Hijrah Menuju Keutuhan Bangsa

Hijrah Menuju Keutuhan Bangsa

- in Suara Kita
185
2
Hijrah Menuju Keutuhan Bangsa

Akhir-akhir ini, keutuhan bangsa Indonesia sedang diuji. Mulai dari kasus rasisme, gejolak demo Papua, NKRI Bersyariah, pro-kontra soal video viral salah satu ustaz, sampai kepada polarisasi masyarakat dalam menyikapi rencana pemindahan ibu kota. Tak jarang dalam menyikapi isu dan kebijakan negara, anak bangsa sering terjebak dalam caci-maki, hoax, provokasi, dan ujaran kebencian.

Setiap hari, virus-virus disintegrasi dan polarisasi itu berseliweran di media sosial di depan mata kita. Bahkan dalam kondisi tertentu, kita –sadar atau tidak –terperangkap dalam jaring-jaring keegoan; dan dengan pede-nya mengumbar keeksklusifan kelompok dan kepentingan masing-masing.

Di tengah kondisi bangsa yang seperti ini, momentum hijrah perlu dikontekstualisasikan sebagai sarana refleksi setiap anak bangsa. Hijrah yang secara harfiah adalah pindah, bisa dijadikan sebagai semangat untuk pindah dari kondisi bangsa yang mulai terpolarisasi dan terkotak-kotak menuju bangsa yang satu dan lepas dari kotak-kotak.

Akan tetapi, hijrah bisa menjadi bahan refleksi, jika penafsirannya  di kontektualisasikan sesuai spirit jamannya. Meminjam bahasa Nasr Hamid Abu Zayd, makna itu tetap, signifikansi yang berubah. Makna adalah apa yang diberikan oleh kata, sementara signifikansi adalah apa yang kita berikan kepada kata. Makna hijrah tetap pindah, akan tetapi signifikansinya tidak bisa lagi mengikuti signifikansi yang diberikan oleh generasi para sahabat empat belas abad yang lalu.

Menuju Keutuhan dan Kedamaian

Hijrah secara historis adalah perpindahan dari satu daerah menuju daerah lain sebagai tempat menetap (migrasi). Setelah Islam tersebar luas, hijrah dimaknai sebagai perpindahan dari tempat yang tidak aman (dar al-harb) menuju tempat yang aman (dar al-salam). Dalam sejarahnya, Nabi melaksanakannya dengan cara pindah dari Mekkah (negeri yang tidak memberikan keamanan) menuju Madinah (negeri yang secara potensial memberikan keamanan).

Baca Juga : Membumikan Islam Damai Dan Toleran

Dalam konteks Indonesia. Pindah dalam makna di atas tidak mendapat momentumnya lagi, sebab Indonesia adalah negeri yang secara potensial (bahkan aktual) sudah memberikan rasa aman kepada warganya. Dengan begitu, signifikansi hijrah bukan pindah secara geografis, melainkan pindah secara moral-praktis. Maksud moral-praktis adalah segala tindak tanduk dalam berbangsa dan bernegara dalam kerangka nilai-nilai kemaslahatan, yang dalam hal ini adalah keutuhan bangsa.

Al-Baqarah, 2: 218 bisa dijadikan bahan refleksi, yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dalam ayat ini, ada trilogi sebagai jalan menuju rahmat Allah, yakni iman, hijrah, dan jihad. Tiga syarat ini harus diwujudkan supaya rahmat Allah terejawantah di muka bumi ini.

Pertama, Iman. Iman satu akar kata dengan aman, maknanya bisa ketenangan, keamanan, dan keutuhan, yang pada akhirnya melahirkan kepercayaan. Iman yang tidak berangkat dari ketenangan dan keutuhan dan tidak bisa menghasilkan rasa aman dan kedamaian, pada hakikatnya belum disebut iman.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, setiap anak bangsa harus menjadikan keamanan, keutuhan, dan ketengan sebagai titik tumpu dan titi tuju sekaligus. Baik dalam bersikap, bertindak, dan berperilaku, makna iman itu harus termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari. Artinya konflik intern, kasus rasialisme, polarisasi masyarakat, dan keributan soal hubungan antara agama di ruang publik harus diselesaikan dengan kerja-kerja positif yang bisa memproduksi keteduhan, kedamaian, dan keutuhan bangsa.

Kerja-kerja positif itu dilakukan dengan syarat kedua, yakni hijrah. Dengan kata lain, hijrah harus dijadikan alat transformasi masyarakat menuju kedamaian, keteduhan, dan keutuhan bangsa. Setiap anak bangsa, harus menjadikan hijrah sebagai semangat pindah dari kondisi tidak aman (caci-maki, ujaran kebencian, hoax, polarisasi, konflik agama, rasisme)  menuju kondisi yang aman (penuh kedamaian, saling menghargai, sikap toleransi, dan persaudaraan sesama anak bangsa).

Akan tetapi, transformasi sosial lewat hijrah belum sempurna jika belum ikut syarat ketiga, yaitu jihad. Artinya kerja-kerja menuju kedamaian, ketenangan, keteduhan, dan keutuhan bangsa, tidak akan bertahan lama, jika tidak dilakukan secara maksimal, totalitas, dan kolektivitas semua komponen anak bangsa. Jihad menuju kedamaian dan keutuhan bangsa itu harus terus menerus dilakukan.

Dengan demikian, signifikasi hijrah dalam konteks Indonesia saat ini bukan lagi perpindahan tempat melainkan perpindahan kondisi dan keadaan. Dari kondisi yang tidak nyaman dan aman menuju kondisi yang aman dan damai. Ini bisa dilakukan jika trilogi iman, hijrah, dan jihad sama-sama dilakukan oleh semua lapisan anak bangsa. Dengan begitu keutuhan bangsa –dalam bahasa Al-Quran disebut rahmat Allah –bisa terwujud.

Facebook Comments