Ibu Kota Nusantara: Sejarah dan Kebudayaan untuk Kejayaan Indonesia

Ibu Kota Nusantara: Sejarah dan Kebudayaan untuk Kejayaan Indonesia

- in Suara Kita
169
0

Indonesia terbentang dari Sabang sampai Merauke. Tanahnya luas berupa lautan dan daratan yang menyimpan kekayaan begitu besar. Tapi pernahkah kita berpikir teretori yang luas ini warisan dari siapa? Apakah pemberian orang luar atau karena kemurahan hati kolonialisme?

Tidak, tanah Indonesia adalah warisan leluhur kita karena jerih payah dan pengorbanan mereka. Bahkan dulu, sewaktu negeri ini bernama Nusantara tanahnya lebih luas dari sekarang. Benar, Indonesia yang kita diami saat ini lahir dari rahim Nusantara, bukan warisan dari bangsa lain. Pada masa dulu tidak gampang mempertahankan daerah yang luas kalau tidak didukung oleh kekuatan luar biasa.

Nusantara adalah bangunan besar yang ditopang oleh tiang suku bangsa; Melayu, Jawa, Madura, Bugis, Batak,  Sunda, Minahasa, Dayak dan lainnya. Tiang-tiang itu kuat karena satu dengan yang lainnya saling menopang. Bangunan besar Nusantara telah berdiri sejak berabad-abad dulu, yaitu ketika pertemuan antar suku bangsa terjalin oleh kebudayaan maritim.

Nenek moyang kita mampu merawat tiang-tiang penopang tersebut secara baik. Sriwijaya dan Majapahit menjadi lambang kekuatan dan kejayaan Nusantara. Memang hebat, keragaman agama, budaya, suku, etnis dan ras bisa dibentuk menjadi satu ikatan kuat. Tujuannya hanya satu, untuk kekuatan dan kejayaan Nusantara.

Dengan apa mempersatukan rakyat Nusantara kala itu? Dengan mantra sakti sumpah “Amukti Palapa” yang kemudian diterjemahkan oleh Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma dengan “Bhinneka Tunggal Ika” yang digenggam burung Garuda tunggangan Dewa Wishnu dalam mitologi agama Hindu. Inilah yang membentuk Nusantara menjadi negara dengan peradaban yang  memiliki kebijakannya sendiri. Dengan kata lain, “Harkat dan martabat bangsa ini sedari awal sudahlah tinggi”.

Pada era awal kemerdekaan kemudian diterjemahkan lebih kongkrit lagi menjadi Pancasila yang kemudian ditetapkan sebagai ideologi bangsa. Walaupun sebenarnya nilai-nilai Pancasila telah diejawantahkan oleh masyarakat Nusantara. Prasasti Yupa pada abad ke-5 sebagai bukti bahwa nilai-nilai Pancasila telah lahir dan mengisi setiap ruang kehidupan masyarakat Nusantara.

Pelajarannya bagi kita, nenek moyang kita menentukan sendiri masa depan bangsanya. Merancang dengan baik masa depan bangsa ini sehingga mampu mewariskan Indonesia yang sekarang dengan wilayahnya yang luas dan kekayaan alam yang melimpah.

Lalu, kenapa akhir-akhir ini rakyat Indonesia sendiri yang berusaha mencabut nilai-nilai yang merekatkan persatuan dan kesatuan. Pancasila dituduh bertentangan dengan ajaran agama dan perbedaan dianggap sebagai ancaman.

Generasi bangsa ini sedang mabuk oleh minuman asing, entah itu doktrin agama atau usaha politis yang melakukan upaya secara massif untuk melemahkan bangsa Indonesia. Anak bangsa dirayu-rayu dengan kata-kata yang mendayu-dayu supaya melepaskan baju identitas kebangsaannya. Supaya melupakan sejarah bangsanya. Tujuan mereka tidak lain supaya kejayaan Nusantara tidak terulang lagi dan Indonesia sebagai anak yang lahir dari rahim Nusantara mati begitu saja atau paling tidak menjadi anak dungu yang mudah dikuasai.

Karenanya, marilah kita renungkan filosofi dan sejarah Nusantara. Mari kita tegakkan lagi tiang-tiang kebudayaan leluhur kita yang sangat sangat menghargai perbedaan, memiliki sikap kegotongroyongan yang kuat, santun, kasih sayang dan penuh persaudaraan. Ini modal utama untuk membangun Indonesia lebih jaya seperti dulu ketika bernama Nusantara.

Facebook Comments