Hijrah Maknawi; Belajar dari Kasus Roy Suryo, Rizieq Shihab, dan Anak Muda Citayam Fashion Week

Hijrah Maknawi; Belajar dari Kasus Roy Suryo, Rizieq Shihab, dan Anak Muda Citayam Fashion Week

- in Suara Kita
196
0
Hijrah Maknawi; Belajar dari Kasus Roy Suryo, Rizieq Shihab, dan Anak Muda Citayam Fashion Week

Keselamatan manusia tergantung pada kemampuan menjaga lisannya, begitulah kiranya Imam Bukhari berpesan kepada kita. Ungkapan itu sudah beratus tahun dilontarkan, tetapi masih saja relevan sampai hari ini, meski lisan sekarang bisa diartikan status di media sosial kita. Maka dari itu pula, keselamatan manusia kini juga bergantung pada konten di media sosialnya, seperti halnya cilaka yang dialami Roy Suryo akhir ini.

Kasus kebencian yang tersebar di media sosial atau lontaran secara langsung akankah mulai ditinggalkan sebagai upaya hijrah itu sendiri? Di mana, hijrah pada artian yang lebih dalam ialah berpindah atau bergerak dari perilaku lama yang tidak baik menuju perilaku baru yang lebih baik. Itulah yang kemudian dimaksud hijrah maknawi, bukan lagi hijrah dari tempat satu ke tempat lain atau hijrah makani.

Adapun beberapa kasus ujaran kebencian yang sampai viral hari ini ialah ujaran Roy Suryo yang mengatakan bahwa stupa Budha mirip Presiden Jokowi. Apa latar belakang ujaran Roy Suryo mengatakan demikian? Apakah ada kebencian atau kegembiraan dari Roy Suryo ketika mengatakan itu? Jika ada kebencian dalam diri Roy Suryo ketika mengujar hal itu, maka sudah sepantasnya untuk didudukperkarakan.

Jalan yang paling moderat adalah mediasi. Mediasi menjadi jalan tengah untuk mengklarifikasi atau menanyakan maksud dari ujaran kebencian yang dilontarkan Roy Suryo. Pendekatan mediasi akan lebih mengena dan mencerahkan masyarakat bahwa kebencian misalnya, kebencian yang dilakukan Roy Suryo terhadap Jokowi tidak dibenarkan, karena sudah jelas itu melanggar nurani kemanusiaan.

Kebencian memang menyakitkan, balasan dari kebencian bukanlah kebencian itu sendiri, tapi balasan dari kebencian adalah cinta kasih. Saya kira, jikalau masalah ini berujung pada mediasi dan ngopi misalnya. Akan lebih terang adanya, bahwa negeri ini sangat menjunjung tinggi dialog dan cinta kasih.

Kebencian sampai kapanpun tidak akan musnah. Ia merupakan sisi lain dari diri kita, sisi lain dari ego manusia. Akan tetapi, kebencian itu bisa dikendalikan dengan banyak pendekatan. Misal saja, pendekatan keagamaan bagi setiap orang yang meyakini agama, pendekatan sosial bagi mereka yang meyakini bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri, atau pendekatan kebudayaan, di mana budaya bangsa yang luhur jauh dari nilai kebencian itu sendiri. Budaya Indonesia adalah budaya keberagaman, welas asih, dan beradab.

Selain Roy Suryo, Rizieq Shihab, pentolan FPI pun pernah terkena kasus ujaran kebencian, hingga membawanya ke jeruji besi. Bagi saya, balasan yang diberikan ke Rizieq Shihab cukuplah setimpal, dikembalikan ke jalur hukum, mengingat dirinya bukan sekedar membenci manusia, tetapi membenci Indonesia dan membenci Pancasila.

Kebencian yang demikian itu sangat jauh dari semangat revolusi dan semangat cinta kasih. Kebencian Roy Suryo terhadap Jokowi merupakan suatu yang sia-sia alias tidak berguna. Begitu pula kebencian Rizieq Shihab terhadap bangsa ini, juga sangat tidak berguna.

Kebencian-kebencian itu mempolarisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sudah selayaknya bangsa ini berhijrah dari kebencian yang kontra produktif itu menuju cinta kasih yang lebih produktif dan mampu mengantarkan kepada kehidupan bangsa yang damai.

Jika generasi lama mewarisi kebencian, maka marilah generasi baru membumihanguskan kebencian itu dan mencipta warisan baru, warisan cinta kasih. Warisan itu mungkin sedang digagas oleh anak muda yang meramaikan Citayam Fashion Week. Mereka yang berani menggagas dan mengekspresikan dirinya untuk mengenalkan Indonesia yang lebih asyik dan keren.

Generasi muda perlu didukung segala upayanya agar terus berkembang, bukan malah dicibir. Mereka adalah generasi pencari makna, pencari nilai, dan pencari jati diri. Hijrah mereka menentukan nasib bangsa ini. Mereka memberi contoh bagaimana cinta kasih dipertunjukkan satu sama lain. Ekspresi anak muda Citayam yang mampu menggerakkan tradisi persahabatan dan dialog. Mengapa demikian?

Sangat tampak, anak muda yang berada di Citayam Fashion Week adalah mereka yang hendak lepas (meski tidak sepenuhnya) dari gawai. Mereka yang ingin mengekspresikan persahabatan dengen lebih dekat dan lebih hangat. Mereka pula yang mengajarkan cinta kasih kepada para pembenci.

Selain itu, yang tidak kalah penting pada makna hijrah itu sendiri ialah bagaimana bangsa ini bisa berhijrah dari politik yang tidak beradab menuju politik yang beradab. Hijrah dari politik identitas menuju politik kesejahteraan. Karena, sebentar lagi pertunjukan politik akan dimulai, jika gaya berpolitik kita hari ini masih sama saja dengan yang dulu, dengan politik identitas, maka tentu kita telah mengalami kemunduran itu sendiri. Hijrah itu lebih maju dan keren, bukan malah mengalami kemunduran.

Facebook Comments