Idul Adha dan Toleransi Ala Sunan Kudus

Idul Adha dan Toleransi Ala Sunan Kudus

- in Suara Kita
175
1
Idul Adha dan Toleransi Ala Sunan Kudus

Idul Adha adalah salah satu hari besar umat Islam, yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah. Kaum muslim yang mampu, disunnahkan untuk melaksanakan ibadah kurban yaitu menyembelih sesembelihan yang diniatkan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Sesembelihan tersebut berupa kambing, domba, unta, sapi atau kerbau yang telah memenuhi persyaratan untuk dijadikan hewan kurban.

Hari raya Idul Adha  juga sarana belajar bagi umat Islam di dunia, bahwa tujuan hidup di dunia adalah untuk mencari ridha Allah swt. Oleh karena itulah, penyembelihan hewan kurban tidak hanya bermakna simbolis saja, tetapi juga mempunyai makna substansial yang begitu penting bagi manusia yaitu menyembelih sifat kebinatangan yang terdapat dalam diri manusia.

Musim kurban tentu sangat menyenangkan bagi umat muslim, karena bisa berbagi daging terhadap mereka yang jarang atau tidak pernah merasakan daging, sebuah ibadah yang menekankan tentang kepekaan social di tengah masyarakat Islam.

Maraknya kasus intoleransi agama yang terjadi di Indonesia, yang dilatar belakangi oleh berbagai hal. Maka pada saat hari raya Idul Adha, sudah seharusnya kembali merenungkan nilai-nilai luhur Islam. Salah satunya adalah menjunjung tinggi toleransi, sebagaimana yang dicontohkan oleh salah satu  waliyullah yang ada di Indonesia yaitu Sunan Kudus.

Sunan Kudus adalah satu dari sembilan wali yang berdakwah di Nusantara untuk menyebarkan Islam. Tepatnya, Sunan Kudus berdakwah di daerah lereng Gunung Muria, yaitu di daerah Kudus yang terletak di provinsi Jawa Tengah. Dalam berdakwah, beliau sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Hal tersebut bisa kita lihat pada masjid yang dibangun oleh beliau, dimana masjid tersebut terdapat akulturasi budaya di luar agama Islam.

Selain itu, ajaran lain yang ditanamkan oleh Sunan Kudus kepada masyarakat Kudus sebagai bentuk toleransi adalah menghormati kepercayaan masyarakat setempat. Sebagaimana kita ketahui, Islam adalah agama yang menghormati budaya, oleh karena itulah para ulama-ulama zaman dahulu tidak memaksakan untuk mengislamkan budaya dan kepercayaan masyarakat yang didakwahi.

Baca Juga : Kurban dan Etos Redistribusi Kekayaan

Masyarakat Kudus dulunya merupakan masyarakat yang mayoritas menganut agama Hindu dan hewan sapi merupakan hewan yang dianggap suci bagi masyarakat penganut agama Hindu. Bagi masyarakat Muslim, menyembelih sapi tentu wajar-wajar saja. Akan tetapi, Sunan Kudus sangat menghargai umat Hindu yang menghormati hewan sapi. Demi menjaga perasaan orang Hindu, maka umat Islam di Kudus diminta tidak menyembelih sapi oleh Sunan Kudus pada waktu itu, tetapi diminta untuk menyembelih kerbau. Hal tersebut dilakukan oleh sunan kudus sebagai bentuk toleransi dan menghormati kepercayaan agama lain, yang tentu mempunyai ajaran yang berbeda dengan ajaran Islam.

Islam tidak mengharamkan menyembelih sapi, sehingga tidak mungkin Sunan Kudus melarang menyembelih sapi. Hanya saja , karena dulu banyak non muslim yaitu orag Hindu yang menganggap sapi suci, maka Sunan Kudus menghimbau masyarakat, khususnya yang sudah memeluk Islam tidak menyembelihnya untuk menjaga perasaan masyarakat yang menganggap sapi sebagai hewan suci.

Oleh karena itulah, Sunan Kudus menganjurkan kepada masyarakat yang didakwahi untuk mengganti sapi dengan kerbau ketika ingin sedang berkurban. Karena keduanya juga termasuk dalam hewan-hewan sesembelihan untuk berkurban yang disebut dalam Al-Qur’an.

Dengan himbauan tersebut, Sunan Kudus telah meletakkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan masyarakat Islam di Kudus. Pesan toleransi yang luar biasa, yang sudah semestinya dilestarikan oleh masyarakat di masa masa kemudian.

Pilihan masyarakat Kudus untuk tidak menyembelih sapi pada hari raya Idul Adha merupakan salah satu manifestasi toleransi yang diajarkan oleh Sunan Kudus yang diajarkan pada masanya. Sebagai bentuk penghormatan kepada Non Muslim atau Hindu yang mengaggap sapi hewan yang suci.

Pada Idul Adha di zaman Sunan Kudus, sapi-sapi hanya ditaruh di sekitar Masjid Menara Kudus dan tidak ada yang disembelih. Sebagai gantinya, hanya kerbau dan kambing yang dijadikan hewan kurban. Dengan hal tersebut, warga Hindu merasa tidak terhina dan tetap dihargai kepercayaannya.

Sebagai seorang muslim, seharusnya kita meneladani ajaran-ajaran yang diajarkan oleh para ulama-ulama besar yang mendakwahkan Islam, mulai dari Nabi Muhammad saw sampai para ulama-ulama yang menjadi pewaris Nabi saw. Semangat toleransi yang dikembangkan oleh Sunan Kudus, seharusnya menjadi contoh bagi sebagian kalangan yang sukanya bersikap keras atas nama agama dan meminggirkan nilai-nilai kemanusiaan yang ada.

Idul adha adalah salah satu momentum untuk menyembelih hawa nafsu hewaniah yang ada dalam diri manusia, sebagaimana Nabi Ibrahim as yang merelakan putranya untuk disembelih karena perintah Allah swt. Salah satu nafsu hewaniah dalam diri manusia adalah berfikir pendek dalam beragama, yang mengakibatkan aksi-aksi intoleransi terjadi.

Oleh karena itulah, di momen Idul Adha ini kita kembali merenungkan nilai-nilai luhur yang ada dalam Islam salah satunya adalah bertoleransi. Sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw dan kemudian dipraktekkkan oleh Sunan Kudus dalam kultur masyarakat Nusantara.

Facebook Comments