Idul Adha, Teladan Ibrahim, dan Solidaritas Kebangsaan

Idul Adha, Teladan Ibrahim, dan Solidaritas Kebangsaan

- in Suara Kita
261
1
Idul Adha, Teladan Ibrahim, dan Solidaritas Kebangsaan

Idul adha adalah hari raya umat Islam. Dalam terminologi Islam, hari raya ini disebut hari raya paling besar (‘id al-kubra), lebih besar ketimbang idul fitri. Kebesaran idul adha setidaknya disebabkan oleh tiga faktor, yakni ibadah haji, pelaksanaan kurban, dan pembacaan takbir yang lebih panjang.

Ibadah haji sebagai rukun Islam yang kelima yang menyiratkan akan keragaman dan persatuan umat manusia tanpa membedakan ras, suku, jenis kelamin, dan kelas sosial; Kurban sebagai ibadah sosial bagi yang berlebih untuk membantu sesama biar terjadi pemerataan; Takbir selama empat hari (hari tasyri’) sebagai ungkapan syukur akan keagungan Allah, semuanya hanya terdapat pada idul adha.

Haji, kurban, dan hari tasyri’ tidak bisa dipisahkan dari sosok yang bernama Ibarahim. Tanpa Ibrahim ketiga ibadah penting dalam islam itu tak akan pernah ada. Ibarhim adalah seorang nabi yang dermawan, suka membantu sesama tanpa membeda-bedakan siapapun. Sosok yang tegas, sebab ketegasannya ia dibakar lalu diusir dari kampung halamannya. Tauladan yang lembut dan lurus, sebab kecintaan kepada Rab-Nya, Allah menggelarinya dengan khalilulah (kekasih Allah).

Merayakan idul adha sama dengan meneladani sosok Ibrahim. Ada tiga pelajaran yang bisa kita ambil kepada bapak monoteisme ini. Pertama, kepatuhan, pengorbanan dan keikhlasan. Kepatuhan ini diperlihatkan oleh Ibrahim ketika dapat perintah lewat mimpi untuk menyembeli anaknya. Dalam ukuran apapun, menyembeli buah hati kesayangan jiwa adalah di luar tradisi manusia. Hanya orang yang mempunyai keimanan yang tinggi yang bisa memikul tugas ini. Meskipun demikian, Ibarahim beserta anak, Ismail, dan istrinya, Hajar, dengan ikhlas menjalankanya seluruh perintah itu. Pengorbanan besar ini kemudian diabadikan Tuhan dan dijadikan sebagai bagian penting dari syariat Muhammad.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, jiwa pengorbanan itu sesuatu yang mesti ada. Kehancuran suatu negara tidak lepas ketika jiwa pengorbanan tanpa melihat imbalan materi mulai menipis dari relung hati anak bangsa, terutama dari elit pilitiknya. Banyaknya korupsi, penyalahgunaan jabatan, dan politik kotor lainnya tidak lebih ketika pengorbanan itu lepas dari para pejabat kita.

Baca Juga : Idul Adha : Jalan Tazkiyatun Nafsi Menuju Perdamaian Negri

Hal yang sama, banyaknya pelanggaran hukum lalu lintas, tawuran, main hakim sendiri, merusak fasilitas umum, dan sederet tindakan melanggar auturan lainnya yang dilakukan oleh masyarakat disebabkan jiwa kepatuhan dan ketaatan terhadap hukum tidak mendapat tempat lagi. Pengorbanan dari para pelaksana tugas negara serta kepatuhan dari warga merupakan kunci maju tidaknya suatu bangsa.

Para pendahulu kita sudah membuktikan kedua hal ini. Tanpa pamrih hanya bermodalakan semangat yang berapi-api dibarengi kepatuhan para anak bangsa kepada komandanya, kita bisa mengusir penjajah dan memproklamirkan diri kita sebagai bangsa yang merdeka.

Kedua, kepekaan sosial dan solidaritas kemanusiaan. Sosok Ibrahim yang terkenal sebagai nabi dermawan, yang memberikan hartanya untuk membantu orang lain merupakan teladan yang pas dijadikan sebagai panutan dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Kepekaan sosial di masyarakat haruslah jadi tugas bersama. Kaum miskin, anak yatim, dan golongan pra-sejahtera selain menjadi tugas negara untuk mendampinginya, juga menjadi tanggung jawab bersama sebaga sesama manusia. Mewujudkan sila kelima Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonenesia, merupakan tugas semua kalangan sebagai bentuk solidaritas kemanusian.

Ibarahim sudah mencotohkan bahwa tetangganya, masyarakatnya, dan juga kaumnya adalah cerminan dirinya. Apabila mereka bahagia dan bisa menikmati hidup, itu sama dengan membahagiakan diri kita sendiri. Kurban ala Ibrahim ini sudah mempraktekkan, bahwa kaya harta saja tidak cukup, harus dibarengi dengan kaya hati, yang selalu ingin berbagi.

Ketiga, menundukkan nafsu hewani. Melalui kurban, sosok ayah dari dua nabi ini sudah berhasil menyembeli sifat kebinatanganya dari dirinya. Dalam konteks berbangsa dan bernegara, maraknya hoax, ujaran kebencian, fitnah, dan tindakan intoleransi serta radikalisme-terorisme tidak lepas dari sifat kebinatangan yang ada pada diri kita masing-masing.

Sifat kebinatangan kita tidak hanya di dunia pergaulan sehari-hari, bahkan masuk ke dunia maya. Akibatnya media sosial yang sehrusnya mempererat hubungan sosial kita, malah berujung pada caci-maki, pemelintiran, dan tindakan negatif lainnya yang menimbulkan dis-harmoni dan poloriasis masyarakat.

Di tengah kondisi bangsa ini, korupsi marak, perusakan lingkungan semakin manjadi-jadi, pelanggaran hukum, penyalahgunaan jabatan, aksi terorisme, dan sederet permasalahan lainnya, kita sepatutnya bisa menjadikan sosok Ibarahim sebagai tauladan di tengah-tengah kita. Ketika kita lagi krisis sosok teladan sejati; ketika kita tidak menemukan rujukan dalam berbangsa dan bernegara saat ini, kita bisa menjadikan Ibarahim sebagi panutan. Pengorbanan, kepatuhan, kepekaan sosial, serta menundukkan nafsu kebinatangan adalah aksi konkrit yang bisa kita lakukan dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Facebook Comments