Hujjah Toleransi adalah Ajaran Islam

Hujjah Toleransi adalah Ajaran Islam

- in Suara Kita
652
3
Hujjah Toleransi adalah Ajaran Islam

Ditulis oleh Abdul Aziz al Tuwaijiri dalam salah satu kitabnya, Wasathiyatul Islam wa Samahatuhu,  secara bahasa tasamuh (toleransi) berasal dari kata samaha yang bermakna kerelaan hati, penghormatan, kemudahan dan lemah lembut. Dalam fikih, kata ini bermakna menjual barang dengan harga di bawah standar. Lemah lembut merupakan sifat yang mampu menahan seseorang untuk melakukan sesuatu di luar kemampuannya, atau memaksakan diri. Sikap ini merupakan perilaku terpuji yang terkandung dalam syariat Islam dan salah satu sifat orang beriman.

Makna toleransi dalam Islam atau syariat yang toleran adalah kemudahan dalam hukum-hukum dan kewajiban yang diperintahkan oleh syariat Islam serta memperhatikan hal-hal yang sifatnya fitrah atau alamiah, dan tidak membebani manusia di luar batas kemampuannya.

Spirit ajaran ini terkandung dalam al Qur’an (al Baqarah: 233 dan 286, al A’raf: 42). Dari sini bisa dipahami bahwa toleransi bukan hanya terkandung, tetapi adalah prinsip dasar ajaran Islam dan termuat dalam hukum-hukumnya yang memiliki orientasi memudahkan dan kelembutan. Prinsip ini yang kemudian melahirkan konsep moderasi dan keadilan. Suatu sikap keagamaan yang moderat dan berkeadilan. Prinsip dasar ini pula yang menempatkan ajaran Islam selalu sesuai dengan tata atur kehidupan manusia pada setiap kondisi dan situasi apapun. Islam adalah agama yang mengasihi semua manusia. Dalam kasih sayang itulah ada hidayah yang menghantar pada kebaikan, perdamaian, dan kekuatan yang tak terkalahkan.

Sebaliknya, agama Islam melarang melakukan sesuatu yang dapat merusak fitrah manusia, menyakiti badan dan perasaan. Islam menghendaki terwujudnya ketenangan hati, akal dan jiwa. Dan, intinya, Islam menghantar manusia meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Rahmat Islam kepada manusia, dari sisi ia sebagai manusia, tidak lain adalah ajarannya yang moderat, toleran,  adil dan menghormati semua manusia. Ia menekankan pentingnya prinsip persaudaraan sesama manusia, mengingatkan manusia bahwa mereka semua berasal dari sumber ciptaan yang sama (al Baqarah: 143).

Dari penjelasan Abdul Aziz al Tuwaijiri di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa intoleransi sebagai kebalikan dari toleransi adalah ketidakmampuan seseorang menahan diri untuk tidak suka kepada orang lain, tidak menerima perbedaan dan menunggalkan suatu paham, mencampuri atau menentang sikap dan keyakinan orang lain, dan dengan sengaja mengganggu orang lain, mengusik ketenangannya, mengintimidasi dan melakukan teror.

Dengan demikian, intoleransi bukan ajaran Islam. Ia bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam seperti telah dijelaskan oleh Abdul Aziz al Tuwaijiri tersebut. Perbedaan harus disikapi secara wajar sebagai sesuatu yang alamiah dan tak bisa ditolak. Kalau kita tidak setuju dengan agama orang lain, dengan tafsir lain, cukup membiarkan serta menahan diri tidak melakukan tindakan yang menggangu, mengancam dan mengintimidasi, apalagi melakukan teror dan kekejaman.

Yang ditekankan dalam ajaran Islam adalah akidah yang kuat, bukan merusak tatanan kehidupan gara-gara ada akidah yang lain. Ia mengajarkan akhlak sempurna supaya umatnya menjadi contoh bagi mereka yang beda agama. Relasi antar agama ini disebut persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariah). Dalam konteks ini, menyakiti dan mendzalimi orang lain meskipun berbeda agama tetap diganjar dengan dosa yang harus dipertanggungjawabkan.

Banyak kaum elite agama yang tidak memahami hal ini. Mereka yang seharusnya memberikan pemahaman keagamaan yang toleran dan inklusif, justru menanam saham kesalahan dengan menyemaikan bibit-bibit Intoleransi. Menanamkan kebencian dan permusuhan. Menyiram bibit intoleransi dan radikalisme dengan doktrin-doktrin keagamaan yang disampaikan secara serampangan. Mereka menjadi kebalikan Nabi yang meneladankan dakwah dengan santun, bijaksana, damai dan menentramkan.

Facebook Comments