Hijrah dan Lahirnya Piagam Persaudaraan dan Keadaban Berbangsa

Hijrah dan Lahirnya Piagam Persaudaraan dan Keadaban Berbangsa

- in Suara Kita
744
0
Hijrah dan Lahirnya Piagam Persaudaraan dan Keadaban Berbangsa

Hijrah Nabi Muhammad dari Mekah menuju Madinah merupakan salah satu fenomena paling bersejarah dalam Islam. Hijrah Nabi Muhammad menandai lahirnya peradaban masyarakat modern yang nilai dan praksisnya selalu dikaji secara mendalam sampai hari ini. Hijrah Nabi bukan sekedar perjalanan Mekah ke Madinah, melainkan ada misi khusus untuk mendamaikan suku Aus dan Khazraj yang sudah bosan karena perang selama 40 tahun. Sosok Nabi Muhammad yang dikenal jujur, adil, dan penuh kasih sangat dinantikan kehadirannya, sehingga ketika tiba di Madinah, dilantunkan pujian-pujian yang sangat mengharukan.

Pertama-tema yang dilakukan Nabi Muhammad di Madinah adalah menebarkan cinta dan kasih sayang. Inilah yang pertama kali diproklamasikan Nabi kepada semua warga Madinah. Cinta dan kasih sayang ditandaskan pertama kalinya sebagai wujud upaya serius Nabi Muhammad dalam menyatukan dan mempersaudarakan semua penduduk Madinah. Dengan cinta dan kasih sayang, Nabi mendesain masyarakat Madinah yang pluralistik menjadi teladan berbangsa dan bernegara. Beragam corak dan warna di Madinah justru menjadi bukti syukur bahwa perbedaan adalah rahmah bagi umat manusia.

Kesungguhan Nabi dalam membangun Madinah diletakkan dalam piagam persaudaraan yang sangat monumental: Piagam Madinah. Piagam yang terdiri 47 pasal ini diciptakan Nabi Muhammad untuk Madinah yang dicintainya. Piagam ini mengantarkan Nabi Muhammad sebagai pemimpin negara. Menurut Azyumardi Azra (1999), Madinah pada walnya disebut sebagai negara kota (city state). Lalu, dengan dukungan kabilah-kabilah dari seluruh penjuru jazirah Arab yang masuk Islam, maka muncullah kemudian sosok negara bangsa (nation state).

Dalam masyarakat muslim yang terbentuk itulah Rasulullah menjadi pemimpin dalam arti yang luas, yaitu sebagai pemimpin agama dan juga sebagai pemimpin masyarakat. Pada intinya Islam mendorong penciptaan masyarakat madani. Nabi Muhammad sendiri bahkan telah mencontohkan secara aktual bagaimana perwujudan masyarakat madani itu, yaitu ketika ia mendirikan dan memimpim negara-kota Madinah. Kenyataan ini bukan hanya terlihat dalam Piagam (Konstitusi) Madinah, tetapi juga dari pergantian nama kota Yatsrib menjadi Madinah yang tentu saja merupakan salah satu cognate istilah “madani” itu sendiri.

Baca Juga : Menghijrahkan Perpecahan

Piagam Madinah ini, bagi Abdul Aziz (2011) hadir dengan nilai-nilai respect, acceptance, promoting peace serta pendekatan penyelesaian dan mencegah konflik horizontal antar suku dan agama berdasarkan perbedaan yang ada di antara mereka. Pembukaan Piagam Madinah telah menyebutkan bahwa “…they form one nation-ummah”. Dalam pasal ini, Rasulullah Saw menyatukan masyarakat Madinah dalam bingkai pluralistik dengan dikenalkannya institusi masyarakat baru yang disebut ummah wahidah. Landasan bagi ummah bukanlah keturunan (nasab) dan batas-batas kekabilahan, tetapi ke-Islam-an.

Ummah ini disatukan atas dasar nilai Islam dan keadilan, bukan oleh hubungan darah sebagaimana yang terjadi pada suku-suku Arab sebelumnya. Islam mengubah masyarakat kesukuan ini dengan cara menarik individu ke pusat tanggung jawab sosial, di hadapan Allah dan Rasulullah Saw, dan tidak ada seorang pun bisa berlindung di balik kekuatan kelompok. Sikap ‘ashabiyyah (fanatik kesukuan) dalam pengertian membantu ‘suku sendiri secara tidak adil’ dilarang (Antony Black, 2001). Kesatuan ummah berdasarkan penyatuan berbagai kabilah dengan tetap menghormati eksistensi setiap kabilah. Piagam Madinah telah menjadi landasan bagi koalisi besar antar suku.

Karena begitu monumentalnya piagam madinah ini, Muhammad Hamidullah dalam buku The First Written Constitution of the World, ia menulis, “Undang Undang Dasar negara tertulis pertama yang pernah dikemukakan oleh penguasa dalam sejarah ummat manusia ternyata diumumkan oleh Nabi Muhammad saw, yakni pada tahun pertama Hijrah (622 M), sekarang Undang Undang Dasar tersebut telah sampai di tangan kita.”

Keadaban Berbangsa

Sangat jelas di sini bahwa piagam persaudaraan yang diciptakan Nabi Muhammad mampu membangun keadaban berbangsa, bukan sekedar kemajuan. Inilah yang mesti dipelajari dan direfleksikan dalam konteks kebangsaan di Indonesia. Abdul Aziz (2011) melihat ada beberapa catatan krusial ihwal keadaban berbangsa dalam Piagam Madinah.

Pertama, Piagam Madinah menghargai dan mengakui keberadaan suku-suku yang ada di Madinah. Disebutkan bahwa suku-suku yang ada, seperti Bani Auf, Bani Saidah, Bani Al-Harits, Bani Jusyam, Bani Al-Najjar, Bani Amr bin Auf, Bani Al-Nabit, dan Bani Al-Aus tetap menurut adat kebiasaan baik mereka yang berlaku, bersama-sama membayar tebusan darah seperti yang sudah-sudah. Dan setiap golongan harus menebus tawanan mereka sendiri dengan cara yang baik dan adil di antara sesama orang beriman. Dalam menyatukan suku-suku ke dalam suatu ummah, Piagam Madinah tidak serta merta membentuk tradisi baru yang mengakibatkan mereka meninggalkan tradisi lama. Piagam Madinah menghormati tradisi lama yang berupa pembalasan setimpal (qishas).

Kedua, Piagam Madinah mengisyaratkan adanya penegakan hukum yang adil. Dalam Piagam Madinah disebutkan bahwa orang yang beriman dan bertakwa harus melawan orang-orang yang berbuat zalim, berbuat jahat, dan kerusakan di antara mereka. Apabila timbul perselisihan tentang masalah apapun, maka tempat kembalinya hanya kepada Allah dan kepada Muhammad Saw.

Ketiga, Piagam Madinah menjamin kebebasan beragama bagi masyarakat Madinah dan tidak boleh mengganggu penganut agama lain. Disebutkan di dalam Piagam Madinah bahwa bagi orang Yahudi agama mereka dan bagi orang Islam agama mereka, termasuk para pengikut mereka dan diri mereka sendiri, kecuali orang yang melakukan perbuatan aniaya dan durhaka maka orang seperti itu hanya akan menghancurkan diri dan keluarga mereka sendiri.

Keempat, Piagam Madinah menjamin hak dan keselamatan masyarakat Madinah. Apabila ada pihak yang berkhianat terhadap isi Piagam, maka dia akan dihukum tidak peduli berasal dari suku dan agama apa. Di dalam Piagam pun dikatakan bahwa jaminan Allah itu satu, Dia melindungi yang lemah di antara mereka.

Kelima, Piagam ini membungkus semuanya dalam rangka persaudaraan.  Persaudaraan haruslah dijalankan ke semua golongan, tidak hanya di antara umat Islam. Semua masyarakat Madinah harus bisa bersatu padu dan bekerja sama dalam tanggung jawabnya mempertahankan negara Madinah dari apapun yang bisa mengganggu kestabilan negara Madinah.

Dari sini, Piagam Madinah dapat dikatakan sebagai merupakan sebuah konstitusi tertulis pertama di dunia. Lingkup amanat dan kemodernan pemikiran ideologis yang dikandung di dalamnya merupakan suatu kemajuan luar biasa di abad ke-7. Abad ke-21 mesti mencontohnya untuk membangun masyarakat dan bangsa yang berkemajuan dan berkeadaban.

Facebook Comments