Hijrah Kebangsaan untuk Persaudaraan

Hijrah Kebangsaan untuk Persaudaraan

- in Suara Kita
150
1
Hijrah Kebangsaan untuk Persaudaraan

Tahun 1440 H sudah meninggalkan kita. Segala macam perilaku, baik perbuatan keji, semisal suka mengadu domba, fitnah, hingga berkata hoak telah kita kubur bersama-sama. Sementara, perilaku baik, semisal gemar menyambung persaudaraan, toleran terhadap sesama, hingga suka membantu kelompok lain juga sudah kita jadikan tabungan untuk selanjutnya kita menunggu masa panen.

Mulai 1 September kemarin, kita sudah memulai tahun baru Hijriyah, yakni tahun ke 1441. Penamaan Hijriyah tidak lepas dari peristiwa besar yang terkait dengan persaudaraan dan kebangsaan. Saat itu, Nabi Muhammad SAW beserta umat muslim Makkah berhijrah ke Yatsrib, untuk selanjutnya disebut Madinah. Umat muslim ini disebut dengan muhajirin (orang-orang yang berhijrah).

Sebagai orang yang berhijrah, segala perbekalan tentu tidak selamanya memadahi. Dengan kata lain, meskipun sudah dipersiapkan dengan sebaik mungkin, segala macam perbekalan belum bisa lengkap sebagaima ketika di kampung halaman sendiri. Makanan seadanya, kendaraan seadanya, bahkan rumah dan lahan untuk bekerja juga tidak dimiliki. Sebagai orang-orang perantauan, kondisi sebagaimana tersebut di atas menjadi persoalan tersendiri. Belum lagi, secara psikologis, orang perantauan tidak memiliki keberanian yang besar sebagaimana penduduk pribumi.

Persoalan demi persoalan yang dialami kaum muhajirin ini tidak lama dirasakan. Penduduk Madinah menerima kaum muhajirin dengan baik dan penuh persaudaraan. Mereka menolong kaum muhajirin dari segala macam keterbatasan. Maka, sebagai kaum penolong, mereka disebut sebagai Kaum Ansor. Mereka tidak segan-segam memberikan sebagian lahan pertanian untuk bercocok tanam saudara muhajirin. Memberikan sebagian rumah untuk kaum muhajirin. Selain itu, kaum ansor juga memberikan kata-kata yang nyaman dirasakan sehingga membuat kaum muhajirin merasa nyaman. Keadaan ini membuat kaum muhajirin semakin nyaman secara psikologis.

Baca Juga : Hijrah Menuju Keutuhan Bangsa

Kaum muhajirin dan ansor akhirnya menjadi saudara yang sangat lekat. Kaum muhajirin merupakan saudara tua kaum ansor secara keimanan karena mereka lebih dahulu membersamai Nabi Muhammad SAW. Maka, kaum ansor sangat menghormati dan sangat senang bisa bersama dengan kaum muhajirin. Sehingga, karena rasa persaudaraan sudah melekat dalam diri mereka, segala macam perbendaharaan di dunia yang dimiliki siap diberikan kepada saudaranya yang membutuhkan. Bahkan, pemberian ini dilakukan dengan senang hati. Mereka merasa senang ketika bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat keapada saudaranya.

Sebagaimana kaum ansor, kaum muhajirin menganggap kaum ansor sebagai saudara yang sangat baik. Di mata kaum muhajirin, kaum ansor adalah orang yang sangat baik. Di saat dirinya serba kekurangan, kaum ansor selalu siap memberikan pertolongan. Bukan hanya perkara yang berkaitan dengan peribadatan, melainkan kekeluargaan, perekonomian, hingga keamanan. Sehingga dari sini, kaum muhajirin sangat baik pula terhadap kaum ansor. Meski keduanya memiliki perbedaan, namun satu sama lain sangat menghormati. Bahkan, perbedaan yang ada dirajut sehingga menjadi kekuatan besar yang disumbangkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk membantu jalan dakwahnya.

Terhadap perjuangan dan persaudaraan kaum muhajirin dan ansor, nabi Muhammad SAW sangat apresiatif. Ia sangat senang dengan perilaku keduanya. Bahkan, ia sempat berdoa, “Ya Allah sesungguhnya kehidupan (yang hakiki) adalah kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Muhajirin dan Anshar.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Persaudaraan bukan saja terjalin antara kaum Muhajirin dan Ansor, namun juga terhadap umat lain. Maka ketika Madinah menjadi sebuah kota besar dengan penuh kemajuan sementara di dalamnya terdapat berbagai macam penduduk, hal ini bukan menjadi hal yang mengherankan. Madinah justru menjadi kota besar penuh dengan peradaban. Dan, kenyataan semacam ini sangat tepat apabila menjadi referensi kebangsaan di Indonesia.

Wallahu a’lam.

Facebook Comments