Ideologisasi Agama : Belajar dari Sejarah NII, HTI, Hingga FPI

Ideologisasi Agama : Belajar dari Sejarah NII, HTI, Hingga FPI

- in Suara Kita
1587
0
Ideologisasi Agama : Belajar dari Sejarah NII, HTI, Hingga FPI

Saya tergelitik dengan salah satu penegasan dari Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol Ahmad Nurwahid yang mengatakan : tidak ada kejahatan yang paling benci selain kejahatan mengatasnamakan agama. Penegasan ini seakan memberikan warning bahwa kerapkali agama sering digunakan sebagai alat melakukan tindak kejahatan. Agama menjadi topeng pembenaran sehingga mendorong seseorang merasa benar dengan tindakannya.

Salah satu hal yang kerap terjadi dalam setiap proses menjadikan agama sebagai topeng adalah proses ideologisasi agama. Indonesia sudah merasakan pengalaman itu. Bahkan setelah kemerdekaan direnggut dari tangan penjajah, Indonesia kembali diuji dengan banyaknya pemberontakan yang terjadi di awal kemerdekaan dengan semangat ideologisasi agama.

Salah satu pemberontakan yang terjadi adalah gerakan Negara Islam Indonesia (NII), mereka membentuk sebuah negara dalam negara. Gerakan ini mengimpikan negara dengan penerapan al-Quran dan Hadist sebagai pedomannya. Dalam gerakannya, NII membentuk Tentara Islam Indonesia (TII) sebagai milisi siap tempur.

Gerakan yang diprakarsai oleh seorang tokoh pergerakan kemerdekaan bernama Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo lahir pada 7 Agustus 1949 di Tasikmalaya, Jawa Barat yang sebelumnya membentuk Darul Islam (DI) yang dimaksudkan sebagai rumah bagi umat Islam. Gerakan ini sejak awal memang tidak puas dan sepakat dengan ideologi bangsa yang memilih Pancasila sebagai dasar negara.  Bagi mereka, Indonesia harus negara Islam berdasarkan pedoman agama.

Perselisihan ideologis hingga gencatan senjata antara Indonesia dengan NII tak terelakkan. Nyawa melayang dan korban berjatuhan. Bukan hanya di kawasan Jawa Batar saja, aksi DI menyebar luas ke seluruh Indonesia dan melakukan berbagai pemberontakan dan kerusuhan. Melihat keadaan yang semakin runyam, Presiden Soekarno menjatuhkan perintah kepada TNI untuk melumpuhkan gerakan makar ini. Pada usia 57 tahun Kartosuwiryo dieksekusi AD. Gerakan NII telah dilumpukan, tetapi ideologi, pendukung dan gerakan penerusnya terus berjalan.

Kini di era reformasi, jelas ideologi dan pendukung NII tidak mati. Bukti gerakan mereka mulai terasa dan terendus. Namun, selain NII, gerakan serupa dengan ideologisasi agam muncul di permukaan. Kehadiran ormas yang searah dengan NII untuk mengubah dasar negara merupakan ancaman laten yang harus terus diwaspadai. Munculnya ormas seperti itu bisa jadi berasal dari dalam negeri atau akibat pengaruh dari luar negeri.

Salah satu contoh yang kentara adalah kemunculan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang berani menampakkan diri pada masa reformasi. Kehadiran HTI sebelum dibubarkan adalah bukti baru ideologi transnasional yang memiliki ideologi yang sama untuk mendirikan negara agama. Sebagai NII, HTI yang diinspirasi gerakan transnasional ingin merubah dasar negara.

Selain HTI, FPI merupaka organisasi lokal yang pada mulanya hanya ingin melakukan geraka nahi munkar. Namun, gerakan ini membesar dan menemukan ruang nyaman di tengah reformasi. Gerakan ini mulai berani menunjukkan eksistensinya dengan cita ideal menerapan syariat Islam di Indonesia. Walaupun berulangkali bertaqiyah menerima Pancasila, FPI dalam anggaran dasarnya memiliki visi dan misi penerapan syariat Islam secara kaffah melalui pelaksanaan dakwah yakni perintah untuk melakukan kebaikan dan melarang keburukan.

Baik HTI dan FPI sebelum dibubarkan juga mempunyai mimpi yang sama tentang negara Islam. Bedanya, HTI menempuh jalur pemikiran dan partai. FPI menempuh gerakan vandalism yang kerap membuat keonaran di ruang publik terhadap yang berbeda pandangan. Tentu dua gerakan ini berbeda dengan NII yang mempunyai kilas perjuangan merebut kemerdekaan, HTI dan FPI merupakan penumpang gelap demokrasi yang lahir di era kekinian tanpa melihat sejarah. Meskipun demikian, ketiganya merupakan gerakan ideologisasi agama yang sangat berbahaya.  

Satu hal bahwa kelompok radikal ini memiliki ciri utama yakni menggunakan kekerasan dalam agenda perjuangannya. NII telah terbukti melalui gerakan kekerasan pada masa lalu. FPI kerap membuat gerakan kekerasan di ruang publik dan intimidasi pada masanya. HTI di berbagai negara menjadi ancaman karena telah melakukan serangkain kudeta.

Sejatinya, kelompok radikal yang memiliki cita-cita mendirikan negara Islam sulit bersatu karena mereka memegang teguh keyakinannya sendiri, tanpa melihat kepentingan dan keyakinan orang lain. Namun, jika gerakan ini bersatu dalam momentum kekacauan sosial akan menjadi soal. Walaupun pada akhirnya friksi di antara mereka setelah merebut kekuasaan akan kambuh lagi.

Karena itulah, ideologisasi agama sejatinya hanya memperalat agama untuk kekuasaan. Agama Islam sebenarnya memiliki semangat moral dan norma dalam membangun negara. Namun, semangat itu dalam rangka Islam menjadi “Rahmatan Lil Alamin”. Azas ini akan mampu membangun umat Islam yang kuat, dan mampu memberikan kontribusi untuk peradaban negara yang maju dan sejahtera.

Seperti halnya NU dan Muhammadiyah. Kedua organisasi ini lebih memilih untuk membangun masyarakat Islam yang baik dan bermanfaat untuk sesamanya, dibandingkan dengan membentuk negara Islam, di dalam negara Indonesia. NU dan Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang realistis, yang mau melangkah bersama pemerintah untuk memperkuat Negara demi terwujudnya persatuan. Persatuan lebih diutamakan dari pada formalisme agama yang mendorong perpecahan.

Facebook Comments