Hatta, Islam Subtantif, dan Kemerdekan Kita

Hatta, Islam Subtantif, dan Kemerdekan Kita

- in Suara Kita
171
2
Hatta, Islam Subtantif, dan Kemerdekan Kita

Kemerdekaan itu dari dan untuk semua, bukan dari dan untuk sekelompok orang. Itulah pelajaran berharga dari Bapak Bangsa, Mohammad Hatta. Dengan alasan ini, Hatta berani menghapus tujuh kata dengan kewajiban syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya dari sila pertama Pancasila. Tujaan utama Hatta tak lain adalah demi persatuan bangsa.

Pancasila sebagai dasar negara sudah seharusnya mengakomodir semua golongan. Sebab Indonesia menurut Hatta, bukan hanya dimiliki umat Islam, melainkan juga agama dan kepercayaan lain. Penghapusan tersebut sekalipun kemudian banyak yang menyoal, akan tetapi menurut Cak Nur itu, Indonesia seharusnya bersyukur, Hatta berani menghapus tujuh kata itu, sebab Indonesia dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, tanpa embel-embel di ujungnya, Indonesia menjadi sangat tauhidik sekali.

Pandang jauh Hatta ke depan layak diapresiasi, boleh jadi kalau tujuh kata itu tidak dihapus, wilayah timur akan menarik diri dari NKRI. Sejarah mencatat, Hatta berhasil. Pertanyaan besarnya: Apa yang menyebabkan Hatta berhasil? Jawabannya, selain mempunyai jiwa nasionalis, Hatta juga mempunyai pemahaman islam subtantif. Islam yang lebih mengedepankan nilai-nilai inti dan mendasar dari pada kulit dan simbol belaka.

Garam vs Gincu

Hatta mempunyai falsafah hidup yang disebut dengan filsafat garam dan filsafat gincu. Gincu itu berwarna, mencolok, sangat tampak di luar, akan tetapi ketika digunakan pada makanan, ia tidak mempengaruhi apa pun kecuali hanya sekadar pewarna saja. Sebaliknya, garam, tidak tampak, tidak mencolok, akan tetapi ketika dipergunakan dalam makanan, garam sangat mempengaruhi, bahkan sang penentu. Tak ada makanan tanpa garam; letak enak atau tidaknya makanan tergantung pada takaran garamnya.

Baca Juga : Pancasila, NKRI, dan Muhammadiyah

Hal yang sama dengan Islam. Ada orang berislam model gincu. Keliatan, glamor, meriah, meledak-ledak tetapi tidak memberikan pengaruh apapun. Inilah sekarang yang disebut dengan islam simbolik. Ada orang berislam seperti garam, biasa saja, tidak brisik, apa adanya, tetapi sangat mempengaruhi. Ia diterima oleh semua orang. Inilah yang disebut dengan Islam Subtantif.

Dalam konteks mengisi kemerdekaan, anak bangsa seharusnya mempraktekkan Islam subtantif. Islam yang lebih mengedepankan nilai-nilai subtatif-universal ketimbang nilai-nilai simbolik-partikular. Nilai subtantif-universal, seperti keadilan, kebebasan, kesetaraan, persaudaraan, dan tanggungjawab sesama manusia, merupakan nilai yang diterima oleh siapapun dan agama manapu.

Islam subtantif bisa berdialog lintas ruang dan waktu. Ia tidak terikat oleh partikularitas kultural masyarakat. Islam yang selalu kompatibel dengan perubahan zaman. Mengayomi, menghargai, melindungi dan menjadi rahmat bagi sekalian. Dalam konteks berbangsa dan bernegara nilai-nilai subtantif-universal inilah yang bisa berkontribusi pada kebijakan umum, perundang-undangan, dan kehidupan publik lainnya.

Kemerdekaan Kita

Akan tetapi, di usia yang tidak muda lagi, 74 tahun, cara beragama kita belum bisa seperti harapan Hatta. Sebagian besar anak bangsa masih lebih suka dengan kulit, simbol, sesuatu yang menggebu-gebu. Akibatnya sering terjadi polarisasi, bahkan konflik antara dan antar umat beragama.

Agama yang seharusnya mendamaikan, memberi ketenangan, dan menyuguhkan petunjuk hidup bersama, tidak menjalakan fungsinya. Dalam kasus tertentu, agama justru memperlebar jarak, mempertajam permusuhan, dan memperkeruh suasana. Sejatinya memang itu bukan salah agama, melainkan kesalahan pemahaman penganutnya terhadap agama. Para penganut agama masih lebih “doyan” melihat dan mempraktekkan sisi luar dan kulit dari agama, belum bisa masuk ke inti dan nilai-nilai universal agama.

Banyaknya fitnah, penyerangan rumah ibadah, pemboman, pengusiran kelompok lain yang berseberangan dengan kita, tidak lain sebab kita belum sampai kepada nilai subtantif-universal dari agama itu. Demi semangat membela agama bahkan Tuhan, menurut muslim-simboli ini, kita harus demo dan memekikkan takbir. Padahal masih banyak cara yang lebih bermartabat dari itu.

Peringatan hari kemerdekaan tahun ini, harus kita maknai sebagai penguatan Islam subtantif. Islam yang bisa membumi dan diterima semua. Islam yang punya visi mendamaikan antara sesama. Islam yang membebaskan kita dari sekat-sekat primordialisme. Dengan begitu, kemerdekaan milik kita bersama.

Facebook Comments