Hikayat Penceramah : Kokohnya Iman tidak Dibangun dengan Menjelekkan Keimanan yang Lain

Hikayat Penceramah : Kokohnya Iman tidak Dibangun dengan Menjelekkan Keimanan yang Lain

- in Suara Kita
183
0
Hikayat Penceramah : Kokohnya Iman tidak Dibangun dengan Menjelekkan Keimanan yang Lain

Pemerintah kini harus meningkatkan kewaspadaan terhadap individu dan kelompok yang mengaku penceramah, namun dalam materinya disisipkan penanaman pandangan dan paham intoleransi yang dapat memecah belah bangsa Indonesia. Meningkatkan keyakinan umat tidak bisa dengan cara menjelekkan keyakinan umat lain. Begitu pula mengokohkan keimanan umat bukan dengan cara mendiskrditkan keimanan yang lain.

Berkaca dari Singapura, mereka berani menolak penceramah Abdul Somad atau dikenal UAS lantaran dinilai sebagai sosok penceramah ekstremis dan mengajarkan segregasi. UAS tampak geram pasca dirinya ditolak dari Singapura tanpa alasan yang jelas. UAS menyebut bahwa Singapura merupakan Negara kecil yang angkuh. Bahkan di chanel youtube hai guys official, UAS menyatakan bahwa, “Negara ini kan kecil, kalau kita kencing bersama-sama diarahkan pipanya ke sana, tenggelam dia. Kok sombong kali dia itu”.

Sebenarnya cukup tidak pantas seorang penceramah mengungkapkan omongan yang tidak pantas seperti itu, padahal diketahui bukan hanya Negara Singapura saja yang menolak UAS, namun ada beberapa Negara lainnya yang juga pernah mendeportasinya. Tak berhenti di situ terdapat ungkapan yang cukup mencengangkan, dia yakin nantinya Singapura akan direbut oleh orang Melayu lagi, “Tapi nanti Insya Allah akan sampai masanya, zaman cucu-cucu kita, yang berkuasa itu orang Melayu terus direbut, biar tahu rasa itu, kurang ajar,”.

Para pendukungnya pun sempat mengadakan demonstrasi. Narasi yang keluar menjadi sangat tidak produktif yang seolah Pemerintah Singapura menghina umat Islam Indonesia. Pemerintah Singapura juga dianggap islamophobia dan dituntut untuk meminta maaf dalam waktu 2×24 jam.

Dari sini cukup membuktikan seperti apa UAS yang sebenarnya sebagai seorang penceramah yang memang memiliki pengikut, tetapi tidak mampu mengendalikan para pengikutnya. Kasus pribadi tentang kunjungannya ke Singapura seolah menjadi kasus umum yang bahkan dianggap kasus seluruh umat Islam di Indonesia.

Dari segala narasi yang diungkapkan oleh UAS dan tentu pendukungnya seolah membenarkan sikap Singapura untuk tidak memberikan panggung dan kesempatan bagi UAS yang dianggap memiliki paham ekstremis dan segregasionis. Pemahaman ini bagi negara Singapura dianggap sebagai ancaman bahkan terbaru mereka mengatakan adanya pemuda 17 Tahun menjadi radikal karena mendengarkan ceramah UAS.

Pelajaran bagi Penceramah

Pelajaran penting mestinya harus diambil dari kasus ini baik bagi pemerintah dan para penceramah. Pemerintah sejatinya sejak dini dapat membina para penceramah untuk tidak

merendahkan komunitas agama lain atau dapat menimbulkan segregasi dan intoleransi di tengah masyarakat majemuk. Kementerian Agama dan Ormas Islam harus mempunyai pedoman yang bisa dijadikan pegangan bagi para penceramah di ruang publik agar tidak menimbulkan pembelahan masyarakat berdasarkan agama.

Jika Singapura menjaga nilai kemajemukan itu, tentunya, Indonesia sebagai negara yang lebih beragam aspek ras, Bahasa, etnik, suku, agama dan keyakinan harus menjaga nilai toleransi dan kebhinekaan melalui berbagai saluran. Khutbah keagamaan mestinya justru menjadi sarana dan instrument dalam menjaga harmoni bukan alat pemecah belah. Penceramah mestinya menjadi corong untuk meningkatkan kerukunan.

Pemerintah memang seharusnya tidak memberikan panggung dan berlaku tegas terhadap penceramah yang berpotensi menimbulkan perpecahan di negara majemuk. Mimbar agama bukan sebagai dalih kebebasan untuk menyampaikan ceramah yang mendiskreditkan agama lain. Keimanan juga tidak boleh dibangun dengan cara merendahkan keimanan orang lain.

Dalam surat Al-Anam 108 jelas digambarkan perintah Allah kepada Nabi Muhammad dan kepada para sahabat untuk tidak menghina dan memaki-maki Tuhan umat lain. Allah menjadikan setiap umat menganggap kebaikan atas apa yang mereka lakukan. Jika memancing untuk melakukan makian dan hinaan, mereka akan membalas dengan balasan yang melampaui batas. Ketika pembalasan terjadi harmoni akan rusak.

Itulah pesan penting bagi para penceramah agar mementingkan harmoni dalam membangun keimanan. Tidak mungkin keimanan dibangun dengan merendahkan orang lain. Islam justru mengajarkan tanda orang beriman itu adalah yang baik budi pekertinya terhadap tamu, tetangga dan lingkungannya. Bagaimana mungkin keimanan justru dibangun dengan merendahkan agama lain?

Facebook Comments