Idul Adha : Jalan Tazkiyatun Nafsi Menuju Perdamaian Negri

Idul Adha : Jalan Tazkiyatun Nafsi Menuju Perdamaian Negri

- in Suara Kita
186
1
Idul Adha : Jalan Tazkiyatun Nafsi Menuju Perdamaian Negri

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwaku ketakwaan, dan sucikanlah jiwaku (dengan ketakwaan itu), Engkau-lah Sebaik-baik Yang Mensucikannya, (dan) Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya” (HR. Muslim)

Doa di atas adalah permohonan Rasulullah Saw atas dirinya agar diberi jiwa yang takwa. Beliau juga memohon agar jiwanya disucikan (tazkiyatun nafs) dengan ketakwaan tersebut. Dari doa ini, dapat diambil makna bahwa ketakwaan kepada Allah yang sebenarnya tidak akan mungkin dicapai kecuali dengan berusaha menyucikan dan membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran yang menghalangi seorang hamba untuk dekat kepada Allah.

Lantas apa hubungan doa tersebut dengan momen Idul Adha? Bahwa momen Idul Adha adalah salah satu jalan untuk meraih ketakwaan. Jalan tersebut ditempuh dengan melakukan pensucian jiwa (tazkiyatun nafsi).

Tahapan-tahapan pensucian jiwa di dalam momen Idul Adha bisa ditemukan dalam berbagai bentuk. Pertama, melalui penyaluran hewan kurban. Dengan mengeluarkan harta untuk membeli hewan kurban, seseorang sebenarnya sedang dilatih agar jiwanya tidak gandrung dengan harta dan gemerlap duniawi. Semua yang ia miliki sejatinya adalah hak Tuhan yang suatu saat akan kembali kepada-Nya. Karenanya, manusia tidak boleh merasa congkak dan sombong, sebab apa yang ada padanya hanyalah amanah semata.

Dengan penyaluran daging kurban pula, akan mampu menumbuhkan jiwa sosial, dimana seseorang mampu merasakan nasib orang lain. Bahwa di luar sana masih banyak orang yang hidup dalam kekurangan dan keterbatasan. Mereka butuh uluran tangan kita. Dari sini muncul pula rasa kasih sayang dan empati kepada pihak lain. Kondisi ini menimbulkan sikap saling menghargai, saling menghormati, yang berujung pada rasa cinta akan harmoni kehidupan. Bukan rasa untuk saling menguasai, saling mengusik, lebih-lebih rasa untuk saling terlibat dalam kekerasan. Bahkan yang lebih parah adalah rasa untuk bertindak anarkis atau radikal.

Baca Juga : Kurban untuk Menghargai Nyawa Manusia

Kedua, melalui pemaknaan kurban. Bahwa hakikat berkurban bukan semata menyembelih hewan, tetapi menyembelih nafsu keburukan di dalam jiwa. Penyakit-penyakit jiwa seperti rakus, pelit, egois, dan lainnya, harus ikut “disembelih” dan mengalir keluar bersamaan dengan darah hewan kurban.

Ini artinya, kurban sebagai ibadah yang bersifat rabbaniyah (ketuhanan), berkaitan erat dengan dengan sifat insaniyyah (kemanusiaan), sebagaimana dijelaskan Prof. Dr. M Arrafie Abduh (2017). Karena itu, selepas berkurban diharapkan manusia bisa mengendalikan jiwanya sehingga muncul karakter positif, bukan karakter kebinatangan. Karakter positif ini nampak dalam keluasan jiwa dan besarnya rasa kasih sayang. Sedangkan karakter kebinatangan nampak dalam aksi-aksi destruktif, sebagaimana aksi-aksi radikal yang meresahkan.

Menuju Perdamaian Negri

Di atas telah dijelaskan bahwa momen Idul Adha adalah salah satu upaya untuk pensucian jiwa (tazkiyatun nafsi). Dalam konteks kebangsaan, tentu kita berharap agar tazkiyatun nafsi ini menghasilkan progres yang besar, terutama untuk kedamaian negri. Karena itu, dengan berbekal spirit Idul Adha, diharapkan segenap anak bangsa bisa melakukan tazkiyatun nafsi dengan menempuh beberapa cara.

Pertama, membersihkan jiwa dari anasir sifat-sifat negatif. Kedengkian, egoisme, keangkuhan, adalah diantara sekian sifat buruk yang harus dijauhkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Sifat-sifat tersebut hanya akan melahirkan kegaduhan dalam bermasyarakat yang bisa berujung chaos sesama anak bangsa. Dalam hal ini, Nabi Saw pun berpesan, “Jagalah dirimu dari hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad merusak kebaikan, sebagaimana api yang memakan kayu bakar” (HR. Abu Daud). Pesan Nabi Saw ini sangat jelas, yakni agar kita menghindari sifat dengki yang merupakan salah satu penyakit hati. Tentu pesan yang tersirat bukan hanya menghindari sifat dengki semata, tetapi segala sifat buruk yang mengotori hati harus dijauhi.

Dengan upaya pembersihan ini, diharapkan karakter yang lahir dari pribadi-pribadi bangsa, adalah karakter yang sehat. Ciri karakter sehat terlihat dalam kehidupan sehari-hari, apakah ia mampu menebar kasih sayang, mengapresiasi pihak lain, dan menghormati hak-hak orang lain.

Kedua, menghiasi jiwa yang telah bersih dari sifat keburukan dengan sifat-sifat yang positif. Sudah saatnya bagi segenap anak bangsa agar senantiasa menghias jiwanya dengan rasa empati, rasa cinta, dan spirit perdamaian. Hal ini dibutuhkan agar perjalanan bangsa selalu berada dalam rel persatuan dan kesatuan, bukan terpelesat dalam rel perpecahan.

Semoga saja melalui momen Idul Adha ini, kita benar-benar mampu membersihkan jiwa dan “menyembelih” segala sikap keburukan demi kenyaman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Facebook Comments