Idul Adha: Mengakhiri Egoisme, Menebarkan Damai dan Kasih Sayang

Idul Adha: Mengakhiri Egoisme, Menebarkan Damai dan Kasih Sayang

- in Suara Kita
200
0
Idul Adha: Mengakhiri Egoisme, Menebarkan Damai dan Kasih Sayang

Idul adha adalah momentum umat Islam untuk berbagi kepada sesama. Idul Adha secara ritual merupakan kilas balik sejarah umat manusia untuk saling peduli dan berbagi dalam rangka menemukan hakekat diri menggapai ridho Allah SWT.

Idul Adha juga ritual kolosal yang tercermin dalam ibadah haji, jejak warisan Nabi Ibrahim menemukan tauhidnya. Makanya, haji menjadi momentum global dalam menguatkan kembali peradaban dunia di tengah maraknya gejolak radikalisme dan terorisme global.

Haji menjadi hari raya “besar”, karena ritualnya menjadi pertemuan besar umat Islam di Tanah Suci. Penyembelihan juga dilakukan di berbagai belahan dunia, wujud gerakan global untuk berbagai kebahagiaan, kasih sayang dan kedamaian kepada seluruh umat manusia. Prosesi haji dan idul adha bukan saja menyembelih binatang, melainkan menyembelih egoisme diri untuk berbagai kepada sesama.

Ujian Berat Ibrahim

Ujian berat dijalani Ibrahim, sehingga ia mendapatkan gelar “Khalilullah” (kekasih Allah). Karena mendapatkan gelar kekasih ini, Malaikat bertanya kepada Allah: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Mu. Padahal ia disibukkan oleh urusan kekayaan dan keluarganya?” Allah berfirman: “Jangan menilai hamba-Ku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hati dan amal baktinya!” Kisah pengorbanan Ibrahim dan Ismail adalah wujud ujian Allah agar malaikat tidak meragukan gelar yang disandang oleh Ibrahim.

Imam Al-Ghazali dalam kitab “Misykatul Anwar” menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner. Ketika suatu hari, Ibrahim ditanya seseorang, “milik siapakah ternak sebanyak ini?” Maka dijawabnya: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga.”

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa apa yang diungkapkan oleh Ibrahim inilah yang akan menguji dirinya. Allah kemudian menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri.

Baca Juga : Agar Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Kisah pengorbanan ini terekam dengan sangat jelas dalam Al-Quran surat As-shaffat ayat 102, ““Tatkala anak itu sudah dewasa, Ibrahim berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, sungguh aku telah bermimpi menyembelih kamu. Karena itu, apa pendapatmu tentang mimpiku itu?” Ismail berkata: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapati aku termasuk orang yang sabar.”

Ibrahim sebenarnya tak kuasa melihat anaknya yang akan disembelihnya sendiri. Tetapi karena itu adalah perintah Allah, maka tekad bulat dalam dirinya menggerakkan dirinya untuk menyembelih anaknya. Ismail sang putra juga sangat ikhlas, bahkan terus meyakinkan ayahnya dalam menjalankan perintah-Nya.

Keteguhan dua manusia yang sangat teguh menjaga keyakinan inilah yang akhirnya diganjar Allah dengan datangnya kambing untuk dikorbankan. Ini terekam sangat jelas dalam Surat Al-Shaffat ayat 107-110, “Kami ganti Ismail dengan seekor domba yang sangat besar. Kami telah jadikan Ibrahim sebagai contoh bagi generasi-generasi sesudahnya. Ucapan ‘salam sejahtera’ bagi Ibrahim. Demikianlah Kami memberi pahala kepada orang-orang yang beramal shalih.”

Momentum Perdamaian

Jejak pengorbanan Ibrahim sejatinya bukanlah sekedar ritual penyembelihan semata. Ibrahim mengajarkan manusia untuk berbagai. Dengan hartanya yang berlimpah, Ibrahim siap mengorbankan apapun yang dimilikinya kepada sesama. Itu semua dilakukan sebagai wujud keteguhan imannya. Harta benda sama sekali tidak membelenggu diri seorang Ibrahim, karena ia hanya terikat dan tergantung kepada Allah semata. Harta benda hanyalah jalan, juga ujian untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Ibrahim juga mengajarkan manusia untuk selalu berbagai. Berbagai kasih sayang adalah syarat utama lahirnya perdamaian. Disinilah saatnya semua elemen umat Islam mengibarkan panji perdamaian dengan melahirkan generasi damai, generasi cinta, yang siap menebarkan kedamaian dan kasih sayang kepada sesama. Gerakan generasi cinta damai inilah adalah napak tilas pengorbanan Ibrahim, yang merelakan apapun yang dimiliki untuk berbagai kasih sayang dan kedamaian kepada sesama. Yang penting manusia teguh keyakinannya, harta dan kekayaan justru menjadi jalan lahirnya kasih sayang dan kedamaian antar sesama.

Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa: “Ilmu akan menjaga kita, sedangkan harta sebaliknya, kitalah yang harus menjaganya. Semakin banyak ilmu seseorang semakin banyak orang yang menyayangi dan menghormatinya. Sedangkan semakin banyak harta, semakin banyak musuh dan orang yang iri kepadanya. Ilmu jika diamalkan akan semakin bertambah, sedangkan harta jika digunakan akan semakin bekurang. Pemilik ilmu akan diberi syafaat (pertolongan) di hari akhir kelak, sedangkan pemilik harta akan dihitung, diusut asal muasal hartanya oleh Allah.”

Pernyataan Imam Ali bin Abi Thalib ini tegas sekali bahwa harta harus digunakan untuk kemaslahatan publik, sehingga harta justru akan menjaga si pemiliknya. Untuk itu, butuh ilmu yang tepat. Ilmu pengorbanan Ibrahim sangat tepat, karena menjadikan harta semakin berkah: menguatkan iman dan membagi kebahagiaan kepada sesama. Ilmu pengorbanan Ibrahim inilah yang menjadikan harta bisa menjaga pemiliknya, sehingga harta juga termasuk tangga menuju surga-Nya yang sejati.

Keseimbangan perputaraan harta dalam berbagi inilah yang menjadi salah satu pintu lahirnya kedamaian. Ini terbukti dengan yang dilakukan Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian dari Banglades, karena usaha kerasnya membangun koperasi warga yang mensejahterahkan masyarakat. Dari sini, M Yunus dengan Gramen Bank-nya mendapatkan nobel perdamaian.

Idul adha menjadi momentum berbagi kasih dan kedamaian yang sejati. Jangan sampai dilewatkan sebatas ritual penyembelihan saja. Berbagi daging kurban adalah awal untuk terus berbagi kasih sayang, kedamaian, dan kebahagiaan.

Facebook Comments