Hijrah Menerima Pancasila Ala Abu Bakar Ba’asyir

Hijrah Menerima Pancasila Ala Abu Bakar Ba’asyir

- in Suara Kita
986
0
Hijrah Menerima Pancasila Ala Abu Bakar Ba’asyir

Akhirnya, Abu Bakar Ba’asyir sang tokoh yang sejak masa orde Baru bergerak menantang, menolak dan anti ideologi Pancasila. Kini, dia hijrah menerima dengan pikiran dan hati yang jernih. Bahwa, kebenaran Pancasila adalah kemutlakan etis sebagai (prinsip berbangsa) yang harus diikuti dan ditaati oleh seluruh umat Indonesia.

Tentunya, keputusan Abu Abu Bakar Ba’asyir untuk memilih menerima Pancasila bukanlah sebuah paksaan. Dia menerima Pancasila bukan karena kekangan atau-pun atas dasar intimidasi setelah dirinya bebas dari penjara. Ini murni atas dasar kesadaran dan penerimaan yang sifatnya organik.

Kesadaran itu tumbuh atas perenungan yang mendalam. Bahwa, nilai Pancasila (kalau kita pahami) itu sama-sekali tidak bertentangan dengan agama dan bahkan substansi nilai agama dan ketauhidan ada di dalam Pancasila. Di sinilah mengapa, Abu Abu Bakar Ba’asyir menyampaikan dalam sebuah video tentang alasan-alasan para ulama terdahulu menerima Pancasila.

Hijrah Bersama dengan Abu Bakar Ba’asyir Menerima Pancasila

Keputusan Abu Abu Bakar Ba’asyir untuk hijrah menerima Pancasila adalah satu kesempatan besar. Terhadap kelompok-kelompok yang masih beranggapan bahwa Pancasila tidak sesuai syariat Islam dan dianggap bukan ajaran Islam. Agar, mengikuti (jejak hijrah)  Abu Abu Bakar Ba’asyir untuk bisa kembali menerima Pancasila sebagai falsafah bangsa.

Tentunya, kita harus memahami argumentasi berdasar yang disampaikan oleh Abu Abu Bakar Ba’asyir tentang sebuah Pancasila. Jauh sebelum dia menerima Pancasila, bergerak mendirikan berbagai macam organisasi layaknya Jamaah Islamiyah, Majelis Mujahidin Indonesia dan Jamaah Ansharut Tauhid. Untuk menantang dan ingin menggantikan Pancasila sebagai falsafah bangsa.

Sebagaimana saat ini, Abu Abu Bakar Ba’asyir memiliki pemahaman bahwa Pancasila tidak akan diterima dan disetujui oleh para ulama-ulama bangsa terdahulu. Jika, nilai-nilai di dalamnya itu bertentangan, tidak sesuai apalagi dianggap menyalahi ajaran syariat-Nya. Bahkan, bagi Abu Abu Bakar Ba’asyir, semua keputusan ulama tentang Pancasila adalah demi kemaslahatan bangsa yang diterima secara ikhlas.

Jadi, dari sinilah seharusnya kelompok-kelompok yang sejak dulu sebagai (pengikut) Abu Abu Bakar Ba’asyir untuk bisa mengikuti jejak hijrah Beliau. Untuk bisa bersinergi kembali menerima Pancasila sebagai prinsip berbangsa dan bernegara. Hal itu dilakukan oleh Abu Abu Bakar Ba’asyir bukan karena takut terhadap pemerintah. Melainkan, atas dasar (pemahaman kebenaran) yang ditemukan oleh dirinya tentang Pancasila itu.

Pancasila Bagi Abu Abu Bakar Ba’asyir adalah Intisari Ajaran Agama

Sebab, kalau kita pahami di balik hijrahnya Abu Abu Bakar Ba’asyir. Itu memiliki satu argumentasi penting. Bahwa, Pancasila itu mengerucut ke dalam sebuah kebenaran etis yang ada dalam agama. Seperti konsep ketuhanan yang mengacu ke dalam wilayah tauhid. Konsep keadilan yang mengerucut ke dalam basis (kemanusiaan) yang sangat dianjurkan dalam agama. Juga konsep kebersamaan, persatuan dan tolong-menolong yang sangat ditekankan di dalam ajaran agama rahmat itu.

Jadi, hijrahnya Abu Abu Bakar Ba’asyir harus menjadi satu kesadaran penting bagi kelompok-kelompok radikal yang menantang Pancasila dan masih menganggap Pancasila Toghut atau Syirik. Agar, bisa mengikuti khittah atau jejak Beliau yang saat ini menjadi satu teladan penting agar masyarakat Indonesia bisa menyadari bahwa Pancasila adalah kemutlakan dan kebenaran (prinsip berbangsa) yang harus diikuti dan dipatuhi di negeri ini.

Maka, sekali lagi Saya tekankan. Bahwa, hijrahnya Abu Abu Bakar Ba’asyir itu bukan lahir atas paksaan apalagi ancaman. Dia adalah murni atas dasar pemahaman dan perenungan tentang nilai-nilai Pancasila. Sebagaimana, Beliau menginginkan agar generasi bangsa saat ini dan bagi mereka yang masih beranggapan bahwa Pancasila bertentangan dengan ajaran agama. Untuk bisa menyadari dan mengikuti hijrah yang diambil oleh Abu Bakar Ba’asyir itu.

Facebook Comments