Hijrah: Meninggalkan Ujaran Kebencian, Membangun Persaudaraan

Hijrah: Meninggalkan Ujaran Kebencian, Membangun Persaudaraan

- in Suara Kita
592
1
Hijrah: Meninggalkan Ujaran Kebencian, Membangun Persaudaraan

Hijrah memiliki arti meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat. Dalam kajian sejarah, Hijrah dimaknai kegiatan perpindahan Nabi Muhammad Saw bersama sahabat-sahabat dari Makkah ke Madinah. Dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa Akidah dan syariat Islam.

Dalam konteks Islam sekarang ini, hijrah dapat dimaknai sebagai meninggalkan apa yang dibenci Allah menuju apa yang dicintai-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang mengatakan. Seorang muslim ialah orang yang muslim lainya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang Muhajjir (orang yang berhijrah) adalah yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Hadits ini semakin menguatkan bahwa berhijrah berarti meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Swt. dan menuju pada jalan kerukunan dan perdamaian.

Makna hijrah yang diajarkan Rasulullah Saw adalah menciptakan kedamaian, kerukunan, kehidupan, yang lebih baik dan meninggalkan perilaku merusak, yang dalam era sekarang senter di sebut hoax, ujaran kebencian dan fitnah di media sosial. Tentunya hijrah di sini harus menjadi modal positif untuk membingkai seseorang menuju perilaku yang lebih dewasa, menjadi manusia senantiasa mengedepankan sikap saling menghargai. Dan menjadikan tahun baru hijriah ini sebagai resolusi, sebuah tekad dalam diri sendiri untuk meninggalkan perilaku yang jahiliyah menuju kebenaran yang berorientasi dalam penciptaan perdamaian dan kerukunan dalam masyarakat.

Hal ini sejalan dengan yang terdalam dalam surah Al-an’fal, ayat74. Dan orang-orang yang beriman dari berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), merekalah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.

Surah itu dikuatkan juga dalam surah At-Taubah ayat 20 yang mengatakan Orang-orang yang beriman berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Baca Juga : Hijrah, Intoleransi dan Persaudaraan Berbangsa

Dapat dikatakan kita bisa berhijrah dengan menggunakan harta benda kita. Misalnya berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan, membantu orang dalam bentuk materi ataupun non materi, mengutamakan gotong-royong, ini adalah salah satu hijrah. Di mana kita diajak untuk membangun kedekatan yang mendamaikan, menyejukkan, yang kemudian akan melahirkan ketenteraman, kerukunan, dan sudah dipastikan akan melunturkan ujaran kebencian. Karena ketika setiap sikap menghargai sudah tertanam dalam hati dan di praktikkan dalam kehidupan sehari-hari, maka sikap benci atau perilaku negatif lainya akan sulit untuk masuk dalam kehidupan setiap orang.

Sejalan dengan itu, seharusnya kemajuan teknologi juga menjadi poin penting bagi setiap orang untuk berhijrah. Memanfaatkannya sebagai alternatif untuk menyebar pentingnya persaudaraan di sosial media. Dengan tujuan menghindari berita-berita yang berbaur provokasi dan hoax. Dan yang paling penting adalah hijrah dalam membaca, budaya membaca harus menjadi titik utama dalam kehidupan bersosial media. Sebab, kerap kali kita dapati, orang-orang yang menyebar sebuah berita tanpa menyaring terlebih dahulu isi berita tersebut. Apakah itu berita hoax ataukah berita ujaran kebencian.

Hijrah inilah yang harusnya di titik tekankan kepada setiap orang, agar budaya sharing lebih diutamakan dari pada budaya share. Dengan tujuan agar manusia tidak terjebak pada kebohongan-kebohongan yang bisa merugikan bangsa dan tentunya diri sendiri. Untuk itu, hijrah dari diri sendiri, kemudian koreksi dan tularkan kepada orang lain. Agar setiap apa yang kita lakukan selalu bermanfaat untuk kita, orang lain, dan tentunya bangsa Indonesia.

Sudah seharusnya Hijrah dimaknai sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa kita maknai dengan benar. Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi dua syarat. Pertama ada sesuatu yang ditinggalkan dan kedua ada sesuatu yang dituju (tujuan). Dengan kata lain meninggalkan segala hal buruk, negative, maksiat, kondisi yang tidak kondusif menuju pada keadaan yang lebih baik, positif dan kondisi yang kondusif untuk menegakkan persaudaraan.

Facebook Comments