Hijrah Menjadi Netizen yang Nir-Kebencian

Hijrah Menjadi Netizen yang Nir-Kebencian

- in Suara Kita
148
0

Dunia maya, terutama internet telah membuat sebagian orang kehilangan akal sehatnya. Hasrat menjadi viral dan populer dalam sekejap membuat sebagian netizen rela melakukan apa saja. Ada netizen yang menjadi popularitas dan viralitas dengan mengunggah konten yang informatif dan menghibur.

Namun, tidak sedikit netizen yang berharap viral dan populer dari mengunggah konten yang kontroversial, menimbulkan polemik, dan memicu kegaduhan publik. Ada pepatah Arab yang mengatakan, “jika kau ingin terkenal, kencinglah di sumur zam-zam”. Pepatah itu kiranya relevan bagi mereka yang gemar membikin polemik, gaduh, dan kontroversi demi sebuah engagement di media sosial.

Contohnya ialah dua kasus yang belakangan ini menjadi perhatian publik. Yakni penyebaran meme stupa yang diedit menyerupai wajah Presiden Joko Widodo oleh Roy Suryo. Juga viralnya video seorang perempuan bernama Elsanita yang menghina istri Presiden Jokowi yang sekaligus Ibu Negara, yakni Iriana Jokowi. Roy dan Elsanita sama-sama ditetapkan sebagai tersangka pelanggaran UU ITE dengan ancaman penjara lima tahun.

Elsanita dan Roy ialah contoh buruk netizen Indonesia yang gemar mengejar popularitas dan viralitas dengan cara tidak terpuji. Lebih spesifik dalam konteks Roy Suryo, ia memiliki rekam jejak buruk di jagad maya. Berkali-kali ia kedapatan mengunggah konten hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah. Unggahan meme stupa mirip Jokowi ini ia sudah sangat keterluan. Ia melecehkan simbol agama Budha sekaligus menghina Presiden Joko Widodo sebagai kepala negara.

Dari segi kontennya, meme stupa mirip Jokowi merupakan penghinaan yang disengaja. Meme itu tidak mengandung informasi apa pun, apalagi menghibur karena sama sekali tidak lucu. Maka, menjadikan Roy sebagai tersangka pelanggaran UU ITE merupakan tindakan tepat.

Kedua kasus ini idealnya bisa menjadi pelajaran bagi netizen agar bijak bermedsos. Seperti kita tahu, penetrasi internet dan media sosial kian tidak terbendung belakangan ini. Data Kemenkominfo menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia pada tahun 2022 ini telah mencapai 210 juta jiwa dan 40 persen di antaranya aktif di jejaring sosial media. Angka ini diprediksi akan terus bertumbuh seiring dengan kebutuhan, sekaligus mudahnya masyarakat mengakses jaringan internet murah, dan harga smartphone yang kian terjangkau.

Fenomena itu seperti pedang bersisi dua. Di satu sisi mewabahnya penggunaan internet bisa ditengarai sebagai bentuk kemajuan. Di sisi lain, penetrasi internet juga membawa dampak-dampak negatif yang tidak bisa dipandang sepele. Merebaknya hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi di dunia maya merupakan sederet residu persoalan yang timbul karena meningkatnya penggunaan internet.

Membenahi Perilaku di Medsos

Datangnya Tahun Baru Hijriah 1444 dalam beberapa hari ke depan ini kiranya bisa menjadi semacam momentum untuk berhijrah menjadi netizen yang beradab, steril dari anasir kebencian dan permusuhan. Bagi masyarakat awam, menjadi viral dan populer di dunia maya itu tidak perlu dengan membikin kontroversi dan polemik. Cukup dengan konsisten mengunggah karya yang potensial disukai publik, kemungkinan besar akun medsos kita pun akan bertumbuh.

Viralitas tidak akan berarti apa-apa jika perspepsi publik justru negatif. Biasanya, orang-orang yang viral dan populer karena kontroversi itu akan cepat tenggalam dan mudah dilupakan orang. Meningkatkan engagement media sosial juga tidak perlu dilakukan dengan melakukan hal-hal kontroversial. Mencari pengikut (follower) di media sosial harus dilakukan dengan proses panjang, mulai dari personal branding, pemilihan niche atau ceruk yang ingin disasar dan strategi pemasaran konten agar memiliki jangkauan luas. Pendek kata, mencari popularitas dan viralitas dengan cara instan ialah hal yang harus dihindari.

Sedangkan bagi kaum elite, penting kiranya menyampaikan gagasan di medsos tanpa mengandung unsur kebencian. Elite ialah panutan publik. Segala ucapannya potensial diikuti oleh publik. Siar kebencian para elite akan menjadi semacam amunisi publik untuk berdebat, bertikai, dan berseteru tanpa henti. Elite, baik itu politik maupun agama, utamanya yang memiliki basis pengikut besar di media sosial ialah opinion maker sekaligus influencer.

Artinya, segala ucapannya berpotensi menimbulkan multitafsir di tengah publik. Apalagi jika ucapan-ucapannya penuh kebencian, maka hal itu bisa menimbulkan konflik di tengah masyarakat. Hal itulah yang lantas menjadi semacam lingkaran setan kebencian di dunia virtual kita. Datangnya tahun baru hijriah 1444 yang tinggal menunggu hitungan hari ini kiranya bisa menerbitkan inspirasi bagi umat untuk makin berbenah. Termasuk membenahi diri dalam konteks perilaku di dunia maya. Mari kita jaga dunia maya dari oknum-oknum yang ingin menangguk keuntungan instan dengan jalan menebar kebencian, permusuhan, dan perpecahan.

Facebook Comments