Hijrah, Moralitas Anak Muda dan Citayam Fashion Week

Hijrah, Moralitas Anak Muda dan Citayam Fashion Week

- in Suara Kita
233
0
Hijrah, Moralitas Anak Muda dan Citayam Fashion Week

Sosial media menyediakan ruang baru tidak hanya cara baru berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi cara baru berekspresi. Kebebasan, jati diri dan jiwa milenial menjadi semangat dari perubahan cara baru yang meruntuhkan nilai-nilai lama. Kreatifitas sebagai ikon dan tujuan. Namun, terkadang moralitas menjadi korban atas nama kreatifitas.

Belakangan ini, ekspresi anak muda dalam ajang Citayam Fasion Week (CFW) belum reda dan terus viral. Tidak hanya anak-anak muda pinggiran ibu kota, tetapi para artis dan politisi berhamburan keluar mencari sensasi. Ruang ini menjadi pentas bagi pagelaran kreatifitas yang menjadi ajang mencari popularitas.

Lambat tapi pasti CFW sudah menjadi virus yang menyebar tidak hanya di ibu kota tetapi ke berbagai kota lain. Gaya hidup dari sebuah ekspresi kreatifitas anak-anak muda dari pinggiran. Cerminan suatu identitas kelompok yang menginspirasi anak muda lainnya. Berjalan dengan berpakaian nyentrik dan berlenggak lenggok menirukan peragaan busana layaknya model.

Memang ada segi positif dari apa yang mereka lakukan. Banyak di antara mereka yang berhasil menjadi seleb Instagram maupun tiktok dan berhasil mendapatkan popularitas juga penghasilan dari konten yang mereka buat. Dari aspek moralitas CFW dinilai efektif dan lebih baik dari pada ekspresi remaja yang suka tawuran dan kriminal.

Namun, yang menjadi pertanyaannya, adakah norma dan batasan yang masih terjaga sebagaimana budaya dan ajaran agama yang selama ini kita percaya? Apakah kreatifitas juga bisa melabrak moralitas?

Melihat secara langsung, mungkin akan merasa agak miris dengan apa yang sebenarnya terjadi. Di sana kita akan disuguhi dengan muda-mudi saling merangkul bebas, berbagi kisah asmara, berbusana yang sedang dipuja-puja. Bahkan, tidak jarang peragaan busana yang dilakukan oleh laki-laki dengan melenggak lenggok dengan busana ala seorang perempuan.

Popularitas CFW memang sedang tidak bisa dihentikan. Bahkan atas nama kreatifitas tokoh agama pun mengapresiasi acara ini. Anak-anak muda tumpah ruah menyajikan pertunjukan fashion. Generasi muda yang semestinya fokus memandang Pendidikan juga terpukau untuk melihat cara mendapatkan penghasilan dan popularitas baru.

Virus CFW bisa menyebar ke berbagai kota dengan menjadi gaya baru anak muda mengekspresikan kreatifitasnya. Cara pandang untuk melihat moralitas dan masa depan Pendidikan sedang dipertaruhkan. Kapitalisasi dan glorifikasi media berperan penting memainkan ledakan popularitas yang tak pernah berhenti.

Tidak menjadi persoalan, jika ini menjadi salah satu gaya dan ekspresi. Namun, penting identitas, karakter, moralitas dan nilai keadaban, keagamaan dan kebangsaan masih bisa dipertahankan. Media, tokoh agama dan tokoh politik tidak mengkapitalisasi popularitas CFW menjadi ruang bebas ekspresi generasi muda tanpa tujuan masa depan.

Hijrah Anak Muda

Hijrah merupakan pertanda titik balik dan awal perubahan. Hijrah mempunyai pengertian positif perubahan dari keburukan menuju kebaikan, bukan sebaliknya. Dalam konteks inilah, hijrah generasi muda mampu memberikan semangat perubahan menuju yang baik bahkan terbaik. Dalam proses mencari identitas anak muda harus terus menimba semangat perubahan menuju yang lebih baik.

Dalam konteks hijrah, sudah seharusnya saatnya anak muda diedukasi dengan penguatan karakter dan moralitas menghadapi perubahan. Bukan sekedar mengejar popularitas dan kreatifitas tanpa moralitas, tetapi suatu ekspresi yang bertanggungjawab secara moral dan keagamaan. Karena ketika anak mengalami goncangan moral akan ada masanya mereka akan lari kepada hal yang sangat ekstrem dan radikal.

Karena itulah, pentingnya perhatian dari orang tua dan tokoh agama untuk memberikan nilai dan norma serta kesadaran spiritual dan sosial anak muda dalam membentuk karakter dan jati diri mereka. Hijrah adalah sebuah fase perubahan mental dan perilaku anak muda menuju arah yang lebih baik.

Anak muda harus memiliki kreatifitas tetapi juga tanggungjawab terhadap lingkungan sosial dan komunitasnya. Bukan sekedar mengumbar kreatifitas belaka, tetapi mempunyai visi dan masa depan yang jelas tentang perubahan ke depan dirinya dan bangsanya. Anak muda perlu dididik dengan Pendidikan bukan justru mengabaikan Pendidikan.

Karena itulah, momen hijrah harus menjadi penanda perubahan bagi generasi muda dalam membentuk karakter yang baik. Sejatinya, menjadi baik tidak pula harus memasung kreatifitas. Namun, menjadi kreatif juga tidak berarti harus melabrak nilai dan norma yang positif.

Facebook Comments