Hotel Mumbai: Teroris dan Provokasi Kebencian

Hotel Mumbai: Teroris dan Provokasi Kebencian

- in Suara Kita
462
1
Hotel Mumbai: Teroris dan Provokasi Kebencian

“Kalian muslim, orang kafir menipu kalian. Mereka membuat kalian melarat. Mereka membuat kalian tertinggal, sementara mereka maju. Pergilah dan berjihadlah!” ucap Bull, salah satu dalang terorisme di Mumbai (2008) yang diangkat dalam film Hotel Mumbai (2019). Diangkat dari kisah nyata 12 teroris yang menyerang di kota Mumbai, film ini patut kita pelajari bagaimana provokasi kebencian oleh dalang teroris untuk menggerakkan orang agar melakukan penyerangan. Provokasi kebencian yang ditampilkan dalam film tersebut seringkali juga tersebar di media sosial kita saat ini. Kebencian terhadap ras, suku dan agama dapat memicu konflik di masyarakat.

Atas nama agama dan dengan dalih berjihad, bisa dengan mudah menggerakkan orang untuk membenci dan melakukan kekerasan. Akal sehat tidak lagi digunakan ketika dominasi doktrin kebencian yang selalu diutarakan. Doktrin tersebut tertancap di alam bawah sadar ketika janji-janji manis tentang surga, bidadari selalu dijadikan pijakan untuk memicu provokasi kebencian terhadap orang lain, di luar kelompoknya.

“Abdullah, sekarang waktunya. Dari Mumbai ke Washington, biarkan jeritan mereka terdengar, seperti kita mendengar jeritan saudara muslim kita,” kata Bull. “Allah Akbar, saudaraku,” sahut Abdullah, sembari melaksanakan perintah Bull untuk membakar tiap sudut hotel, salah satu target serangan para teroris tersebut. Menyaksikan adegan penyerangan, dan provokasi Bull kepada para 10 teroris agar tanpa menyerah untuk melakukan misinya dengan membunuh sebanyak-banyaknya orang di hotel tersebut.

Walaupun mengatasnamakan Islam dan memperjuangkan umat muslim, seringkali para teroris tidak pandang bulu melakukan kekerasan kepada siapapun, termasuk umat muslim sendiri. Kejadian terorisme seperti itu sering terjadi di berbagai negara. Pun dengan di Indonesia, dengan dalih berjuang di jalan Allah, mereka juga seringkali melukai para aparat negara dan masyarakat umum yang sedang melakukan aktivitas. Sepertihalnya kasus penyerangan di pos penjagaan mudik polisi saat menjelang lebaran Idul Fitri 2019 kemarin, ia berusaha melukai orang-orang yang tidak berdosa, sekalipun itu orang Islam.

Narasi kebencian semacam itu juga ditampilkan dalam film tersebut. Ketika pasukan penyelamat sudah mulai berdatangan, Bull, dalang terorisme di Mumbai menyuruh Imran untuk menembaki sandera dan salah satunya adalah muslim. “Sudah dibunuh semua?” tanya Bull. “Belum, salah satunya muslim,” jawab Imran. “Tidak apa-apa meski muslim, habisi dia, fokus pada misimu, habisi dia!” perintah Bull. “Dia sedang berdoa,” jawab Imran sembari menatap sandera wanita yang sedang mengucapkan kalimat syahadat dan kalimat toyyibah.  “Tembak Imran, tembak dia. Insya Allah ini amal baik juga. Tembak dia!” ucap Bull.

Baca juga : Mewujudkan Smart Digital Natives dengan Literasi Media

Perintah Bull tidak diindahkan oleh Imran. Walaupun beberapa kali provokasi kebencian dari Bull telah menggerakkan para teroris, namun kali ini Imran tidak mengindahkan karena mendapati orang yang hendak ditembak sedang berdoa dengan cara Islam. Dialektika antara provokasi kebencian yang dibalut dengan agama dan akal sehat memang sulit terjadi. Kecuali provokasi kebencian yang dibalut dengan agama bertemu dengan kebenaran dalam agama itu sendiri. Artinya, orang akan mengalami gejolak ketika ia menyadari bahwa provokasi kebencian tersebut bertolakbelakang dengan kebenaran agama yang hakiki, misalnya ajaran untuk melarang membunuh kepada sesama muslim, pun dengan orang lain. Namun, dialektika ini jarang sekali terjadi. Orang lebih dominan mengikuti dan memercayai doktrin dan provokasi kebencian dibandingkan kebenaran-kebenaran lain yang ditawarkan oleh orang lain.

Otoritas agama yang seharusnya menjadi panduan bagi umat manusia agar menjadi lebih baik dan menghargai sesama, apabila didapatkan kepada orang yang tidak tepat maka akan mudah disalahgunakan. Otoritas agama dan tokoh yang dianggap sakral dalam mencari satu-satunya sumber ilmu sering dijadikan kepatuhan yang mutlak. Kalau mendapatkan guru yang mengajari kearifan dan kebijaksanaan dalam kehidupan, maka orang tersebut akan diarahkan pada kebijaksanaan dalam beragama dan bersosial. Begitu juga sebaliknya, apabila mendapatkan guru yang mengajarkan kebencian dan menyalahgunakan agama untuk dijadikan senjata menyerang lawan, maka orang tersebut akan dijadikan alat untuk memenuhi hasrat kekuasaan dan kebutuhannya.

Salah satu kepatuhan teoris tersebut terhadap Bull, tokoh yang dianggap membimbing mereka di jalan Allah Swt., digambarkan kepada tokoh Hossam. Imran saat kakinya terkena peluru, ia bertanya kepada Hossam, “Kau percaya Bull akan beri uang ke keluarga kita?”. “Imran, kita mengabdi di jalan Allah, yang lain tidak penting,” ujar Hossam. Selain Hossam, tokoh yang dalam istilahnya taqlid buta kepada dalang teroris adalah ayah Imran sendiri. Ketika Imran menanyakan soal uang tersebut, ayahnya pun menjawab, “Belum dikirim, nak. Tenang, mereka orang mulia di hadapan Allah, orang-orang baik”. “Ayah, pastikan uangnya dikirim. Mereka bersumpah di atas Al-Qur’an,” sahut Imran.

 Dalam beragama, kita harus berpikir jernih bagaimana hakikat agama. Jangan hanya semata-mata atas nama agama, kita terprovokasi untuk membenci sesama muslim, sesama manusia hanya demi kepentingan tertentu. Kita saat ini telah menyaksikan sendiri, bagaimana agama dijadikan pelumas untuk kepentingan kekuasaan. Apabila kita membiarkan hal demikian terus-menerus kita biarkan, agama akan mengalami kedangkalan, tidak lagi menjadi panduan hidup untuk menuju kearifan dan kebermanfaatan hidup.

Facebook Comments