidak dengan cara arogan. Para mubaligh membiarkan prilaku dan budaya yang telah berlangsung. Hanya mencari kekuatan strategisnya, selanjutnya diberdayakan dengan spirit ajaran Islam.

Dengan cara demikian, gelombang Islamisasi di Nusantara semakin massif dan intensif. Para penguasa merasakan Islam bukan sesuatu yang mengancam kekuasaan mereka. Bahkan, mereka tertarik dengan penampilan elegan para penyebar Islam dengan akhlakul karimahnya. Tak sedikit kalangan bangsawan kerajaan Majapahit yang memeluk Islam. Sampai ketika kerajaan yang berhasil mempersatukan Nusantara tersebut sampai pada titik nadirnya, salah seorang putra raja Majapahit, Raden Fatah, mendirikan kerajaan Islam pertama bernama Demak Bintoro. Sejak itu, kerajaan-kerajaan Islam bermunculan di tanah Nusantara. Terbentang mulai dari Aceh di barat sampai Ternate-Teodore di timur.

Yang menarik dari perkembangan agama Islam saat itu, khususnya di pulau Jawa adalah panorama perkawinan Islam dan budaya lokal. Para penyebar agama Islam saat itu yang lebih dikenal dengan wali songo menyebarkan Islam di tanah Jawa menggunakan strategi transformasi nilai dengan improvisasinya masing-masing. Hasilnya luar biasa. Berduyun-duyun masyarakat Jawa memeluk agama Islam tanpa dipaksa. Kejelian memilih strategi dakwah tersebut karena didukung oleh kapasitas keilmuan yang memadai. Langkah mengambil isi tidak mendahulukan kulit benar-benar efektif.

Kemunduran Dakwah Islam Masa Kini

Tetapi, belakangan muncul para pendakwah Islam yang memainkan strategi berbalik 180 derajat dari peran pendakwah era awal Islam ke Indonesia. Saat ini, bermunculan para pendakwah atau mubaligh yang ganas, kasar, suka mengkafirkan, memurtadkan, dan seterusnya. Fenomena yang oleh Syaikh Muhammad Fadil bin Asyur dalam karyanya Ruh al Hadlarah al Islamiyah (spirit peradaban Islam) disebut dengan jebakan “menangkap kulit dan melupakan isi”. Fokus pada bentuk luarnya dengan melupakan substansinya.

Padahal, panorama perkawinan Islam dengan budaya lokal atau kearifan lokal tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejak dulu hal itu telah terjadi. Istilah ‘urf atau kaidah al ‘adatu muhakkamah adalah bukti bahwa Islam tidak menolak dengan serta merta keberadaan kearifan lokal. Ia diterima, bahkan bisa dijadikan sumber hukum apabila ruhnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Dialektika antara Islam dan budaya lokal adalah keniscayaan yang tak perlu dirisaukan dan dapat merusak akidah. Kalau ditelusur lebih jauh, budaya atau kearifan lokal juga kreatifitas Tuhan melalui akal pikir manusia. Sementara agama dan akal tidak akan pernah bertentangan. Karena itu, kalau ada kearifan lokal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai universal agama Islam tak lebih karena tergelincirnya akal sehat oleh hasutan musuh utama manusia, yakni setan. Itu saja yang harus dibenahi tanpa menghilangkan seluruhnya.

Karena itu, laiknya para pendakwah masa kini terlebih dulu menempa kecerdasan kreatifnya sebelum berbangga diri terjun sebagai mubaligh hanya dengan modal ilmu agama yang tak seberapa. Jangan sampai dirinya menjadi penyebab Islam kehilangan ruhnya, menjadi dasar pembacaan orang-orang di luar Islam bahwa agama Islam tidak mencerminkan agama rahmatan lil ‘alamin.

Sebagai Kalam terakhir, patut kita renungkan perkataan Imam Malik bin Anas yang ditulis oleh Abdurrazzak ‘Afifi dalam Fatawa wa Rasail nya, “la yashluh akhiru hadzihi al ummah illa bima shaluha bihi awwaluha”; umat Islam generasi akhir hanya akan menjadi baik dengan apa yang membuat generasi awalnya baik.

Facebook Comments