Hijrah Total Dari Paham Radikal

Hijrah Total Dari Paham Radikal

- in Suara Kita
793
1
Hijrah Total Dari Paham Radikal

Umat Islam memperingati Tahun Baru Hijriah pada 1 Muharram 1441 H atau bertepatan dengan 1 September 2019. Momentum ini tepat untuk melakukan refleksi atau muhasabah serta perencanaan ke depan. Setiap peringatan Tahun Baru Hijriah dapat dijadikan titik pijakan melakukan perubahan atau hijrah dalam segala aspek kehidupan. Salah satunya dari pikiran, pemahaman atau tindakan berbau radikal.

Indonesia juga baru saja merayakan HUT ke-74. Tujuh puluh empat tahun bukanlah seumur jagung lagi. Namun bagi sebuah negara memang masih bisa dikatakan belia, apabila dibandingkan dengan ratusan tahun usia kemerdekaan negara-negara lain. Negara-negara tersebut umumnya adalah negara maju di Eropa dan Amerika. Perbedaan ini tentu bukan alasan agar bangsa kita menerima kenyataan ketertinggalan dalam berbagai sektor dari negara-negara tersebut.

Seiring bertambahnya usia, maka bertambah pula ujian dan tantangan yang dihadapi, baik karena faktor internal maupun eksternal. Sebagai negara berkembang, sengkarut permasalahan klasik masih menghantui perjalanan bangsa Indonesia. Sebagai bagian dalam peradaban global, dinamika percaturan dunia internasional juga memberikan tantangan permasalahan tersendiri. Salah satunya adalah muncul dan berkembangnya radikalisme yang menjadi musuh bersama dunia global.

Masing-masing individu penting memerdekakan dirinya dari pengaruh radikalisme. Isu SARA dan radikalisme mempengaruhi pemikiran tiap individu lalu berkembang dan berpotensi membesar jika tanpa penanggulangan. Mulai dari masing-masing individu penting sadar dan menambah literasinya guna menghindari pengaruh radikalisme. Hijrah dari paham radikal mesti dilakukan secara total dan sejak dini.

Paham Radikal

Radikalisme mesti dimaknai secara proporsional. Secara luas memang sepadan dengan makna kekerasan. Namun setiap tindak kekerasan tidak otomatis dapat dikatakan sebagai radikalisme. Konotasi radikalisme adalah negatif. Radikalisme tentunya juga tidak bisa disematkan hanya terkait aspek keagamaan bahkan agama tertentu. Setiap entitas dan komunitas berpotensi menjadi subyek dan obyek radikalisme, tidak pandang suku, agama, ras dan golongan. Pemahaman dan penempatan yang proporsional ini menjadi penting sebagai kekuatan tiap entits untuk memerdekakan tiap individunya dari radikalisme.

Baca Juga : Hijrah Nabi: Inspirasi Membangun Persaudaraan Masyarakat Madani

Radikalisme  berasal dari bahasa Latin radix yang berarti “akar”. Radikalisme sendiri merupakan istilah yang digunakan pada akhir abad ke-18 untuk pendukung Gerakan Radikal. Kata “radikal” dalam konteks politik pertama kali digunakan oleh Charles James Fox. Pada tahun 1797, ia mendeklarasikan “reformasi radikal” sistem pemilihan, sehingga istilah ini digunakan untuk mengidentifikasi pergerakan yang mendukung reformasi parlemen. Gerakan yang dimulai di Britania Raya ini  menyatakan dirinya sebagai partai kiri jauh yang menentang partai kanan jauh. Begitu “radikalisme” historis mulai terserap dalam perkembangan liberalisme politik, pada abad ke-19 makna istilah radikal di Britania Raya dan Eropa daratan berubah menjadi ideologi liberal yang progresif (Wikipedia, 2019).

Dalam konteks ke-Indonesiaan kini, radikalisme diidentikan hanya pada radikalisme keagamaan semata dan fokusnya adalah Islam. Setiap muncul kata radikalisme, maka konotasinya adalah paham atau gerakan Islam garis keras. Hal ini memang tidak salah, namun merupakan pemaknaan sempit. Keadilan berpikir harus dimulai sejak dalam pikiran juga. Dengan demikian setiap paham atau tindakan yang mengarah pada kekerasan yang sistematis mestinya disebut radikalisme tanpa kecuali.

Radikalisme menjadi cikal bakal terorisme. Kembali, semua agama, suku, ras dan golongan apapun berpotensi menjadi subyek dan obyek terorisme. Bukti-bukti di lapangan dari seluruh belahan dunia sudah ada. Penanggulangan terorisme dari hulu tentu adalah melawan radikalisme itu sendiri.

Pendekatan Hijrah

Semua sepakat bahwa radikalisme harus dilawan, tidak pandang bulu.  Pendekatannya dapat lunak (soft) maupun keras (hard). Kedua pendekatan ini penting dilakukan dengan melihat situasi, kondisi dan subyeknya. Pendekatan soft merupakan jangka panjang namun efeknya bisa berkelanjutan. Sedangkan pendekatan keras dibutuhkan sebagai bentuk tanggap darurat yang membutuhkan penyikapan segera.

Perbaikan mulai pemahaman individu menjadi contoh pendekatan lunak. Setiap anak bangsa mesti dijamin tidak terpapar radikalisme. Semua komponen keagamaan, baik ulama, rohaniawan, hingga Jemaah sendiri mesti berpartisipasi aktif menghadirkannya. Semua agama menghormati kemerdekaan berpikir, namun juga melawan radikalisme. Pendekatan teologi aplikatif dapat menjadi strategi fundamental memerdekakan umat manusia dari pikiran atau pemahaman yang mengarah radikalisme.

Selanjutnya sektor pendidikan dapat dioptimalkan perannya. Peran mengajarkan konsepsi perdamaian sekaligus perlawanan terhadap segala paham kekerasan. Pendidikan formal, non formal, dan informal semua dapat berperan serta. Ketahanan keluarga dari paparan radikalisme menjadi benteng terkuat yang harus diwujudkan.

Penduduk yang besar bagi Indonesia menjadi modal kuantitatif yang mesti dirawat dan dikelola menuju kualitas yang baik pula. Pencetakan SDM yang unggul dan kompetitif secara global mesti diimbangi dengan internalisasi upaya deradikalisasi. Hijrah dari paham radikal dari setiap individu akan mendukung Indonesia sebagai teladan global dalam menanggulangi radikalisme dan terorisme secara proporsional dan professional.

Facebook Comments