Hijrah Nabi: Inspirasi Membangun Persaudaraan Masyarakat Madani

Hijrah Nabi: Inspirasi Membangun Persaudaraan Masyarakat Madani

- in Suara Kita
286
1
Hijrah Nabi: Inspirasi Membangun Persaudaraan Masyarakat Madani

Momentum tahun baru Hijriyah kaya akan hikmah. Selain pergantian tahun bagi umat Islam, tahun baru hijrah menyimpan sejarah panjang terkait peristiwa Hijrah Nabi Muhammad Saw. dari Makkah ke Madinah, yang bersambung dengan masa-masa gilang gemilang kepemimpinan beliau dalam membangun masyarakat plural yang hidup damai dalam persaudaraan, yang kemudian disebut dengan masyarakat madani atau berperadaban.

Menyikapi kondisi Makkah yang sudah tak kondusif untuk berdakwah, Nabi Muhammad Saw. dan para pengikutnya berhijrah ke Yatsrib atau Madinah. Nabi tiba di Madinah pada Senin, 27 September 677 M. Sejarawan mualaf Martin Lings (Abu Bakr Siraj al-Din) dalam bukunya Muhammad ; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik (2016), menggambarkan bagaimana kedatangan Nabi di Yatsrib disambut dengan kebahagiaan.

“Selamat datang wahai Nabi Allah! Selamat datang wahai Nabi Allah” Begitulah luapan kegembiraan yang berulang-ulang diteriakkan lelaki dan perempuan, juga anak-anak yang berbaris sepanjang jalan.

Masyarakat Madinah tak salah begembira. Sebab, sejak saat itulah, lewat kepemimpinan Rasulullah Saw. kehidupan mereka menjadi semakin rukun, damai, dan sejahtera. Padahal, saat itu masyakat Madinah tengah dilanda konflik antarsuku. Menyikapi kondisi masyarakat Madinah tersebut, Nabi Saw. melakukan berbagai langkah yang kemudian membawa perubahan besar bagi Madinah.

Quraisy Shihab dalam tulisannya Keberagaman Madinah di Zaman Nabi (2018), menuliskan bahwa langkah pertama Nabi SAW., begitu tiba di Madinah adalah membangun masjid sebagai markas kegiatan dan tempat ibadah. Kemudian, dari sana, lahir langkah-langkah berikutnya, yaitu mempersatukan umat Islam penduduk Madinah (al-Anshar) dengan para pendatang dari Mekkah (al-Muhajirin).

Sebagai pendatang, kalangan Muhajir hidup dalam keterbatasan, sebab jauh dari keluarga dan harta benda yang mereka tinggalkan di Makkah. Oleh karena itu, jelas Quraisy Shihab, Nabi SAW., “mempersaudarakan” setiap Muhajir dengan seorang anshar yang siap mendukung saudaranya yang datang dari Makkah. Masyarakat Madinah rela menolong para pendatang tersebut dengan semangat persaudaraan, sehingga mereka kemudian disebut sebagai kaum al-Anshar (penolong).

Baca Juga : Hijrah, Perempuan, dan Pintu Masuk Radikalisasi Keagamaan

Tak berhenti pada persaudaraan antarumat Islam, Nabi Saw. kemudian melangkah jauh ke depan dengan membangun hubungan persaudaraan antarseluruh penduduk Madinah. Penduduk Madinah yang saat itu terdiri dari berbagai suku dan agama diikat suatu konsensus bersama yang dinamakan “Piagam Madinah”. Melalui piagam tersebut, semua anggota masyarakat dilindungi haknya dan diakui eksistensinya. Setiap kelompok agama berhak melaksanakan kepercayaannya tanpa boleh diganggu oleh siapapun.

Misalnya, di Pasal 25 sampai 46, Piagam Madinah bicara tentang relasi antara muslim dan Yahudi. Di sini, di samping perlindungan hak dan eksistensi masing-masing kelompok, juga ada komitmen bersama untuk menjaga Madinah dan melindungi keberlangsungan perjanjian tersebut.

Dijelaskan Ibnu Hisyam, seperti dikutip Edi Mulyono (2017:133), Pasal 25 Piagam Madinah menyebutkan, “Bagi kaum Yahudi agama mereka dan bagi kaum Muslim agama mereka. (Kebebasan ini berlaku) juga bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zhalim dan jahat…. Kemudian, Pasal 37 berbunyi, “Bagi Kaum Yahudi ada kewajiban biaya dan bagi kaum Muslimin ada kewajiban biaya. Mereka (Yahudi dan Muslim) bahu-membahu dalam menghadapi musuh piagam ini. Mereka saling memberi saran dan nasihat…. Pembelaaan diberikan kepada pihak yang teraniaya”.

Apa yang dibangun Rasulullah Saw di Madinah, dengan mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, bahkan menyatukan antarsemua kelompok agama dan suku di Madinah lewat “Piagam Madinah” berbuah manis. Terbukti, langkah-langkah tersebut kemudian mampu menciptakan suatu komunitas masyarakat yang tak sekadar sejahtera, namun juga sanggup hidup rukun dan berdampingan meski dalam perbedaan. Suatu masyarakat yang bisa saling menghormati eksistensi satu sama lain, bahkan bekerja sama, serta berkomitmen menjaga penegakan Piagam Madinah.

Hal tersebut menjadi inspirasi berharga bagi kita semua, terutama bangsa Indonesia yang juga memiliki karakteristik masyarakat beragam seperti penduduk Madinah di zaman Nabi. Dari kepemimpinan Rasulullah Saw. di Madinah, kita bahkan tidak sekadar belajar membangun persaudaraan antarwarga bangsa, namun juga tentang semangat menjaga perjanjian atau “undang-undang” yang sudah menjadi konsensus bersama.

Simak petikan dalam Pasal 37 Piagam Madinah, ….Mereka (Yahudi dan Muslim) bahu-membahu dalam menghadapi musuh piagam ini…. Dalam konteks bangsa Indonesia, ini bisa dimaknai sebagai semangat dan kerjasama antarberbagai elemen bangsa untuk menjaga Pancasila sebagai dasar negara, dari “musuh-musuh” yang mencoba mengusik, bahkan mengganti dasar atau fondasi bangsa tersebut.

Di tengah keutuhan dan kerukunan yang terancam lewat fenomena rasialisme, isu penodaan agama, hingga gemerlap era medsos yang meruahkan narasi provokatif pemecahbelah, sejarah hijrah Nabi Saw. hingga bagaimana beliau membangun masyarakat damai di Madinah tersebut menjadi begitu penting diresapi dan dijadikan inspirasi bersama. Dari sejarah Hijrah Nabi, kita belajar mengakhiri perselisihan, saling menghormati, membangun persaudaraan, untuk kemudian bahu-membahu menuju kesejahteraan dan masyarakat yang berperadaban (madani).

Wallahu a’lam..

Facebook Comments