Hijrah dari Narasi Kebencian, Beginilah Tuntutan dari Nabi

Hijrah dari Narasi Kebencian, Beginilah Tuntutan dari Nabi

- in Suara Kita
397
0
Hijrah dari Narasi Kebencian, Beginilah Tuntutan dari Nabi

Belum lama berlalu, viral video emak-emak menghina istri presiden, Iriana Joko Widodo. Pelaku diketahui bernama Elsa Salsa Samsari melontarkan narasi kebencian melalui unggahan videonya di medsos. Terlihat secara jelas emak-emak berkacamata dan berjilbab tersebut menghina Iriana sambil meludah.

Berekspresi di dunia maya maupun dunia nyata memang menjadi hak setiap masyarakat Indonesia pasca bergulirnya reformasi. Setiap individu merdeka untuk meluapkan ekspresinya. Tetapi, tentu saja kebebasan tersebut bebas terbatas. Kebebasan berekspresi harus tidak menegasikan hak orang lain. Seseorang memiliki hak, tapi orang lain juga demikian. Demikian juga, semua manusia memiliki kewajiban.

Yang menarik dari emak-emak pembuat konten video yang menghina Iriana, ia memakai jilbab, busana penutup yang menjadi identitas muslimah. Sangat disayangkan. Karena Islam sangat anti narasi ujaran kebencian. Sebagaiman jamak diketahui melalui pesan-pesan yang disampaikan oleh baginda Nabi.

Seperti disampaikan oleh Siti Aisyah sendiri, ia pernah ditegur keras oleh Nabi ketika melontarkan narasi kebencian menghina fisik salah seorang istri Nabi yang lain. Disinyalir, hal itu karena Aisyah cemburu, kemudian menghina fisik salah seorang istri Nabi.

Abu Daud dan Turmudzi merekam hadits yang bercerita tentang peristiwa tersebut dalam kitab sunannya masing-masing.

Aisyah bercerita, suatu ketika dirinya berkata kepada Nabi, “Cukup bagimu perihal kekurangan Shafiyyah yang ini dan itu”. Rasulullah menegurku, “Kamu telah melontarkan kalimat yang sangat luar biasa, apabila dilemparkan ke laut, pasti akan bercampur (merubah rasa air) laut tersebut”.

Lanjut Aisyah, “Aku juga pernah menceritakan (keburukan) seseorang kepada Nabi, beliau tidak senang dan berkata; “Aku tidak senang bercerita perihal seseorang dan aku mendapatkan (keuntungan) ini dan itu”.

Menurut Imam Turmudzi, sebagaimana termaktub dalam kitab karya Imam Nawawi, status hadits di atas statusnya hasan sahih.

Imam Nawawi membuat perumpamaan, seandainya ghibah atau membicarakan keburukan orang lain berwujud fisik, kemudian diceburkan ke laut, niscaya akan merubah aroma dan rasa air laut menjadi busuk dan pahit.

Ghibah yang memiliki arti membicarakan keburukan orang lain merupakan salah satu bentuk ujaran kebencian. Sebagaimana Aisyah yang menceritakan keburukan Shafiyyah berlatar cemburu, supaya Nabi lebih memperhatikan dirinya dari pada Shafiyyah. Satu riwayat mengatakan keburukan Shafiyyah yang diceritakan Aisyah adalah bentuk fisik Shafiyyah yang pendek.

Tak pernah sekeras kala itu Nabi menegur Aisyah, istrinya. Menandakan bahwa menyebarkan narasi kebencian sangat dilarang dalam Islam.

Imam Nawawi dalam kitab yang sama menulis, dirinya tidak menemukan hadits lain dimana Rasulullah sangat keras menanggapi masalah ghibah atau narasi kebencian. Gambaran bisa merubah aroma dan rasa air laut menjadi busuk dan pahit menunjukkan besarnya dosa ghibah.

Ghibah adalah narasi kebencian. Berbicara tentang keburukan orang lain sama halnya menghasut supaya orang tersebut membenci orang yang dibicarakan keburukannya. Hal ini sangat berbahaya karena akan menimbulkan permusuhan dan kebencian.

Selain ghibah, berita bohong atau hoax juga merupakan narasi yang dapat menimbulkan kebencian, permusuhan dan perpecahan. Al Qur’an tegas memperingatkan bahaya menyebarkan narasi kebencian, membicarakan aib orang lain dan fitnah (QS. Al Hujurat: 12).

Perumpamaan bagi orang yang suka menyebarkan narasi kebencian, berita bohong dan menghina orang lain, diumpamakan seperti seseorang yang senang memakan daging saudaranya yang telah meninggal. Sesuatu yang menjijikkan. Sekali lagi sebagai alarm peringatan perbuatan tersebut sebagai dosa besar.

Kesimpulannya, konten yang bernuansa hasutan, cacian, provokasi dan adu domba, dalam pandangan Islam bukan merupakan hak seseorang dalam sebuah kebebasan berekspresi. Sebaliknya, semua bentuk ekspresi tersebut dilarang.

Karena itu, hijrah, atau lebih tepat taubat dari itu semua menjadi keharusan. Sebab bukan hanya dosa besar, akibat lebih buruk narasi ujaran kebencian, cacian, adu domba dan provokasi adalah pembunuhan massal. Tentu kita masih ingat peristiwa di Kenya beberapa tahun yang silam, gara-gara ujaran kebencian yang memainkan isu sara, hanya satu jam berselang setelah konten narasi kebencian itu tersebar, akibatnya 900 orang meregang nyawa.

Dalam konteks fikih bernegara, penyebar konten narasi kebencian, hoax, adu domba, provokasi dan semisalnya harus disanksi dengan hukuman berat. Sebab, akan sangat menggangu stabilitas keamanan dan retaknya persatuan. Konten-konten negatif seperti itu bukan ekspresi kebebasan, akan tetapi pelanggaran terhadap aturan syariat Islam. Menangkap pelaku, memenjarakan dan dihukum dengan hukuman yang berat adalah kewajiban imam (pemerintah).

Facebook Comments