Hijrah dari Radikalisasi dan Komodifikasi Agama

Hijrah dari Radikalisasi dan Komodifikasi Agama

- in Suara Kita
729
1
Hijrah dari Radikalisasi dan Komodifikasi Agama

Istilah hijrah dalam beberapa tahun belakangan ini populer di kalangan umat muslim Indonesia. Terutama di kelompok kelas menengah muslim perkotaan. Pangkal-mulanya ialah merebaknya fenomena pertaubatan massal yang lantas diistilahkan sebagai “hijrah”. Tidak hanya di kalangan masyarakat awam, gelombang fenomena hijrah juga melanda kalangan selebritas.

Sejumlah selebritis, mulai dari pemain sinetron hingga musisi secara terbuka menunjukkan ekspresi ketaatan dan kesalehannya di ruang publik. Kelompok yang selama ini dikenal sekuler, bahkan adaptif dengan gaya hidup hedonistik itu tiba-tiba berubah haluan menjadi lebih relijius. Mereka rajin mengikuti kajian Islam yang diberikan sejumlah ustaz. Tidak lupa, mereka juga mengubah tampilan menjadi tampak lebih islami.

Bagi yang perempuan, gamis panjang terusan dan jilbab lebar menjadi kostum harian menggantikan pakaian selebritas yang kerap glamor dan sensual. Demikian pula para pesohor laki-laki. Baju koko tanpa kerah dan celana di atas mata kaki alias cingkrang menjadi penanda pertaubatan mereka. Tidak lupa, wajah yang sebelumnya dijaga agar semulus dan sebersih mungkin pun kini dihiasi dengan cambang dan jenggot.

Sekilas tidak ada yang salah dengan fenomena pertaubatan yang lantas dilabeli hijrah tersebut. Persoalannya kemudia adalah ketika penyematan label hijrah itu dirasa kurang mewakili spirit hijrah yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad. Anggapan ini tentu bukan asumsi belaka. Jika dilihat secara seksama, fenomena hijrah di kalangan selebritas dan kaum kelas menengah muslim-urban pada umumnya mengarah pada kecenderungan radikalisasi dan komodifikasi agama.

Kecenderungan Radikalisasi dan Komodifikasi  

Kecendeurungan radikalisasi agama dalam fenomena hijrah kelas menengah muslim dan kalangan selebritas itu tampak jelas dalam corak keberagamaan yang mereka praktikkan. Aktivitas pertaubatan atau mereka sebut hijrah di satu sisi memang membuat mereka cenderung lebih taat dalam menjalankan ajaran Islam. Namun, di sisi lain meningkatnya ketaatan dan kesalehan itu juga berbanding lurus dengan menguatnya praktik keberagamaan yang eksklusif, intoleran bahkan menjurus radikal.

Baca Juga : Kontekstualisasi Makna Hijrah dalam Bingkai NKRI

Hal itu tampak dalam perilaku keberagamaan yang cenderung tertutup, mengklaim diri dan kelompoknya sebagai paling benar dan memahami ajaran agama secara kaku. Salah satu contoh paling nyata ialah keputusan sejumlah musisi untuk menanggalkan profesinya demi berhijrah lantaran menilai aktivitas bermusik sebagai satu hal yang diharamkan dalam Islam. Padahal, dalam tinjauan hukum Islam, hukum memainkan alat musik sebenarnya adahal hal yang khilafiyah (masih diperdebatkan). Ada memang sejumlah ulama yang mengharamkan musik (baik memainkan maupun mendengarkan). Namun, ada pula ulama yang menghalalkan musik, bahkan menjadikan musik sebagai sarana dakwah.

Kekakuan dalam memaknai ajaran Islam itulah yang melatari munculnya sikap intoleran. Kalangan yang merasa telah berhijrah kerap mengklaim diri dan kelompoknya sudah mengamalkan Islam secara kaffah dan menuduh kalangan yang bukan bagian dari kelompoknya sebagai belum sepenuhnya Islam. Tidak jarang pula, mereka melabeli orang di luar lingkaran mereka sebagai pelaku bidah, sesat atau bahkan kafir.

Selain menjurus pada radikalisasi, fenomena hijrah ini juga tidak lepas dari jebakan komodifikasi. Secara sederhana, komodifikasi dapat diartikan sebagai aktivitas mengubah barang atau jasa menjadi bernilai jual atau komersil dan dapat memberikan keuntungan finansial. Nuansa komodifikasi fenomena hijrah itu terrepresentasikan jelas ke dalam berkembangnya industri berbasis halal dan syariah yang belakangan ini kian berkembang pesat.

Pertemuan agama di satu sisi dan kepentingan ekonomi kapitalistik di sisi lain ini dalam banyak hal telah mendegradasi esensi agama yang sesungguhnya. Melalui sentuhan industri dan pelaku ekonomi, Islam yang muncul ke permukaan akhir-akhir ini adalah Islam yang simbolistik. Umat Islam lebih mementingkan untuk mengekploitasi simbol Islam di ruang publik dan menilai kesalehan serta ketaatan semata dari bagaimana seseorang mengadaptasi simbol Islam dalam kehidupan keseharian.

Mengembalikan Spirit Hijrah Nabi

Sebagai sebuah fenomena sosial-keagamaan, mewabahnya virus hijrah yang salah kaprah, bahkan menjurus ke arah radikalisasi dan komodifikasi agama adalah ancaman bagi Islam itu sendiri. Jika dibiarkan berlarut tanpa adanya kritik yang konstruktif, bukan tidak mungkin fenomena itu justru lebih mendatangkan kerugian (madharaat) ketimbang manfaat bagi Islam itu sendiri.

Oleh karena itulah, penting bagi umat muslim Indonesia untuk merenungkan kembali makna hijrah yang sesungguhnya sebagaimana diteladankan oleh Nabi Muhammad Saw. Jika kita merujuk pada praktik Nabi Muhammad, tampak jelas bahwa esensi hijrah adalah berpindah dari keadaan yang buruk ke keadaan yang lebih baik. Konteksnya tidak melulu soal perpindahan fisik, apalagi mengubah tampilan luar, melainkan mengubah mindset dan perilaku.

Jika dikontekstualisasikan dengan kondisi Indonesia saat ini lebih tepat kiranya hijrah dimaknai sebagai upaya merekonstruksi nalar keberagamaan kita yang cenderung intoleran, kaku dan eksklusif. Berhijrah idealnya dimaknai sebagai sebuah laku perjalanan spiritual seorang muslim untuk lebih memahami hakikat keberagamaan dan kebertuhanan. Maka, dalam makna yang demikian itu, hijrah tentunya tidak bisa dilakukan hanya dengan mengubah tampilan luar saja.

Lebih dari itu, hijrah seharusnya diiringi dengan semangat mempelajari dan mendalami ilmu keagamaan secara komprehensif. Puncak hijrah seseorang bukanlah klaim bahwa diri dan kelompoknya adalah penganut Islam paling kaffah. Puncak hijrah ialah ketika ketaatan dan kesalehan tidak hanya mewujud dalam ciri simbolistik, namun juga terrepresentasikan ke dalam tumbuhnya kepekaan sosial. Hijrah idealnya menuntun seorang muslim menjadi pribadi yang moderat-terbuka dan hidup dalam alam aesketisme alias tidak bermewah-mewahan.

Facebook Comments